Dikonduktori Amerika Serikat (AS), duo Korea saling ancam. Latihan militer tahunan antara Korea Selatan dan AS pekan lalu, dianggap Korea Utara sebagai ancaman invasi. Pyongyang pun balik menggertak dengan meluncurkan rudal balistik yang melewati udara Jepang, Selasa (29/8/2017). Seoul keder juga, hingga bocorlah kabar bahwa negeri ini tengah menyusun rencana membunuh diktator “ingusan” tersebut. Seorang anggota parlemen Korea Selatan mengatakan, Kim Jong Un kini hidup dalam ketakutan akan dibunuh. 

Selasa dini hari seperti diberitakan CNN, otoritas di satu wilayah di Hokkaido, mengumumkan lewat pengeras suara agar warga waspada setelah Korea Utara (Korut) meluncurkan rudal balistiknya melalui angkasa pulau kedua terbesar di Jepang ini.

Rudal itu dilepas Korut untuk “membalas” latihan militer gabungan tahunan antara Korea Selatan (Korsel), AS, dan beberapa negara Pasifik. Kementerian Pertahanan Korsel menyebutkan, latihan militer bersandi “The Ulchi-Freedom Guardian” ini melibatkan sekitar 17.500 tentara AS.

Postcomended   Sebuah Rekaman Mengungkap Donald Trump Akui Ivana Ingin Singkirkan Adik Tirinya

Pyongyang menganggap latihan kali ini sebagai persiapan invasi terhadapnya. Para analis pun melihat bahwa apa yang disebut sebagai “latihan defensif” itu sebenarnya merupakan “misi pemenggalan kepala” Kim Jong Un.

Para pemimpin pertahanan di Seoul, Ibu Kota Korea Selatan, dilaporkan tengah menyusun rencana untuk membunuh Kim. Rencana itu merupakan reaksi kecemasan Korsel jika Korut meluncurkan serangan.

Menurut sebuah dokumen pemerintah yang dilaporkan di media Korsel, seperti dilansir The Independent, Kamis (31/8/2017), Seoul tengah melatih pasukan khusus untuk melacak dan membunuh Kim dan penasihat terdekatnya.

Postcomended   Phinisi Wonderful Indonesia Ikut ‘Berlayar’ ke Wonderful Sabang & Marine Expo 2017

Ancaman ini adalah bagian dari strategi Seoul untuk “beralih ke posisi ofensif” jika Korut menyerang para jirannya di Semenanjung Korea. Beberapa analis mengatakan, Seoul seolah percaya bahwa jika Kim dibunuh atau ditangkap, Korut akan menyerah.

Pasukan khusus itu juga antara lain dibentuk untuk memusnahkan fasilitas peluncuran senjata nuklir dan rudal Korut. Seoul membahas strategi ini sehari sebelum Pyongyang melepaskan rudal balistik yang melewati udara Jepang, Selasa lalu.

Kabar ketakutan Kim akan dibunuh sebenarnya telah lama beredar. Foxnews melaporkan pada Juni lalu bahwa ketakutan Kim beralasan.

Berbicara pada The Korea Herald, Lee Cheol-woo, seorang anggota parlemen utama Korsel, menyebutkan, penguasa Korut generasi ketiga berusia 33 tahun ini “sangat gugup” ihwal satu rencana klandestin untuk menculiknya.

Ketua komite intelijen parlemen Korsel ini membuat klaim berdasarkan laporan dari badan intelijen Korea Selatan. “Kim sibuk mengumpulkan informasi tentang ‘operasi pemenggalan kepala’ melalui badan intelijennya,” kata Lee. ***

Postcomended   Malala Desak Sejawatnya Sesama Peraih Nobel agar Kutuk Kekerasan pada Rohingya

Share the knowledge