Keluarga

Konsumsi Antibiotik Melonjak, Wabah “Superbugs” Mengancam Dunia

Perspektive domaće farmaceutske industrije: Patentirani lekovi gube trku | Biznis i Finansije bif.rs Međunarodni tender za dostavljanje pisma o namerama za strateško partnerstvo za Galeniku Vlade Srbije je raspisala još 15. januara. Rok za prijavu je bio najpre 18. februar, a rok za dostavljanj...

Perspektive domaće farmaceutske industrije: Patentirani lekovi gube trku | Biznis i Finansije bif.rs Međunarodni tender za dostavljanje pisma o namerama za strateško partnerstvo za Galeniku Vlade Srbije je raspisala još 15. januara. Rok za prijavu je bio najpre 18. februar, a rok za dostavljanj…

Konsumsi antibiotik telah melonjak secara global sejak tahun 2000, sebuah penelitian mengungkapkan. Hal ini memicu kekhawatiran di seluruh dunia bahwa pengendalian “superbugs”, bakteri yang resisten terhadap antibiotik, akan lepas kendali. Di Indonesia, seorang artis bernama Nadia Vega, dilaporkan pernah menderita serangan “superbugs”.

Kondisi ini memunculkan tuntutan agar kebijakan baru dibuat untuk mengendalikannya. Pada 2016, dilaporkan setidaknya ada 700 ribu kematian terkait infeksi yang resisten terhadap obat.

Dilaporkan AFP, satu penelitian berdasarkan data penjualan untuk 76 negara yang terungkap dalam Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS), menunjukkan bahwa konsumsi antibiotik meningkat 65 persen sejak 2000-2015, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Tim peneliti yang dipimpin para ilmuwan dari Universitas Johns Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat (AS), dan Pusat untuk Dinamika Penyakit, Ekonomi dan Kebijakan yang berbasis di Washington DC, mengatakan bahwa negara-negara perlu berinvestasi dalam perawatan alternatif, sanitasi dan vaksinasi.

“Dengan konsumsi antibiotik yang meningkat di seluruh dunia, tantangan yang ditimbulkan oleh resistensi antibiotik kemungkinan akan memburuk,” kata para penulis studi, yang diterbitkan PNAS dalam edisi Senin (26/3/2018).

Mereka mengatakan, resistensi antibiotik didorong oleh konsumsi antibiotic. Dan ini merupakan ancaman kesehatan yang berkembang secara global. “Seperti halnya perubahan iklim, mungkin ada titik kritis yang tidak diketahui, dan ini bisa menandai masa depan tanpa antibiotik yang efektif.”

Di 76 negara yang diteliti, jumlah yang disebut “dosis harian yang ditentukan” yang dikonsumsi, meningkat dari 21,2 miliar pada 2000 menjadi 34,8 miliar pada 2015.

Eili Klein, peneliti di Pusat Dinamika Penyakit, Ekonomi dan Kebijakan, dan salah satu penulis studi itu mengatakan, lompatan konsumsi itu menandakan adanya peningkatan akses ke obat-obatan yang dibutuhkan di negara-negara dengan banyak penyakit yang dapat diobati secara efektif oleh antibiotik.

Klein pun memperingatkan, semakin banyaknya negara mendapatkan akses ke obat-obatan ini, angka konsumsi otomatis akan meningkat dan akan mendorong tingkat resistensi lebih tinggi.

Satu kelompok ahli yang dibentuk di Inggris pada 2014 memperkirakan, pada 2016 setidaknya ada 700 ribu kematian terkait infeksi yang resisten terhadap obat.

Selama periode 16 tahun yang diteliti, peningkatan konsumsi antibiotik terjadi di tiga negara dengan penggunaan tertinggi: Amerika Serikat, Prancis, dan Italia.

Namun kenyataannya, di Asia dilaporkan konsumsi antibiotik mencapai lebih dari dua kali lipat. Di India misalnya, melonjak 79 persen, di Cina dan Pakistan naik 65 persen. “Perkiraan bahwa 30 persen penggunaan (antibiotik) terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, ternyata tidak tepat,” kata Klein kepada AFP.

Ketiga negara Asia tersebut adalah pengguna terbesar antibiotik di antara negara-negara yang dianggap berpenghasilan rendah dan menengah untuk tujuan penelitian.

Ketiganya juga adalah negara-negara yang menderita di beberapa daerah akibat sanitasi yang buruk, akses tidak teratur ke vaksin, dan kurangnya air minum bersih; semua kondisi yang memungkinkan penyakit infeksi, dan infeksi yang resistan terhadap obat, menyebar.

“Diperlukan pemikiran ulang yang radikal terhadap kebijakan untuk mengurangi konsumsi (antibiotik), termasuk investasi besar dalam peningkatan kebersihan, sanitasi, vaksinasi, dan akses ke alat diagnostik untuk mencegah penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan untuk mengurangi beban penyakit infeksi,” kata studi tersebut.

Menurut Klein, menghilangkan kebiasaan terlalu sering menggunakan antibiotik, harus menjadi langkah pertama dan prioritas untuk setiap negara, terlebih mengingat ada proyeksi yang mengkhawatirkan bahwa pada 2030 konsumsi antibiotik mungkin akan meningkat lagi sebesar 200 persen.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top