Loading...
Internasional

Kurang 9.000 Langkah Sehari Dapat Memperlambat Alzheimer

Share the knowledge

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=D1pOI4YPAWA)

Kurang dari 9000 langkah per hari, perlambat penurunan fungsi kognisi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=D1pOI4YPAWA)

Para ilmuwan percaya bahkan olahraga dalam jumlah sedang dapat memperlambat penurunan kognitif pada orang yang berisiko Alzheimer. Dengan sekitar 8.900 langkah per hari, laju penurunan kognitif dan kehilangan volume otak pada yang berisiko tinggi, dapat diperlambat.

Hasil studi yang diterbitkan jurnal JAMA Neurology ini menemukan, individu dianggap berisiko karena kadar beta amyloid –protein yang diduga berperan dalam Alzheimer– di otak mereka.

Jasmeer Chhatwal, Asisten Profesor di Harvard Medical School dan rekan penulis penelitian, mengatakan kepada Newsweek: “Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik yang sangat dapat dicapai (berjalan 8.900 langkah) dapat melindungi mereka yang berisiko tinggi mengalami penurunan kognitif,” kata Chhatwal.

Efek ini, lanjut Chhatwal, dapat ditambah lebih lanjut dengan menurunkan risiko penyakit vascular (terkait jantung). “Faktor risiko pembuluh darah termasuk tekanan darah tinggi, obesitas, merokok, dan diabetes,” jelasnya.

Hasil ini, kata Chhatwal menggarisbawahi bahwa sangat mungkin ada faktor yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko penurunan kognitif, bahkan jika sudah ada bukti penumpukan protein amyloid pun.

Para penulis makalah mempelajari 182 orang yang sehat ketika penelitian diluncurkan. Para partisipan terlibat dalam Harvard Brain Aging Study, dan mengukur kognisi mereka setiap tahun, dan volume otak mereka kira-kira setiap tiga tahun untuk periode tujuh tahun.

Postcomended   Peneliti Pelajari Mengapa Rambut Hanya Tumbuh di Tempat Tertentu Saja

Para peneliti mengatakan kepada para peserta untuk memakai pedometer selama 7 hari ketika mereka bangun, sehingga mereka dapat mendokumentasikan berapa banyak langkah yang mereka ambil.

Para peneliti menggunakan pencitraan positron emission tomography (PET) untuk memindai otak para peserta untuk protein beta amiloid. Risiko penyakit jantung mereka juga dihitung dengan memperhatikan faktor-faktor termasuk jenis kelamin mereka, IMT (inspiratory Muscle Trainer), tekanan darah, apakah mereka menderita diabetes, dan apakah mereka merokok.

Studi sebelumnya yang melibatkan hewan dan manusia menyebutkan bahwa olahraga dapat menjaga materi abu-abu di otak dan mencegah penumpukan beta amiloid, dan protein tau juga terkait dengan Alzheimer, catat para penulis.

“Banyak orang mungkin dapat mencapai tingkat aktivitas yang terlihat di sini tanpa perubahan besar pada jadwal mereka,” kata Chhatwal. Namun dia mengatakan hasilnya terbatas karena tim hanya mengukur aktivitas fisik pada awal studi dan hanya seminggu.

Postcomended   "Roma" Picu Pengakuan Maraknya Rasisme di Meksiko

Terlebih lagi, pedometer tidak mengukur intensitas atau jenis aktivitas fisik yang dilakukan peserta. “Kami berencana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam penelitian di masa mendatang,” kata Chhatwal.
Namun, dia berpendapat, karena saat ini tidak ada obat yang mengobati penyakit Alzheimer, penting untuk menemukan cara lain untuk mengubah perjalanan penyakit.

James Pickett, kepala penelitian di yayasan amal Alzheimer Society, mengatakan kepada Newsweek: “Studi ini menambah penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa orang yang lebih aktif lebih lambat mengalami pengurangan dalam memori dan keterampilan berpikir mereka ketika mereka bertambah tua, kehilangan lebih sedikit sel-sel otak, dan memiliki lebih sedikit amyloid –ciri khas penyakit Alzheimer– di otak mereka.

“Namun, ini hanya dapat menunjukkan kepada kita bahwa tingkat aktivitas fisik terkait dengan ukuran otak –itu tidak memberi tahu kita bahwa peningkatan aktivitas akan mengurangi risiko terkena demensia. Ada uji coba yang sedang berlangsung untuk melihat apakah peningkatan aktivitas dapat mencegah penurunan kognitif dan demensia, dan kami dengan sabar menunggu hasil ini –pencegahan adalah kuncinya, itulah sebabnya kami mendanai berbagai studi untuk lebih memahami berbagai faktor risiko demensia,” papar Pickett.,

Postcomended   Data Pengguna Facebook Ternyata Masih Diakses Perusahaan-perusahaan Ini

Jana Voigt, kepala penelitian di badan amal Alzheimer’s Research UK, mengatakan kepada Newsweek: “Studi ini hanya mengukur jumlah langkah setiap hari selama satu minggu, jadi kami tidak tahu seberapa aktif orang secara fisik sepanjang hidup mereka. Studi selanjutnya menggunakan Istilah data aktivitas fisik dapat menjelaskan hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan otak.”***

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top