Lifestyle

Masih Diminati Pasar Terbatas, Daging Artifisial Berharap Tembus Supermarket

Share the knowledge

 

Mark Post, professor di Maastricht University, menunjukkan  beef burger pertama yang dikembangkan di laboratorium.  (Kredit: PRESS ASSOCIATION/AFP/File, via http://en.rfi.fr/contenu/20191011-artificial-meat-now-made-space-coming-supermarket-near-you)

Mark Post, professor di Maastricht University, menunjukkan beef burger pertama yang dikembangkan di laboratorium. (Kredit: PRESS ASSOCIATION/AFP/File, via http://en.rfi.fr/contenu/20191011-artificial-meat-now-made-space-coming-supermarket-near-you)

Seorang kosmonot Rusia melakukan eksperimen membuat daging artifisial di Stasiun Luar Angkasa Internasional degan bantuan printer 3D. Menciptakan daging dari sel tampaknya bukan lagi domain fiksi ilmiah; hingga produk-produk ini bisa kita dapatkan suatu saat di supermarket.

Pengujian yang dilakukannya di ruang angkasa pada September silam ini membuat sang kosmonot (astronot dalam istilah Rusia), Didier Toubia, dapat memproduksi daging sapi, kelinci, dan jaringan ikan dengan menggunakan printer 3D.

“Teknologi baru ini akan memungkinkan perjalanan jangka panjang dan memperbarui eksplorasi ruang angkasa, ke Mars misalnya,” kata Toubia, kepala startup Israel, Aleph Farms, yang menyediakan sel-sel untuk pengujian.
“Tapi tujuan kami adalah menjual daging di Bumi,” katanya kepada AFP.

Menurut Toubia, idenya bukan untuk menggantikan pertanian tradisional. “Ini tentang menjadi alternatif yang lebih baik daripada bertani ala pabrik,” kata Toubia. Apa yang dilakukan Toubia bukan yang pertama.

Burger pertama yang dirancang menggunakan sel induk sapi dibuat oleh Mark Post, seorang ilmuwan Belanda dari Maastricht University, dan disajikan pada 2013. Beberapa startup sejak itu menawarkannya di pasar khusus.

Postcomended   Anak Perempuan Michael Jackson Kesal Dikaitkan dengan Kasus Demi Lovato

Kendala yang muncul untuk mengomersialkan daging jenis ini secara luas adalah biaya produksi masih sangat tinggi, dan tidak ada produk yang tersedia untuk dijual.

Nama produk daging masih diperdebatkan: laboratorium, buatan, berbasis sel, dibudidayakan. Namun, pencicipan telah terjadi, dan para pemain industri mengandalkan komersialisasi skala kecil yang berlangsung cukup cepat.

“Kemungkinan tahun ini,” Josh Tetrick, kepala perusahaan JUST California, yang menanam daging dari sel, mengatakan pada sebuah konferensi di San Francisco. Namun kata Tetrick, tak  berarti daging ini sudah bisa tersedia di supermarket atau McDonald’s. “Di beberapa restoran saja,” kata Tetrick.

Menurut perkiraan, kedatangan daging hasil laboratorium di rak supermarket dengan harga wajar baru bisa terjadi dalam lima hingga 20 tahun. Tetapi menurut sejumlah pengamat, upaya ini akan membutuhkan lebih banyak investasi.

Sektor ini menarik total hanya 73 juta dollar AS pada 2018, menurut The Good Food Institute, sebuah organisasi yang mempromosikan alternatif untuk daging dan ikan.

Kendala lain yang muncul adalah masalah regulasi (peraturan). Di Amerika Serikat, misalnya, pemerintah menggariskan kerangka peraturan yang berbagi pengawasan makanan berbasis sel antara Departemen Pertanian dan Administrasi Makanan dan Obat-obatan, tetapi belum difinalisasi, AFP melaporkan.

Postcomended   Wacana "Peluru Darah Babi" Donald Trump, dan Kengerian Muslim pada Babi

Bagi pendukung, produk daging dan ikan berbasis sel dapat mengubah sistem produksi secara berkelanjutan dengan menghindari pemeliharaan dan pembunuhan hewan. Namun, masih ada pertanyaan tentang dampak lingkungan nyata, khususnya dalam hal konsumsi energi, serta tentang keamanan.

Peluang di Titik Tertinggi

Namun menurut Lou Cooperhouse, CEO startup BlueNalu, peluang pasar sangat besar terutama untuk makanan laut. “Permintaan global di dunia berada pada titik tertinggi sepanjang masa,” katanya tentang makanan laut.

Selama ini kata dia, makanan laut memiliki masalah dalam hal penangkapan ikan yang berlebihan, perubahan iklim, dan pasokan yang sangat bervariasi, termasuk masalah pasokan ikan yang mengandung merkuri. “Bagaimana jika kita bisa menambahkan kaki ketiga pada rantai pasokan, tangkapan liar, peternakan, (dengan daging) berbasis sel?” kata Cooperhouse.

Dibuat pada 2018, BlueNalu mengembangkan platform teknologi yang dapat digunakan untuk merancang berbagai produk makanan laut, terutama filet ikan tanpa tulang atau kulit. Pegawai divisi teknologi BlueNalu, Chris Dammann, mengatakan, literatur ilmiah tentang sel induk, teknik biologis atau pencetakan jaringan organiknya sendiri sudah ada. “Kita (hanya) perlu menyatukan teknologi dan mengoptimalkannya,” kata Dammann.

Peternak Daging Asli Gusar

Ide daging buatan tentu saja menganggu peternak daging asli. Scott Bennett, direktur hubungan kongres untuk organisasi Biro Pertanian, yang mewakili petani dan peternak, menegaskan bahwa pengembangan daging buatan adalah sesuatu yang perlu dipantau.

Postcomended   Paris Uji Coba "Taksi Gelembung" Ramah Lingkungan di Sungai Seine

Bennett merasa saat ini dunia harus lebih memfokuskan perhatian pada upaya meningkatkan pangsa pasar protein, terutama di negara-negara berkembang. “Beberapa orang karena alasan sosial ingin membeli produk ini. Tetapi selalu ada pasar untuk daging konvensional,” katanya.

Bennet berpendapat, bahwa daging buatan seharusnya tidak boleh disebut daging. “Kami tidak ingin membingungkan konsumen mengenai apa ‘ini’ sebenarnya. Kami ingin memastikan labelnya sangat jelas,” tambah Bennett.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top