Internasional

Malaysia, India, dan Indonesia dalam Memandang Hubungan Sesama Jenis

LGBT rights supporters join Bersih 5 rally holding a banner by the Pelangi Campaign for Equality and Human Rights Initiative in Kuala Lumpur on November 19, 2016. --sumber foto: mole.my

LGBT rights supporters join Bersih 5 rally holding a banner by the Pelangi Campaign for Equality and Human Rights Initiative in Kuala Lumpur on November 19, 2016. –sumber foto: mole.my

Isu LGBT di Malaysia terlihat lebih menonjol dan menjadi sorotan dunia daripada di Indonesia. Mungkin karena di beberapa negara bagian di sana, hukuman terhadap pelaku LGBT lebih keras; mirip Aceh, dan warga yang mayoritas Muslim banyak yang memusuhi perilaku menyimpang tersebut. Teriakan-teriakan para pegiat HAM, tak membuat pemimpin Malaysia mengendorkan aturan, namun pimpinan Malaysia mengecam hukuman cambuk. Bagimana dengan India dan Indonesia?

“Malaysia tidak dapat menerima pernikahan sesama jenis; yakni antar pelaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT),” ujar Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, Jumat (21/9/2018). Dalam laporannya, laman kantor berita Reuters menulis, Mahathir menegaskan hal tersebut di tengah meningkatnya kasus penganiayaan komunitas LGBT di negara mayoritas Muslim ini.

“Di Malaysia ada beberapa hal yang tidak bisa kami terima, meskipun itu dilihat sebagai hak asasi manusia (HAM) di negara-negara Barat,” kata Mahathir (93), kepada wartawan. “Kami tidak dapat menerima perkawinan LGBT antara pria dan pria, wanita dan wanita.”

Postcomended   Fair Use dalam Polemik Ngawur

Komentar Mahathir, menurut Reuters, diduga akan memicu perdebatan lebih lanjut di negara di mana aktivis telah menyuarakan keprihatinan atas permusuhan terhadap kelompok LGBT baik dari dalam masyarakat dan dari pemerintah.

Meski begitu, Mahathir mengecam hukuman cambuk terhadap dua wanita yang dilakukan September ini, dengan tuduhan “mencoba seks lesbian” di Terengganu, negara bagian konservatif di timur Malaysia. “Itu (hukuman cambuk) tidak mencerminkan keadilan atau belas kasihan Islam,” kata Mahathir.

Sebelumnya, satu bar gay di Kuala Lumpur diserbu oleh polisi dan petugas penegak agama, sementara seorang wanita transgender dipukuli oleh sekelompok penyerang di Seremban, dekat ibukota. Menteri yang bertanggung jawab atas urusan Islam juga mendapat kecaman dari aktivis dan anggota parlemen partai berkuasa lainnya, setelah ia memerintahkan penghapusan potret dua aktivis LGBT dari sebuah pameran seni.

Postcomended   12 Oktober dalam Sejarah: Columbus Berpikir Telah Sampai di Asia Timur, Ternyata...

Malaysia menggambarkan seks oral dan anal sebagai melawan tatanan alam. Hukum perdata menetapkan penjara hingga 20 tahun, hukuman cambuk, dan denda bagi pelanggar, meskipun penegakan hukum jarang terjadi. Muslim juga diatur oleh hukum-hukum Islam tingkat negara bagian, yang kebanyakan membawa ketentuan yang melarang hubungan sesama jenis.

Sementara itu perkembangan di India berjalan sebaliknya. Sebagai negara Asia yang disebut paling toleran terhadap seks gay, pengadilan India pada awal September ini mencabut larangan hubungan seks antar gay, dengan kata lain seks gay bukan kriminalitas.

Bagaimana dengan Indonesia? Isu terakhir, Mahkamah Konstiitusi menolak pihak yang ingin agar LGBT diatur dalam hukum pidana. Sementara itu survey terbaru yang digelar Januari 2018 oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia memandang negatif LGBT namun tetap menerima hak hidup mereka dan bahwa mereka harus dilindungi keamanannya. Namun Indonesia melalui Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 telah jelas melarang pernikahan sejenis.(***/dariberbagaisumber)

Postcomended   Taliban Catat Sejarah Hadiri Konferensi Diplomatik untuk Pertama Kali

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top