Ekonomi

Lirik Anti-Semitis Dua Rapper Jerman Nyalakan Protes Besar-besaran di Jerman

Nothing sacred? German rappers win top music award despite anti ... YouTube German rappers win top music award despite anti-Semitic lyrics

Nothing sacred? German rappers win top music award despite anti … YouTube German rappers win top music award despite anti-Semitic lyrics

Dua rapper Jerman, Kollegah dan Farid Bang, mendapat kecaman karena menggunakan lirik yang membandingkan mereka dengan korban Holocaust. Anggota parlemen, pemimpin-pemimpin bisnis, dan kelompok-kelompok Yahudi, mengutuk keduanya. Tak tanggung-tanggung, CEO Airbus, ikut ambil bagian. Kedua rapper ini memenangkan penghargaan musik top Jerman beberapa hari lalu, namun mulai muncul pertimbangan agar penghargaan terebut ditarik.

Dilansir situs berita Jerman, DW, kontroversi menghantam dua rapper ini akibat lirik mereka yang berbau anti-semit. Para pemrotes berkumpul Minggu (15/4/2018), dengan para pemimpin bisnis bergabung dengan pemerintah dalam mengutuk Kollegah dan Farid Bang. “Itu melukai reputasi internasional Jerman. Apakah anti-semitisme diterima di Jerman?” ujar CEO Airbus, Tom Enders, kepada koran Bild am Sonntag.

Komentar Enders mirip dengan yang diucapkan Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas. Kepada Der Spiegel, Sabtu (14/4/2018), dia mengatakan, provokasi anti-Semit tidak pantas mendapatkan hadiah. “Mereka menjijikkan,” ujarnya.

Dikabarkan sebelumya bahwa pada Kamis (12/4/2018), yang bertepatan dengan Hari Peringatan Holocaust, Kollegah dan Farid Bang dianugerahi Hadiah Echo untuk album terlaris mereka pada 2017, “Jung, Brutal, Gutaussehend 3” (Muda, Brutal, Tampan 3). Namun ternyata dalam salah satu lagu di album tersebut yang berjudul “0815”, para rapper mengatakan “otot mereka lebih jelas dari tahanan Auschwitz”, lalu lirik berikutnya meyebutkan, “Saya melakukan Holocaust lainnya, datang dengan Molotov.”

Keputusan memberikan pasangan rapper ini penghargaan sebenarnya sempat dikritik di panggung acara “Echo” tersebut oleh Campino, penyanyi utama band punk legendaris Jerman, Die Toten Hosen, yang menerima tepuk tangan meriah untuk komentarnya.

BMVI Music Group, yang memberikan penghargaan Echo, awalnya mengatakan tidak akan mengubah aturannya. Para artis kata mereka, dinominasikan berdasarkan angka penjualan, bukan kualitas. Namun hari Minggu (15/4/2018), CEO Floridan Druecke mengatakan penyelenggara akan mempertimbangkan kembali proses nominasi dan seleksi.

Dalam esai untuk harian Die Welt, komedian Yahudi, Oliver Pola,k mengatakan, normalisasi anti-semitisme dalam musik populer adalah bagian dari alasan mengapa “orang-orang Yahudi muda dikejar dan dipukuli di sekolah”. Sentimen serupa dengan Polak diungkapkan beberapa organisasi Yahudi terkemuka.

Kehebohan ini muncul pada saat yang sangat sensitif bagi Jerman (saat peringatan hari holocaust), yang juga belakangan ini telah melaporkan meningkatnya insiden anti-Semit. Sebenarnya tak hanya sikap anti-Semit yang meningkat di Jerman, melainkan juga anti-Muslim. Bahkan ini terjadi hampir di semua kota-kota di Eropa. Januari lalu, Pembicara Parlemen Jerman, Wolfgang Schaeuble, mengecam kejahatan kebencian anti-Semit (Yahudi) dan anti-Muslim di negaranya. Ia mengimbau dan mendesak masyarakat Jerman untuk lebih menghormati agama minoritas di Jerman.

Dikutip dari Republika, Schaeuble menegaskan, setiap orang yang tinggal di Jerman, apapun latar belakang ras dan agamanya, memiliki hak yang sama. Tidak patut, kata dia, jika latar belakang agama, ras, atau suku menjadi landasan untuk membenci atau melakukan kejahatan.

“Tidak ada tempat untuk kebencian dan kekerasan di masyarakat kita,” ujarnya seperti dikutip laman Anadolu Agency. Sikap anti-Semit dan anti-Muslim di Jerman diduga akibat propaganda yang diembuskan partai-partai sayap kanan dan populis. Mereka mengeksploitasi kekhawatiran terkait terjadinya krisis.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top