Internasional

Khamenei Serukan Lagi Slogan Paling Produktif untuk Mengancam Amerika

Share the knowledge

 

Ayatullah Ali Khamenei (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=NPg-qYzmSsI)

Ayatullah Ali Khamenei (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=NPg-qYzmSsI)

Menyebut AS sebagai negara pembuat krisis dan penghasut perang, pemimpin tertinggi Iran telah menetapkan salah satu slogan paling produktif di negaranya untuk melawan Amerika Serikat (AS). Apakah slogan itu?

Slogan ini telah ada sejak Iran selalu merayakan peringatan 40 tahun Revolusi Islam yang menggulingkan monarki yang didukung Barat, yakni “Kematian untuk Amerika”. Namun Khamenei harus bersibuk-sibuk menjelaskan bahwa teriakan slogan itu tidak ditujukan kepada rakyat AS.

Pada hari Jumat (8/2/2019),  dilansir Newsweek, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan seruan “tanda tangan” ini ditujukan kepada pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, penasihat keamanan nasional John Bolton, dan Sekretaris Negara, Mike Pompeo. Dia berargumen bahwa AS adalah perwujudan kejahatan, kekerasan, pembuat krisis, dan penghasut perang.

Khamenei mengatakan pada pertemuan angkatan Udara, “Pertama-tama, saya ingin memberi tahu orang-orang Amerika bahwa ‘Kematian bagi Amerika’ berarti ‘Kematian bagi Trump, Bolton dan Pompeo’. Itu berarti ditujukan kepada politisi Amerika sebagai yang bertanggung jawab, yang saat ini diwakili oleh orang-orang tersebut.”

“Kematian bagi Amerika berarti kematian bagi segelintir penguasa Amerika yang menjalankan negara itu. Kami tidak memiliki perjuangan untuk memilih rakyat Amerika,” tambahnya. Selama AS menunjukkan kekejamannya, lanjut Khamenei, slogan “Kematian bagi Amerika” tidak akan pernah surut dari mulut bangsa Iran yang kuat.”

Postcomended   Facebook Susul Apple Bekukan Empat Laman Milik Ahli Teori Konspirasi AS #FacebookDown

Slogan yang telah dibunyikan selama empat dekade republik Muslim Syiah revolusioner ini berdiri, telah digambarkan di AS sebagai seruan untuk kehancuran total dan simbol abadi dari permusuhan abadi antara dua negara dengan sejarah yang sulit.

Pemimpin pra-revolusioner, Shah Mohammed Reza Pahlevi, adalah sekutu dekat Barat. Ketika perdana menteri yang terpilih secara demokratis kala itu berusaha menasionalisasi cadangan minyak negara pada 1953, CIA membantu Shah melakukan kudeta dan menginstall ulang kerajaan.

Sejak itu Shah memerintah selama seperempat abad sebelum terjadi pemberontakan tahun 1979, di mana para diplomat dan staf AS ditangkap dan disandera di kedutaan Washington di Teheran selama 444 hari. Perseteruan yang sudah berlangsung lama antara kedua negara ini, sempat terputus oleh perjanjian kesepakatan nuklir pada 2015.

Akan tetapi perjanjian itu ditinggalkan Mei 2018 lalu oleh Trump, karena menuduh Iran diam-diam tetap mengembangkan senjata nuklir. Iran tentu saja menyangkal. Namun Trump tetap menerapkan sanksi baru yang memaksa negara-negara dalam kesepakatan itu untuk memutus kerjasama ekonomi dengan Iran.

Postcomended   Donald Trump: Kebakaran California Gara-gara Dedaunan Tidak Disapu

Meskipun keduanya menentang kelompok militan Negara Islam (ISIS), AS dan Iran telah mendukung kekuatan politik yang berlawanan di seluruh kawasan (seperti di Suriah atau Yaman) dan menuduh satu sama lain mengejar agenda yang tidak stabil.

Trump telah mendorong men-skalakan kembali banyak konflik AS yang tumpang tindih di luar negeri, tetapi Bolton dan Pompeo adalah di antara mereka yang telah berusaha memperluas operasi ini untuk mengisolasi Iran.

Trump mendedikasikan sebagian dari pidato kenegaraannya Rabu (6/2/2019) untuk menyerang “rezim radikal di Iran” yang ditanggapi oleh Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dengan menulis di akun Twitter-nya  bahwa, “Sikap permusuhan AS telah memimpinnya untuk mendukung para diktator, tukang daging dan ekstremis, yang  hanya membawa kehancuran ke wilayah kami.”

Hari berikutnya, Pompeo mengatakan kepada Fox News Business bahwa AS sedang dalam proses pembentukan koalisi Arab yang mirip dengan aliansi militer Barat NATO untuk melawan Iran. AS diatur untuk menjadi tuan rumah bersama KTT dengan Polandia minggu depan di Warsawa untuk membahas Iran.

Postcomended   Kemesraan Trump dan Putin Patahkan Hati Pemberontak Suriah

Uni Eropa dan ketiga anggotanya (Prancis, Jerman, dan Inggris) yang menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran tahun 2015, telah berupaya menyelamatkan perjanjian tersebut segera setelah AS memutuskan keluar secara sepihak. Bagaimana pun ketiga negara Eropa ini memiliki perjanjian dagang penting dengan Iran.

Demi tetap berjalannya perdagangan dengan Teheran, kekuatan-kekuatan Eropa ini meluncurkan inisiatif yang dikenal sebagai “Kendaraan Tujuan Khusus”. Ini dilakukan untuk menghindari sanksi AS dan terus berdagang dengan Teheran.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top