Novanto Sekeluarga dalam Pusaran Kasus e-KTP detikX1768 × 994Search by image

Novanto Sekeluarga dalam Pusaran Kasus e-KTP detikX1768 × 994Search by image

Demi “menampung” hasil korupsi dari proyek e-KTP, Setya Novanto (SN) diduga membentuk gurita bisnis abal-abal. Dua nama perusahaan yang diduga sengaja dibentuk terkait proyek e-KTP senilai total Rp 5,9 triliun tersebut adalah PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera. Ada nama istri, anak, hingga keponakan SN, disebut di dalamnya. Namun kedua perusahaan tersebut tak punya pegawai.

Setelah KPK resmi menahan SN, tersangka kasus korupsi e-KTP, pada Minggu malam (19/11/2017), esoknya KPK memeriksa istrinya, Deisti Astriani Tagor. KPK memeriksa Deisti sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo yang merupakan Dirut PT Quadra Solution.

 

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan, pemeriksaan terhadap Deisti untuk mendalami kronologis kepemilikan perusahaan PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera serta pihak-pihak yang memiliki saham di kedua perusahaan tersebut.

Menurut Febri, melalui Deisti KPK ingin mendalami sejarah awal kepemilikan PT Murakabi. “Dan nama saksi (Deisti) juga tercantum di dalam salah satu perusahaan lain dengan jabatan yang cukup tinggi dan kuat,” ujar Febri, dikutip situs Republika.

Deisti juga diketahui merupakan mantan Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana. KPK kata Febri ingin melihat keterkaitan beberapa perusahaan: saham-sahamnya siapa yang memiliki dan proses distribusi atau perpindahan sahamnya bagaimana.

Sprindik Baru E-KTP, Siapa Tersangka Berikutnya? Kriminologi.id2498 × 3125Search by image Infografik Lika-liku Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Infografik: Dwiangga Perwir

Sprindik Baru E-KTP, Siapa Tersangka Berikutnya? Kriminologi.id2498 × 3125Search by image Infografik Lika-liku Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Infografik: Dwiangga Perwir

 

Postcomended   Anggita Diguyur Berbagai Materi oleh Patrialis Akbar

Deisti merupakan istri kedua SN setelah bercerai dari istri pertamanya Luciana Lily Herliyanti. Sekadar informasi, Luciana adalah putri mantan Wakapolda Jawa Barat, Brigadir Jenderal Sudharsono.

Dari pernikahan dengan Deisti, SN memiliki dua anak laki-laki yang masih kecil. Sementara dari pernikahan dengan Luciana, lahir dua anak: Rheza Herwindo dan Dwina Michaella. Keduanya sudah menikah.

Pasangan kedua anak SN ini seolah mencerminkan di mana pergaulan SN selama ini. Saat SN sedang dibelit kasus “Papa Minta Saham”, Dwina melangsungkan pernikahan di sebuah gereja di Jakarta.

Pasangan Dwina bernama Jason S Harjono. Siapa dia? Seperti dilansir situs Tribunnews, Jason adalah anak tersangka kasus korupsi dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), Setiawan Harjono, pemilik Bank Asia Pacific (Aspac).

Dalam skandal korupsi e-KTP, pada Mei 2017 Dwina pernah diperiksa KPK untuk mengonfirmasi ucapan tersangka Andi Narogong.

Sementara itu masih dari situs Tribunnews, pada September 2011, Reza menikah dengan Elaine Cynthiadewi Salim, putri pengusaha ternama, Widodo Salim. Reza kini dikabarkan tinggal di luar negeri.

Postcomended   Harta Korupsi Djoko Susilo yang Belum Disita Rp 51 Miliar

Nama Reza bersama ibu tirinya, Deisti, disebut merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan peserta proyek e-KTP, PT Murakabi Sejahtera.

Lingkaran Api Mega Skandal Proyek e-KTP | sabdullah2015 | Indonesiana Indonesiana - Tempo.co1220 × 696Search by image Lingkaran Api Mega Skandal Proyek e-KTP

Lingkaran Api Mega Skandal Proyek e-KTP | sabdullah2015 | Indonesiana Indonesiana – Tempo.co1220 × 696Search by image Lingkaran Api Mega Skandal Proyek e-KTP

 

SN tak cuma melibatkan anak-anaknya di kedua perusahaan tersebut, melainkan juga membagi “rezeki” kepada keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi. Irvanto diketahui pernah menjadi Direktur Utama PT Murakabi Sejahtera.

Dari situs Kompas, Irvanto dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 27 April lalu, mengaku pernah bergabung dengan konsorsium pelaksana proyek e-KTP. Seperti Dwina, Irvanto juga diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Andi Narogong.

PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera, diduga merupakan perusahaan fiktif. Dikutip Jurnas.com, dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, 6 November lalu, mantan Dirut Murakabi, Deniarto Suhartono, yang bersaksi untuk terdakwa Andi Narogong, menyebutkan bahwa PT Murakabi adalah perusahaan yang dibuat hanya untuk mengikuti lelang proyek.

Salah satu lelang yang diikuti adalah proyek e-KTP tahun 2011-2013.‎ Terungkap bahwa saham Murakabi mayoritas dimiliki PT Mondialindo Graha Perdana, juga atas nama Dwina dan Irvanto. Sementara itu saham Mondialindo dimiliki Reza dan Deisti, dan juga Deniarto.

Meski Murakabi tercatat dalam akta notaris, nilai saham-saham tersebut ternyata bodong. Masing-masing pemegang saham tidak pernah menyetorkan modal kepada PT Murakabi. Hal ini sempat menimbulkan keheranan ‎anggota majelis hakim, Anshori Syaifuddin: bagaimana perusahaan tanpa modal dan nilai saham fiktif bisa mengikuti tender proyek e-KTP, melainkan hanya bermodal seolah-olah memiliki modal aktiva Rp 20 miliar.

Postcomended   Ditolak Bicara di Kampus Unla, Nurul Arifin: Ini Pelecehan Intelektual

Masih dari Jurnas.com, kedua perusahaan itu berkantor ‎di Lantai 27 Gedung Menara Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan. Ajaibnya, ke-12 perusahaan lain yang main di proyek e-KTP juga tercatat berkantor di lokasi tersebut. Periksa punya periksa, ‎kantor di Menara Imperium milik SN itu hanya memiliki tiga pegawai. “Waktu itu, setiap ada proyek, kami bikin perusahaan,” ungkap Deniarto.

Dalam keterkaitannya dengan korupsi e-KTP, Andi Narogong mengatur agar PT Murakabi hanya sebagai perusahaan pendamping yang ‎mendapat sub kontrak dari pemenang tender yakni PNRI.(***/dariberbagaisumber)

Share the knowledge