Hilang Selama 38 Tahun, Lebah Terbesar di Dunia Ditemukan Hidup di Indonesia

Nasional
Share the knowledge

 

Ahli anatomi Eli Wyman berfoto pada Januari 2019 dengan individu pertama lebah raksasa Wallace yang ditemukan kembali dari di Maluku Utara. (Credit: Clay Bolt via https://www.youtube.com/watch?v=PF1UBIPnLco)
Entomologis Eli Wyman berfoto pada Januari 2019 dengan individu pertama lebah raksasa Wallace yang ditemukan kembali di Maluku Utara. (Credit: Clay Bolt via https://www.youtube.com/watch?v=PF1UBIPnLco)

Setelah hilang selama 38 tahun dan dikhawatirkan telah punah, lebah terbesar di dunia ditemukan hidup di pulau-pulau di Maluku Utara, Indonesia. Lebah betina raksasa Wallace sebesar jempol orang dewasa ini, ditemukan tim ahli biologi Amerika Utara dan Australia.

Pemiliki nama ilmiah Megachile pluto ini ditemukan tim peneliti hidup di dalam sarang rayap di pohon, lebih dari dua meter di atas tanah. “Sungguh menakjubkan melihat ‘bulldog terbang’; serangga yang kami (sempat) tidak yakin masih ada,” kata Clay Bolt, fotografer yang memperoleh gambar pertama spesies yang masih hidup, seperti dilaporkan The Guardian.

Penampilan lebah raksasa Wallace ini tidak terlalu mencolok. Para peneliti menggambarkan lebah berwarna hitam ini memiliki ukuran empat kali lebih besar dari lebah madu, dengan rahang seperti kumbang rusa.

“Untuk benar-benar melihat betapa indah dan besarnya spesies ini dalam kehidupan, untuk mendengar suara sayapnya yang menggelegar saat terbang melewati kepalaku, sungguh luar biasa,” tambah Bolt.

Lebah raksasa betina ini dapat berukuran Panjang hampir 4cm Panjang. Pertama kali dikenal oleh ilmu pengetahuan pada 1858 ketika penjelajah dan naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, menemukannya di pulau tropis Bacan, Indonesia.

Postcomended   Karyawan KKP Didenda Rp 500 Ribu Jika Gunakan Botol Plastik

Wallace menggambarkan lebah betina ini sebagai “serangga besar, seperti tawon hitam, dengan rahang yang sangat besar seperti kumbang rusa”.

Terlepas dari ukurannya, lebah ini tetap sulit dipahami, dengan hampir tidak ada yang diketahui tentang siklus hidup rahasia betina yang melibatkan pembuatan sarang dari resin pohon di dalam gundukan rayap arboreal aktif.

Lebah ini tidak terlihat lagi oleh para ilmuwan sejak 1981, hingga Adam Messer, seorang ahli serangga Amerika, menemukannya kembali di tiga pulau Indonesia. Dia mengamati bagaimana lebah menggunakan mandibula raksasa untuk mengumpulkan damar dan kayu untuk sarangnya yang anti rayap.

Tahun lalu diketahui bahwa seorang ahli entomologi telah mengoleksi seekor lebah betina lajang pada 1991 tetapi penemuannya tidak pernah dicatat dalam jurnal ilmiah. Juga tahun lalu, spesimen mati yang baru saja dikumpulkan ditemukan di situs lelang online, tetapi penemuan kembali seekor betina hidup menimbulkan harapan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan spesies ini.

Postcomended   Memanen Realitas Hidup Masa Kini

Habitat lebah terancam oleh penggundulan hutan besar-besaran untuk pertanian. Selain itu, ukuran serta kelangkaannya menjadikannya target bagi para kolektor. Saat ini, tidak ada perlindungan hukum terkait perdagangan lebah raksasa Wallace.

Robin Moore, seorang ahli biologi konservasi dari Global Wildlife Conservation, yang menjalankan sebuah program bernama The Search for Lost Species, mengatakan: “Kita tahu bahwa mengeluarkan berita tentang penemuan kembali ini bisa tampak seperti risiko besar mengingat adanya permintaan, tetapi kenyataannya adalah bahwa para kolektor tak bermoral sudah tahu bahwa lebah ini ada di luar sana.”

Moore mengatakan sangat penting bagi para pelestari lingkungan untuk membuat pemerintah Indonesia sadar akan keberadaan lebah langka ini dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi spesies dan habitatnya.

“Dengan menjadikan lebah sebagai unggulan dunia yang terkenal untuk konservasi, kami yakin bahwa spesies ini memiliki masa depan yang lebih cerah daripada jika kita membiarkannya diam-diam dikumpulkan dan menjadi terlupakan,” katanya.***


Share the knowledge

Leave a Reply