Manuver Presiden Korsel di Pusaran Konflik Pyongyang dan Washington

Internasional Politik
Share the knowledge

Presiden Trump Berharap Dapat Capai Kesepakatan Denuklirisasi dengan ... VOA Indonesia Presiden AS Donald Trump (kiri) di Gedung Putih, Washington, 26 Februari 2018
Presiden Trump Berharap Dapat Capai Kesepakatan Denuklirisasi dengan … VOA Indonesia Presiden AS Donald Trump (kiri) di Gedung Putih, Washington, 26 Februari 2018

Konstelasi geopolitik tampaknya tengah menjajaki suatu bentuk baru. Sejauh ini, saling ancam lontar rudal antara Pyongyang dengan Washington mereda. Ini ditandai senyum lebar Kim Jong Un sejak negerinya mengikuti olimpiade musim dingin di Korea Selatan 

Februari silam, disusul konser yang mendatangkan girlband K-pop. Kim bagai berada di atas angin. Hasrat Seoul berdamai dengannya, membuat Washington mati gaya. Terbaru, Direktur CIA dikabarkan terbang ke Pyongyang untuk merancang pertemuan Kim dengan Presiden AS, Donald Trump. Dunia menunggu dan melihat, jika tak ingin disebut curiga dan cemas. Keluarga Kim dikenal memiliki rekam jejak menjanjikan perubahan, namun kemudian mundur.

Surat kabar Munhwa Ilbo mengutip seorang pejabat Korsel yang tidak disebutkan namanya, melaporkan Selasa (17/4/2018) dan diteruskan CNBC, bahwa Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) sedang dalam pembicaraan untuk mengumumkan penghentian permanen konflik militer. Hal ini dilakukan menjelang KTT pekan depan antara Presiden Korut Kim Jong Un, dan Presiden Korsel Moon Jae-in.

Kim dan Moon diduga akan mendiskusikan pengembalian zona demiliterisasi yang dijaga ketat yang memisahkan kedua negara. KTT ini menurut kantor berita Korsel, KCNA, diharap dapat membantu membuka jalan bagi pertemuan antara Kim dan Trump yang direncanakan dilakukan Mei atau Juni.

Bagaimana ini bisa terjadi? Dilansir New York Times, Presiden Moon (65) pernah mengatakan, “Tidak ada yang akan mengambil tindakan militer di Semenanjung Korea tanpa persetujuan Korea Selatan,” katanya pada Agustus 2017. Menyerang Korut bagi Moon sama dengan akan memicu perang katastropik di Korea. “Kami akan mencegah perang apa pun yang diperlukan.”

Postcomended   Perusahaan Asuransi: Wanita adalah Pengemudi yang Lebih Baik daripada Pria

Sikap ini dianggap merongrong kebijakan Trump selama ini terhadap Korut. Akibatnya, Trump terpaksa menuruti skenario Moon untuk sebuah acara duduk bersama yang belum pernah terjadi sebelumnya antara seorang presiden AS dan pemimpin Korut yang sama-sama kepala batu, kendati sempat menyebut upaya Moon ini sebagai “appeasement” alias peredaan.

Di sisi lain, terlihat bahwa Kim belakangan ini terekspos banyak menebar senyum. Mungkin menyadari potensi bahwa sahabat bebuyutan AS yang rutin mengadakan latihan perang yang “mengancam” di perairan di dekat negaranya ini, kini berada di belakangnya. Juga berpotensi menambah jumlah pemimpin dunia yang sudi bermesraan dengannya setelah Presiden Cina Xi Jinping dan mungkin Presiden Rusia Vladimir Putin.

Demi terjadinya pertemuan Korut-AS ini, Moon disebut tak sungkan memuji terobosan-terobosan Trump, sekaligus secara pribadi memohon saudara serumpunnya untuk terlibat dalam pembicaraan dengan AS. Sejak terpilih sebagai presiden pada 2016, Moon memang dianggap berposisi aneh terhadap sekutu Baratnya itu.

Postcomended   Kelompok HAM, Google, Cemaskan UU Perlindungan Kepalsuan Online Singapura

Pria yang berlatar belakang pengacara hak asasi manusia (HAM) ini, memiliki sejarah orangtuanya melarikan diri ke Korut selama Perang Korea. Mungkin latar belakang ini yang membuatnya memiliki hasrat menciptakan rekonsiliasi abadi di Semenanjung Korea.

Sejak peristiwa perang Korea 1950-1953 hingga detik ini, kedua negara berhasil menghindari konflik bersenjata yang saling menghancurkan, hanya bermodalkan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Bagi Kim sendiri, perundingan dengan AS yang dirancang Moon ini seharusnya memiliki implikasi menguntungkan. Bagaimanapun, dia berharap sanksi internasional yang dimotori AS, bisa dihentikan; sanksi yang alih-alih membuatnya Pyongyang tunduk, malah kian bandel dengan program nuklirnya. Dengan kedewasaannya sebagai seorang pegiat HAM, Moon sadar, sanksi sampai kapan pun takkan membuat Kim bersedia mengakhiri program nuklirnya.

Nuklir ini juga yang tampaknya tetap digadaikan oleh Kim sebagai jaminan untuk pembicaraan hati ke hati antara dia dan Trump di zona demiliterisasi nanti. Trump yang mati gaya karena sekutu Korea-nya lebih suka bermesraan dengan Pyongyang, tampak memilih untuk menuruti dulu kemauan Moon. “Kami akan melihat apa yang (akan) terjadi,” cuit Tump di akun Twitter-nya.

Postcomended   Jelajahi Serunya Destinasi Lebaran Bandung

Rabu (18/4/2018), direktur badan intelijen pusat AS (CIA), Mike Pompeo –meski terkesan diam-diam– terendus media AS pergi ke Pyongyang untuk melakukan pertemuan rahasia dengan Kim. Menurut pejabat yang tidak disebutkan namanya, pertemuan ini untuk mempersiapkan pembicaraan langsung antara Trump dan Kim. Semoga damailah dunia.


Share the knowledge

Leave a Reply