Feed Instagram Bisa Kenali Tanda-tanda Depresi RAKYATKU TEKNO480 × 720Search by image Orang dengan depresi cenderung tidak menggunakan filter, atau menggunakan filter Inkwell, yang membuat foto terlihat hitam-putih.

Feed Instagram Bisa Kenali Tanda-tanda Depresi RAKYATKU TEKNO480 × 720Search by image Orang dengan depresi cenderung tidak menggunakan filter, atau menggunakan filter Inkwell, yang membuat foto terlihat hitam-putih.

Tanpa sadar, kita sebenarnya telah meninggalkan jejak petunjuk tentang kesehatan mental kita di media sosial khususnya Instagram. Satu riset menunjukkan bahwa kata-kata, karakter, dan bahkan emoji, dapat mengungkapkan informasi tentang suasana hati orang dan kesejahteraan mentalnya. Saat menggunggah foto di Instagram misalnya, pemilihan filter “valencia” dianggap lebih sehat daripada “inkwell”.

Bidang baru ilmu data, mencoba memahami bagaimana mendeteksi dan menafsirkan sinyal-sinyal tersebut.

Dalam studi baru yang diterbitkan di EPJ Data Science, satu jurnal terbuka, dua peneliti mengakses akun Instagram 166 sukarelawan. Kemudian mereka menerapkan ke dalam pembelajaran mesin untuk mempelajari 43.950 gambar yang mereka unggah dengan tujuan mengidentifikasi dan memprediksi depresi.

Dengan membandingkan prediksi tersebut dengan diagnosis klinis masing-masing sukarelawan, para peneliti menemukan bahwa cara ini mengungguli tingkat akurasi dokter dalam mendiagnosis depresi pada pasien.

Dengan kata lain, akun Instagram berpotensi mengungkap apakah penggunanya mengalami depresi atau tidak. Algoritma yang tepat mungkin lebih baik dalam membuat prediksi itu daripada oleh seorang dokter terlatih.

Postcomended   Berani "Menyiul" Wanita ini, Bakal Diganjar Nampang di Instagram

Chris Danforth, rekanan dalam studi ini, yang juga seorang profesor matematika, ilmu alam, dan ilmu teknik dari Universitas Vermont, AS, menyebutkan, “Dokter tidak memiliki visibilitas dalam kehidupan kita seperti yang dilakukan ponsel kita.”

“Ini memberitahu lebih banyak tentang kita daripada yang kita ketahui tentang diri kita sendiri,” imbuhnya. Namun mereka juga menyimpulkan bahwa ukuran sampel yang kecil dan kurangnya informasi demografis membuat studi ini tidak bisa digeneralisasikan untuk meneliti populasi yang lebih besar.

Dalam menentukan “diagnosis”-nya, studi ini menganalisis warna, filter, deteksi wajah, dan komentar pada foto yang diunggah.

Foto yang diunggah oleh pengguna yang depresi lebih sering lebih biru, lebih gelap, atau warna yang telah dikaitkan oleh penelitian sebelumnya dengan suasana hati yang negatif.

Mereka juga cenderung menggunakan filter Instagram, namun secara tidak proporsional memilih filter “Inkwell”; hitam-putih, saat mereka memanfaatkan fitur ini. Sebaliknya, peserta “sehat” menyukai filter “Valencia” yang berwarna terang.

Penelitian ini memberi harapan bahwa teknik algoritma bisa lebih unggul dalam mendeteksi kondisi, ketika manusia gagal melakukannya.

Menanggapi temuan ini, Glen Coppersmith, pendiri dan CEO perusahaan analisis kesehatan mental pemula, Qntfy, mengatakan, “Ada bukti anekdotal dan awal bahwa sinyal semacam ini hadir dan relevan dengan kesehatan mental.

Postcomended   Bill Gates Bikin Akun Instagram Tiga Minggu Setelah Boss Amazon

Danforth mengatakan, ia dapat membayangkan masa depan di mana orang memilih mengunduh aplikasi yang menganalisis akun media sosial mereka untuk memeriksa tanda-tanda tekanan emosional atau psikologis, lalu mengirimkan pesan itu ke dokter untuk dianalisis.

Namun kata Danfort, masih akan dibutuhkan lebih banyak penelitian dan kepercayaan dari pengguna media sosial. Sebab ini akan terkait dengan masalah privasi pengguna medsos ketika membiarkan aplikasi mengumpulkan dan menganalisis data dari medsos dalam konteks kesehatan mental.

Karena bisa saja informasi mereka misalnya digunakan perusahaan asuransi atau atasan di kantor, untuk membuat keputusan tentang premi perawatan kesehatan seseorang.

Tapi Danforth percaya temuan ini tetap penting. Menurutnya, jika ada seseorang yang berpotensi melakukan bunuh diri di tahun 2018, misalnya, potensi ini bisa dideteksi lebih cepat dengan menganalisis medsosnya daripada hanya oleh seorang psikolog.

Jika berhasil, mesin algoritma seperti ini bisa mengubah cara kita mendeteksi dan mengobati kondisi kesehatan mental di abad ke-21 ini.

Apa itu algoritma? Dikutip dari Unipdu.ac.id, algoritma berasal dari sebuah kata al-khawarizmi yang berasal dari seorang muslim yang bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad Ibnu Musa Al-Kwarizmi. Dia adalah ahli matematika dan astronomi dari Persia, dan juga merupakan penulis buku “Aljabar wal Muqobala”.

Postcomended   "Telanjang, Yuk!": Alasanku Berhenti Main Instagram

Abu Ja’far dianggap sebagai pencetus pertama algoritma karena di dalam buku tersebut dia menjelaskan langkah-langkah dalam menyelesaikan berbagai persoalan aritmatika (aljabar).

Ada beberapa definisi algoritma. Salah satunya menyebutkan, algoritma adalah penyusunan langkah-langkah penyelesaian masalah dalam bentuk kalimat dengan jumlah kata terbatas tetapi tersusun secara logis dan matematis.

Algoritma juga disebut sebagai suatu prosedur yang jelas untuk menyelesaikan suatu persoalan dengan menggunakan langkah-langkah tertentu dan terbatas jumlahnya.

Sedinisi lain menyebutkan, algoritma adalah susunan langkah yang pasti, yang bila diikuti maka akan mentransformasi data input menjadi output yang berupa informasi. ***(ra)