Korea Selatan Cabut Larangan Aborsi Setelah 66 Tahun

Nasional
Share the knowledge

Korea Selatan bakal sahkan aborsi mulai 31 Desember 1920 (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=tL_R0y1Utnw)
Korea Selatan bakal sahkan aborsi mulai 31 Desember 1920 (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=tL_R0y1Utnw)

Para pendukung pro-pilihan di Korea Selatan (Korsel) meraup kemenangan besar setelah Mahkamah Konstitusi (MK) negara itu mencabut “larangan aborsi” pada akhir 2020. Larangan aborsi telah diadopsi negeri ginseng ini selama 66 tahun.

Diperlukan hanya enam suara hakim untuk membatalkan larangan tersebut. Namun dalam sidang Kamis (11/4/2019), dilansir CNN, ada tujuh dari sembilan hakim MK yang memutuskan bahwa aborsi yang dilarang adalah tidak konstitusional.

Anggota parlemen Korsel sekarang memiliki waktu hingga 31 Desember 2020 untuk merevisi undang-undang tersebut. Namun aborsi untuk kehamilan yang telah berusia 20 minggu, akan tetap ilegal.

Sebelumnya, wanita yang melakukan aborsi di Korsel bisa menghadapi satu tahun penjara dan dapat didenda hingga dua juta won (sekitar Rp 25 juta). Dokter atau petugas kesehatan yang membantu mengakhiri kehamilan juga bisa dipenjara hingga dua tahun.

Postcomended   Usai Cempaka dan Dahlia, Siklon Berikutnya Mungkin Berawalan Huruf E

Tiga perempat wanita berusia 15 hingga 44 menganggap hukum larangan adopsi tersebut tidak adil, menurut hasil survei yang dirilis tahun ini oleh Institut Kesehatan dan Sosial Korea. Sekitar 20% responden mengatakan mereka melakukan aborsi meskipun itu ilegal.

Namun, tekanan baru-baru ini untuk mendekriminalisasi praktik tersebut, telah mendorong mundurnya kelompok-kelompok konservatif dan keagamaan, yang beberapa di antaranya memiliki kaitan dengan kampanye anti-aborsi Amerika Serikat (AS).

Menurut Departemen Kesehatan, 50 ribu wanita melakukan aborsi di Korea Selatan pada 2018. Jumlah ini turun dari 168 ribu pada 2011, menurut data resmi. Tetapi banyak dokter membantah angka-angka ini dengan mengatakan kriminalisasi praktik tersebut telah menyimpangkan pelaporannya.

Postcomended   INDUSTRI RUMAHAN MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN KAUM PEREMPUAN

Mereka memperkirakan angka aktual bisa 10 kali lebih tinggi dari yang dicatat oleh pemerintah. Pada 1953, Korea Selatan mengkriminalisasi aborsi, dengan pengecualian diberikan pada kasus-kasus yang melibatkan pemerkosaan, inses, dan cacat genetik.

Tetapi pada tahun-tahun berikutnya, undang-undang tersebut tampaknya dianggap bertentangan dengan kebijakan pemerintah lainnya, norma social, dan kemajuan teknologi.  Pada 1960-an, misalnya, pemerintah meluncurkan kampanye mengurangi jumlah anak per rumah tangga, dalam upaya untuk mengendalikan jumlah populasi.

Secara tradisional, pasangan Korea Selatan lebih memilih anak laki-laki daripada anak perempuan, karena mereka dapat membawa nama keluarga. Mereka akan terus beranak sampai mereka memiliki anak laki-laki. Kebijakan baru yang dikombinasikan dengan larangan aborsi membuat mereka memiliki lebih sedikit opsi hukum.***


Share the knowledge

Leave a Reply