Tragedi Minamata 1956. Anak-anak paling rentan terkontaminasi racun merkuri (https://cdn-ak.f.st-hatena.com/images/fotolife/e/e-vis/20170506/20170506002305.jpg)

Tahun 1956, ribuan penduduk di Teluk Minamata, mengalami kerusakan otak berat. Penyebabnya, mereka mengonsumsi ikan yang tercemar merkuri dan terakumulasi puluhan tahun dalam tubuh. Faktanya, limbah industri telah dibuang ke teluk itu selama lebih dari 20 tahun sebelumnya. Pada 2013, sebanyak 128 negara menandatangani Konvensi Minamata. Baru 74 yang meratifikasinya. Indonesia termasuk yang belum.

Rabu, 16 Agustus 2017, perjanjian global di bawah PBB untuk menyelamatkan jutaan orang dari bahaya keracunan merkuri tersebut, mulai berlaku.

Perjanjian tersebut mengharuskan negara-negara menghentikan penambangan merkuri, mengurangi penggunaan merkuri dalam industri, dan mengurangi emisi gas buang.

Negara-negara yang sudah menandatangani perjanjian harus memenuhi persyaratan keras untuk menyimpan dan membuang limbahnya dengan aman.

Indonesia sendiri baru bersiap meratifikasi (mengesahkan) konvensi tersebut. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, meminta agar ratifikasi konvensi ini dilakukan sebelum Conference of the Parties yang pertama (COP-1) Minamata Convention pada tanggal 24-29 September 2017 mendatang.

Postcomended   Mahfud MD: Yang Menyebut Gedung DPR Miring lah yang "Miring"

“Ini adalah bentuk tanggung jawab pemerintah untuk melindungi masyarakatnya,” ujar Siti. Jika ratifikasi sudah dilakukan, Indonesia akan terikat dalam hal standar perdagangan, produk dan prosesnya, pertambangan emas skala kecil, pengelolaan limbah merkuri, pendanaan, dan transfer teknologi.

Merkuri alias air raksa umumnya digunakan dalam baterai, lampu neon, pembuatan kain beludru, termometer, dan barometer. Namun penggunaan bahan itu kini telah berangsur-angsur dikurangi.

Dalam banyak kasus, merkuri juga dijadikan bahan kosmetik untuk memutihkan kulit karena sifatnya yang mengiritasi sehingga seolah memutihkan kulit.

Dalam kasus penambangan emas, merkuri digunakan untuk memisahkan emas dari partikel lainnya. Praktik ini umumnya dilakukan penambang rakyat/kecil/ilegal.

Merkuri tergolong logam berat yang sangat beracun. Senyawa ini tidak bisa terurai oleh reaksi kimia apapun. Sekali masuk ke tubuh, seumur-umur akan berada di dalam tubuh.

Jika kandungan merkuri di tubuh melebihi ambang batas, dia akan menyerang sistem syaraf, menyebabkan kerusakan otak (adanya ketidakseimbangan koordinasi antara otak dan organ tubuh), terjadi penurunan fungsi mental, menyebabkan disfungsi ginjal, menimbulkan masalah-masalah emosional serius, koma, hingga kematian.

Postcomended   Pendiri Tesla dan DeepMind Desak PBB Cegah Pengembangan Robot Pembunuh

Ciri umum jika seseorang terpapar merkuri, antara lain: sulit tidur, sakit kepala, dan sering kesemutan. Anak-anak khususnya, sangat rentan terkena dampak air raksa.

Air raksa terbentuk secara alami di alam, tetapi juga dibuat oleh manusia untuk keperluan industri. Sementara itu PBB mengatakan, “Air raksa tidak memiliki ambang batas aman dan dan tidak ada obat untuk mengobati keracunan air raksa.”

Dampak pencemaran biota laut oleh merkuri diduga terjadi di Teluk Buyat, Sulawei Utara, pada 2004, bahkan menurut situs Mongabay, sampai memakan korban jiwa.

Korban tewas diduga terpapar limbah PT Newmont Minahasa Raya (NMR) yang mencemari laut.

Pihak PT NMR –yang diketahui telah beroperasi di perairan Buyat sejak 1996– menolak tuduhan. Kalaupun terjadi pencemaran, mereka menuding penambang emas ilegal lah pelakunya. Selain itu, sejumlah pihak sempat menyangsikan warga terserang penyakit tak lazim akibat laut yang tercemar merkuri.

Postcomended   Leonardo DiCaprio: Susi Pemimpin yang Dibutuhkan Seluruh Dunia

Namun Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) membuktikan bahwa di dalam tubuh warga terdapat kandungan dalam batas tak wajar, yakni melebihi 8 mikrogram per liter..***(ra)