Internasional

Lautan Memanas dengan Kecepatan yang Melebihi Dugaan

 

https://www.youtube.com/watch?v=CCmTY0PKGDs

Lautan memanas adalah factor penyebab badai (gambar dari: YouTube)

Lautan memanas dengan kecepatan yang semakin mencengangkan seiring pemanasan global yang mengancam beragam kehidupan laut dan pasokan makanan utama bagi planet ini, kata para peneliti, Kamis (10/1/2019). Lautan yang memanas adalah salah satu jawaban mengapa banyak badai terjadi belakangan ini.

Temuan dalam jurnal US Science ini –yang dipimpin oleh Chinese Academy of Sciences– membantah laporan sebelumnya yang mengungkapkan apa yang disebut sebagai jeda dalam pemanasan global dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi terbaru menunjukkan tidak ada “hiatus” seperti itu yang pernah ada.

Ini meningkatkan kekhawatiran baru tentang laju perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap penyangga utama planet Bumi tersebut.

“Pemanasan lautan adalah indikator perubahan iklim yang sangat penting, dan kami memiliki bukti kuat bahwa pemanasannya lebih cepat dari yang kami duga,” kata rekan penulis, Zeke Hausfather, mahasiswa pascasarjana di Energy and Resources Group di University of California, Berkeley, Amerika Serikat (AS), seperti dilaporkan AFP, Jumat (11/1/2019).

Sekitar 93 persen dari kelebihan panas terperangkap di sekitar Bumi oleh gas rumah kaca yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang terakumulasi di lautan di seluruh dunia.

Postcomended   Gambar Jaringan Tikus Ini Berhasil Memukau Juri Lomba Foto Riset

Lautan yang terus memanas ini menjawab pertanyaan mengapa akhir-akhir ini sering terjadi badai, termasuk di Indonesia. Dilansir National Geographic, badai terjadi akibat panas dan udara yang lembab. Badai memindahkan panas dari permukaan laut ke atmosfer Bumi. Badai dapat melakukan perjalanan ribuan mil dari daerah tropis ke arah kutub Bumi.

Berkat Robot Mengambang

Laporan terbaru itu mengandalkan empat studi, yang diterbitkan antara 2014 dan 2017, yang memberikan perkiraan yang lebih tepat dari tren masa lalu dalam panas lautan, AFP melaporkan. Ini memungkinkan para ilmuwan memperbarui penelitian masa lalu dan mengasah prediksi untuk masa depan.

Faktor kunci dalam angka yang lebih akurat adalah armada pemantau laut yang disebut Argo, yang mencakup hampir 4.000 robot mengambang yang melayang di seluruh lautan dunia. Laporan itu mengatakan, robot-robot ini setiap beberapa hari menyelam ke kedalaman 2.000 meter dan mengukur suhu laut, pH , salinitas, dan bit informasi lainnya ketika mereka naik kembali.

Postcomended   Gelombang Panas hingga Topan yang Menerjang Jepang Bukan Bencana Biasa

“Argo telah menyediakan data yang konsisten dan luas tentang kandungan panas lautan sejak pertengahan 2000-an,” kata Hausfather. Analisis baru menunjukkan pemanasan di lautan sedang berlangsung dengan pengukuran kenaikan suhu udara.

Dan jika tidak ada yang dilakukan untuk mengurangi gas rumah kaca, kata Hausfather, model memprediksi bahwa suhu 2.000 meter teratas lautan dunia akan naik 0,78 derajat Celcius pada akhir abad ini. Ekspansi termal –pembengkakan air saat terhangatkan– akan menaikkan permukaan laut 12 inci (30 sentimeter), di atas kenaikan permukaan laut apa pun dari pencairan gletser dan lapisan es.

“Sementara 2018 akan menjadi tahun terpanas keempat pada rekor di permukaan, itu pasti akan menjadi tahun terpanas pada rekor di lautan, seperti 2017 dan 2016 sebelumnya,” kata Hausfather. Sinyal pemanasan global, kata Hausfather, jauh lebih mudah dideteksi jika berubah di lautan daripada di permukaan.***

Postcomended   Sering Mimpi Jenis Ini? Waspadai Risiko Demensia

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top