Warga Provinsi Xinjiang China Harus Serahkan Paspor detikNews976 × 549Search by image Xinjiang, Uighur, Cina

Warga Provinsi Xinjiang China Harus Serahkan Paspor detikNews976 × 549Search by image Xinjiang, Uighur, Cina

Cina mendesak keras agar Thailand memulangkan 62 lelaki dan perempuan etnis Uighur pencari suaka. Thailand dilema. Dalam kasus pemulangan 100 warga Uighur yang kabur ke Thailand pada Juli 2015, hubungan Thailand dengan negara-negara muslim khususnya Turki, memanas. Waktu itu Thailand ogah memberi suaka kepada mereka. Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) mencemaskan warga Uighur yang dipulangkan akan dieksekusi mati.

Ke-62 orang etnis Uighur itu merupakan bagian terakhir dari lebih 350 orang yang ditemukan di Thailand selatan pada 2014. Mereka ingin melanjutkan perjalanan ke Turki.

Etnis Uighur umumnya muslim dan keturunan Turki. Mereka warga minoritas di provinsi Xinjiang, Cina barat. Kelompok-kelompok HAM mengatakan, pergolakan di provinsi itu dalam beberapa tahun ini membuat pemerintah Cina menumpas mereka.

Kelompok-kelompok HAM itu menuduh Beijing melakukan diskiriminasi etnis, penindasan keras terhadap agama, dan penumpasan budaya. Sementara Beijing menuduh kelompok etnis Uighur mempunyai hubungan dengan organisasi separatis dan teroris seperti negara Islam.

Ratusan etnis Uighur bermigrasi ke seluruh Asia Tenggara dalam upaya mencapai Turki yang mempunyai penduduk etnis Uighur terbesar.

Postcomended   Perang Narkoba Duterte: Warga Jadi "Pembunuh Bayaran" Demi 5,5 Juta

Mengutip dari Merdeka.com, saat kasus pemulangan 100 orang Uighur pada Juli 2015, Channel News Asia melaporkan, kedutaan Thailand di Ibu Kota Ankara, Turki, ditutup karena diprotes ribuan orang yang melempari kaca jendela kedutaan hingga pecah.

Di sisi lain, Cina memuji keputusan Thailand. Beijing menuding imigran Uighur itu ingin bergabung dengan ISIS.

Diskriminasi

Ada 20 juta muslim di Cina termasuk etnis Hui yang nenek moyangnya antara lain adalah Laksamana Cheng Ho. Namun warga Uighur dilaporkan menerima tekanan lebih besar dari pemerintah Cina dibanding etnis lainnya. Mereka misalnya dilarang berpuasa.

Global Voices melansir, kecurigaaan Beijing terhadap etnis Uighur berakar sejak dua abad lalu. Wilayah Xinjiang baru tunduk pada ekspedisi militer Dinasti Qin pada 1750. Selama berabad-abad mereka hidup mandiri tanpa tunduk pada kekuasaan manapun. Apalagi penampakan warga Uighur berkulit putih ketimbang kuning, dan secara budaya lebih dekat pada ras Turkistan.

Ketika pecah perang dunia, warga Xinjiang berusaha bergabung dengan Soviet. Namun pasukan kiriman Beijing berhasil memaksa warga Uighur bertahan dalam wilayah kedaulatan Republik Rakyat Cina pada 1949.

Postcomended   Donald Trump Ogah Ikut Turunkan Suhu Bumi

Sejak itu, warga Uighur dicap Beijing memiliki kecenderungan memberontak. Kebijakan ekonomi Cina yang mengutamakan etnis Han memperburuk keadaan. Itu belum termasuk diskriminasi lain seperti dipersulit membuat paspor. Kondisi ini membuat etnis Uighur kian memberontak.

Beijing membantah tudingan dunia internasional ihwal segala diskriminasi terhadap warga Uighur. “Warga Uighur hidup dan bekerja dalam keadaan damai. Mereka menikmati kebebasan beragama di bawah konstitusi Cina,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying.

Sementara itu, dalam acara Nahdlatul Ulama pada 6 Juli 2015, Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xie Feng, menyatakan, isu muslim Uighur dilarang berpuasa hanyalah propaganda Inggris dan Amerika Serikat.

Juru bicara Organisasi Kongres Uighur Sedunia (WUC) yang berpusat di Jerman, Dilxat Raxit, menyerang pembelaan Beijing. Dia mengaku punya setumpuk bukti Cina menindas muslim Uighur secara sistematis bertahun-tahun.

Bangsa Uighur adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di provinsi Xinjiang, Cina. Namun sejarah etnis Uighur menyebut daerahnya itu Uighuristan atau Turkestan Timur.

Dari Republika online, bangsa Uighur merdeka menurut sejarah telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat dipisahkan dari Cina.

Postcomended   22, 23, 24 Agustus dalam Sejarah: Usai Singgah di Bandung, Amelia Earhart Hilang

Uighuristan merupakan tanah subur dengan luas hampir 1/6 wilayah Cina, berjarak 1.500 mil dari Beijing. Di utara, tanah Uighur berbatasan dengan Kazakstan; Mongolia di timurlaut; Kirghiztan dan Tajikistan di barat laut; dan dengan Afghanistan dan Pakistan di barat daya. ***(ra)