Malala Ikuti Jejak Benazir Bhutto Kuliah di Oxford – Andalan News Andalan News600 × 400Search by image

Malala Ikuti Jejak Benazir Bhutto Kuliah di Oxford – Andalan News Andalan News600 × 400Search by image

Pemenang Nobel Perdamaian termuda, Malala Yousafzai, mendesak pemenang Nobel Perdamaian senior yang dia sebut sebagai “rekan peraih nobel”, Aung Suu Kyi, untuk menghentikan perlakuan “memalukan” negerinya terhadap minoritas Muslim di Myanmar. Malala mengaku telah meminta Suu Kyi untuk mengutuk perlakuan “tragis dan memalukan” terhadap orang-orang Rohingya di Myanmar menyusul kekerasan yang menyebabkan ratusan orang tewas.

Dalam sebuah pernyataan di Twitter, Malala mengatakan kepada rekan sejawatnya itu bahwa “dunia sedang menunggu” Suu Kyi bertindak atas kerusuhan yang telah menyebabkan eksodusnya puluhan ribu orang Rohingua ke Bangladesh.

Pernyataan Malala ini menyusul sikap Boris Johnson, Menteri Luar Negeri Inggris, yang memperingatkan Suu Kyi, bahwa perlakuan terhadap kelompok etnis minoritas itu “mencengangkan” reputasi negara tersebut.

Pejabat keamanan Myanmar dan gerilyawan Rohingya menuduh satu sama lain membakar desa-desa dan melakukan kekejaman di negara bagian Rakhine di barat laut negara tersebut.

Postcomended   Aktor Nicholas Saputra Menghadang Pemotor yang Naik ke Trotoar

Seraya menyeru agar kekerasan tersebut diakhiri, Malala mengatakan bahwa dia patah hati mendengar laporan bahwa anak-anak muda Rohingya dibunuh oleh pasukan keamanan. Dia pun mendesak pemerintah Myanmar untuk memberikan status kewarganegaraan kepada kelompok tersebut.

Dia menulis: “Selama beberapa tahun terakhir, saya berulang kali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan peraih Nobel, Aung San Suu Kyi, untuk melakukan hal yang sama. Dunia sedang menunggu dan Muslim Rohingya sedang menunggu.”

Hampir 400 orang tewas dalam kerusuhan baru-baru ini, dengan militer Myanmar dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh para penyeru kampanye kemanusiaan.

“Hentikan kekerasan. Hari ini kita telah melihat foto anak-anak kecil yang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Anak-anak ini tidak menyerang siapapun, namun rumah mereka dibakar sampai habis. Jika rumah mereka bukan di Myanmar, di mana mereka tinggal selama beberapa generasi, lalu dimana orang Rohingya harus diberi kewarganegaraan di Myanmar, negara tempat mereka dilahirkan,” cerocos Malala di Twitter-nya.

Postcomended   Naik Trail, Khofifah Bawa Santunan Untuk Korban Meninggal Longsor Pangandaran

Pada Sabtu (2/9/2017), Johnson mengirim pesan kepada Suu Kyi untuk menggunakan “semua kualitas luar biasa” yang dia punya, untuk mengakhiri kekerasan tersebut. Dia berkata, “Aung San Suu Kyi benar dianggap sebagai salah satu tokoh paling mengasyikkan di zaman kita, namun perlakuan terhadap Rohingya sangat menodai reputasi Burma.”

“Dia menghadapi tantangan besar dalam modernisasi negaranya. Saya berharap sekarang dia bisa menggunakan semua kualitasnya yang luar biasa untuk menyatukan negaranya, untuk menghentikan kekerasan, dan untuk mengakhiri prasangka yang menimpa baik umat Muslim maupun komunitas lainnya di Rakhine,” cecar Johnson.

Johnson melanjutkan, “Sangat penting bahwa dia mendapat dukungan militer Burma (Myanmar), dan bahwa usaha penciptaan perdamaian tidak frustrasi. Dia dan semua di Burma akan mendapat dukungan penuh dalam hal ini. ”

Menurut badan pengungsi PBB, UNHCR, diperkirakan ada 73.000 orang telah melintasi perbatasan ke Bangladesh sejak kekerasan meletus pada 25 Agustus 2017, sehingga kamp-kamp bantuan mendekati kapasitas penuh.

Malala, yang nyaris menghadapi kematian pada 2012 setelah ditembak di kepala oleh Taliban Pakistan karena kampanyenya yang blak-blakan mengenai hak perempuan atas pendidikan, meminta lebih banyak negara menawarkan makanan Rohingya, tempat tinggal dan sekolah.

Postcomended   Sail Sabang 2017 Heboh di Jakarta dengan Fun Run 5K

Malala meraih hadiah Novel Perdamaiam pada tahun 2014, penerima termuda yang pernah ada. Baru-baru ini dia merayakan sebuah tempat di Universitas Oxford dengan filsafat, politik dan ekonomi.(**-/Reuters)