Kopi dalam terminologi kekinian telah beralih makna menjadi tak sekadar minuman. Ia menjadi sebuah kata kerja. Kopi adalah simbol laku sosial masyarakat tentang duduk, minum, dan berbincang-bincang.

Hal itu diperkuat oleh adanya yang disebut dengan kopi gelombang ketiga. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Thrish Rothgeb pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters pada 2002. Pada artikel yang dipublikasikan oleh Roaster Guild, The Flamekeeper, Rothgeb mendefinisikan ada tiga pergerakan di dalam dunia kopi dan menyebutnya dengan istilah “gelombang” atau “waves”. Melalui pengertian tersebut, “third wave” menjadi istilah yang popular hingga sekarang.

Pada era Third Wave Coffee proses produksi terhadap kopi terasa lebih transparan. Para konsumen dengan mudah mampu mengetahui dari mana sebuah biji kopi berasal, bagaimana biji tersebut diproses dan kelak dengan apa kopi tersebut disajikan. Di era ini istilah single origin mulai muncul.

Rasa ingin tahu yang lebih besar membuat tradisi ngopi penuh dengan pembicaraan tentang kopi itu sendiri. Pada tahun 1450-an di Turki, kedai kopi mulai menjamur. Para politikus, filsuf, seniman, pendongeng, pelajar, wisatawan, hingga pedagang ngopi sambil menonton pertunjukan musik. Mereka juga kerap mendiskusikan soal-soal politik, sosial, dan keagamaan sambil minum kopi.

Postcomended   Indonesia Belajar Minum Kopi Tanpa Ampas (2)

Dari tahun 1800-an hingga pertengahan abad ke-20, kedai-kedai kopi dikenal karena budaya, intelektualitas, dan politik di dalamnya. Kedai kopi dijadikan sarang seniman, mahasiswa, jurnalis, politisi dan para pemikir penting pada masa itu. Dari wanita pejuang hak pilih hingga para nihilis, semua gerakan sosial menemukan rumahnya di dalam kedai kopi sederhana.

Pada awal abad ke-20, Bogota merupakan sebuah kota metropolis yang sangat berkembang. Konstruksi kota sedang panas-panasnya. Orang-orang di jalan seakan memancarkan kelas dan intelektualitas. Kedai-kedai kopi ini seolah berfungsi sebagai kuil duniawi. Pusat berpikir, di mana orang-orang dapat mendiskusikan berita internasional terkini, gerakan politik, karya seni, dan segala urusan publik.

Kopi gelombang ketiga membuat kopi lebih intim dengan konsumen. Di berbagai pelosok Indonesia telah tumbuh tren kedai kopi sebagai wadah berkumpul dan diskusi—tertata maupun tidak. Di era ini—ketika masyarakat banyak membicarakan soal politik alias lepas dari sikap apatis khas perkotaan—kedai kopi pelan-pelan telah kembali pada khitahnya.

Postcomended   Indonesia Belajar Minum Kopi Tanpa Ampas

Di kota Palu, Sulawesi Tengah, berdiri sebuah kedai kopi sederhana. Sang pemilik memberinya nama Kopitaro. Kopitaro tanpa disadari tumbuh menjadi sebuah ruang publik yang berguna bagi interaksi sosial anak muda Palu. Di sana, muncul keberagaman dan diskusi tentang realitas.

Kopitaro, Palu, menjadi ruang temu berbagai opini – dokumentasi instagram @kopitaro

“Kebanyakan warkop (warung kopi) di Palu biasanya dipenuhi pejabat-pejabat dan orang-orang partai,  atau pekerja swasta lainnya.  Kalo untuk anak muda jarang saya temui seperti di Kopitaro gitu.” Ujar Gunawan, pemuda penyeduh kopi yang belajar dari nol tentang kopi di Kopitaro.

Kopitaro berdiri tahun 2016. Semangat pendiriannya adalah semangat intelektual, sebab selain kopi, Kopitaro juga menyediakan ruang diskusi yang hangat bagi pendatang baru maupun langganannya. Sang pemilik, Sabda Tarotinarta adalah seorang dosen muda Universitas Tadulako yang menyadari betul bahwa anak muda butuh ruang diskursif. Maka ia senantiasa berada di Kopitaro untuk membuka diri terhadap isu-isu yang sedang hangat di kalangan anak muda.

Ketika kemudian bermunculan kedai kopi lain di Palu, Kopitaro mempertahankan relasi persaingan sehat sesama pemilik dan penyeduh kopi. Mereka membentuk semacam kesatuan yang saling melengkapi demi perkembangan kota yang sensitif perpecahan antar-kelompok. Kopi menjadi semacam pemersatu bagi setiap perbedaan yang ada.

Postcomended   Agar Tetap Bugar Saat Puasa, Banyaklah Minum

Tentu ruang seperti Kopitaro semakin dibutuhkan di kota-kota besar. Utamanya sebagai ruang deliberasi yang bermanfaat bagi peradaban manusia sebagai makhluk rasional. Kafein dalam kopi sungguh teman yang baik bagi aktivitas berpikir.***