ICO / Initial Coin Offering - The Hot Trend in Startup Fundraising ... YouTube1280 × 720Search by image ICO / Initial Coin Offering - The Hot Trend in Startup Fundraising

ICO / Initial Coin Offering – The Hot Trend in Startup Fundraising … YouTube1280 × 720Search by image ICO / Initial Coin Offering – The Hot Trend in Startup Fundraising

Korea Selatan mencontoh apa yang dilakukan Cina: melarang semua kegiatan “penawaran coin perdana” (initial coin offering/ICO). Otoritas Jasa Keuangan Korea Selatan pada Jumat (29/9/2017) mengambil keputusan untuk melarang semua bentuk aktivitas pengumpulan uang berbasis mata uang digital (semacam bitcoin) ini.

Lembaga itu mengatakan pihaknya sangat prihatin melihat fakta bahwa dana yang beredar di pasar saat ini didorong ke arah spekulasi yang tidak produktif.

Business Insider melaporkan, awal bulan ini Korea Selatan (Korsel) sedang mempertimbangkan tindakan yang serupa dengan yang dilakukan Amerika Serikat (AS), Cina, dan Singapura.

Cina misalnya melarang ICO karena khawatir mata uang digital yang ditawarkan pada ICO akan merusak sistem keuangan negara.

ICO adalah sarana bagi perusahaan startup atau bahkan perusahaan mapan, untuk mengumpulkan uang dengan menerbitkan mata uang digital baru, mirip bitcoin. Namun, mata uang baru ini –yang jumlahnya lebih dari 800 sampai saat ini– sangat bergejolak dan pemiliknya sering hanya memiliki sedikit hak terkait dengan investasi mereka.

Postcomended   Idap Bipolar, Sinead O'Connor Unggah Video di Facebook, Mengatakan Sedang Bunuh Diri

Akan tetapi ICO telah menjadi salah satu metode penggalangan dana paling “hot” pada 2017. Dengan menggunakan metode ini, nilai transaksi mata uang digital saat ini meningkat hingga lebih dari 2 miliar dolar AS.

Regulator Korsel melihat ada risiko sangat besar jika ini dibiarkan. Salah satu yang terjadi adalah muncul banyak startup yang melakukan ICO dan memengaruhi orang awam untuk berinvestasi pada rencana bisnis yang tidak jelas. Bahkan ada juga yang memang sengaja menipu orang-orang.

Kenaikan nilai tukar mata uang digital memang mencemaskan. Kompas melansir dari Techcrunch, pada Agustus lalu dalam waktu singkat nilai tukar 1 bitcoin naik menjadi 4.135 dollar AS atau setara Rp 55,1 Juta.

Postcomended   Usaha Empat Anak Muda ini Kini Dikuasai Grup Djarum

Pada 12 Agustus 2017, nilai tukar satu bitcoin masih di bawah 3.700 dolar AS atau sekitar Rp 49,3 juta. Selang dua hari nilainya naik menjadi 4.135 dolar AS atau sekitar Rp 55,1 juta, dan masih melaju.

Kenaikan nilai tukar bitcoin antara lain karena meningkatnya kepercayaan orang pada mata uang digital tersebut. Bursa Wall Street bahkan tampak mulai terobsesi pada bitcoin. Selain itu juga disebabkan ramainya startup yang melakukan ICO.

Situs Blog.bitcoin.co.id menulis, bitcoin adalah mata uang virtual atau digital yang dikembangkan pada tahun 2009 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Pengiriman uang dengan bitcoin bisa hanya dengan modal sebuah smartphone dan koneksi internet.

Biaya pengiriman bisa dihilangkan. Namun untuk mempercepat transaksi, biasanya dompet bitcoin pengguna akan memotong biaya sekitar Rp 500-3.000, berapapun jumlah uang yang dikirim.

Pengguna bisa merahasiakan identitasnya, namun semua transaksi tetap tercatat dan dapat dipantau oleh publik. Uang digital ini bersifat sangat cair, tidak terikat pemerintah atau lembaga apapun.

Postcomended   Facebook Diblokir di Cina, Zuckerberg Diam-diam Rilis "Colourfull Balloons"

Suplai Bitcoin hanya akan ada 21 juta di seluruh dunia. Sistem penciptaan Bitcoin yang terus berkurang setiap 4 tahun sekali ini menyerupai sistem ekonomi berdasarkan deflasi. Dengan makin terbatasnya suplai bitcoin, harga bitcoin cenderung naik.***

 

Share the knowledge