Ekonomi

Maskapai-maskapai Penerbangan Asia Akali Celah Setelah Max 8 Di-grounded

Share the knowledge

SpiceJet Full Flight Review | Morning Flight | SpiceJet Inflight ... YouTube SpiceJet Full Flight Review | Morning Flight | SpiceJet Inflight Review

SpiceJet Full Flight Review | Morning Flight | SpiceJet Inflight … YouTube SpiceJet Full Flight Review | Morning Flight | SpiceJet Inflight Review

Maskapai penerbangan Asia telah memotong rute, mengubah jadwal, dan menyewa pesawat tambahan untuk mengisi celah yang ditinggalkan Boeing 737 Max 8 yang di-grounded, setelah kecelakaan mematikan di Indonesia dan Ethiopia. Mereka antara lain China Southern Airlines, SpiceJet, dan Lion Air.

Sejauh ini, maskapai regional telah berhasil menghindari gangguan besar, tetapi analis memperkirakan bahwa grounding 737 Max 8 –tipe pembaruan hemat bahan bakar dari Boeing 737 yang popular– akan menghambat rencana pertumbuhan dalam waktu dekat, laman AP News melaporkan.

Ketika penyelidikan atas kecelakaan berlanjut, Boeing mengantisipasi kenaikan 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 14 triliun) biaya yang harus dikeluarkan terkait pembenahan 737 Max, termasuk memperbaiki perangkat lunak yang terlibat dalam bencana, menambah pelatihan pilot, dan memberikan kompensasi kepada maskapai penerbangan dan keluarga korban kecelakaan.

Penyelidik sedang memeriksa peran perangkat lunak kontrol penerbangan yang menekan hidung pesawat berdasarkan pembacaan sensor yang salah. Hampir 400 unit jet Max di-grounded (ditangguhkan) oleh maskapai di seluruh dunia pada pertengahan Maret 2019 lalu, setelah kecelakaan Ethiopia Airlines.

Postcomended   Dana APBD Mengendap di Bank adalah Kejahatan terhadap Rakyat

Di Asia, di mana lalu lintas penumpang udara tumbuh paling cepat, grounding Max 8 telah mendorong biaya penerbangan lebih tinggi pada saat harga bahan bakar naik, yang menekan keuntungan operator.

“Maskapai Cina memiliki 96 pesawat Max 8 tetapi telah berhasil menghindari pembatalan besar-besaran dengan menukar model pesawat lain,” kata Kelvin Lau dari Daiwa Capital Markets di Hong Kong. “Namun, (bagaimanapun) ini dapat membatasi pertumbuhan kapasitas mereka untuk musim puncak mendatang,” tambahnya.

Cina Southern Airlines, yang memiliki 25 pesawat Max 8, kemungkinan akan merevisi pertumbuhan yang ditargetkan untuk kapasitas penumpang, katanya.

Sementara itu, maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, yang Penerbangan 610-nya menghilang ke laut tak lama setelah lepas landas dari Jakarta, menewaskan 189 orang, mengatakan, Jumat (3/5/2019) dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya beroperasi secara normal dengan meminimalkan dampak  dari grounding 10 unit jet Max 8-nya.

“Lion Air terus melayani rute yang telah dioperasikan oleh Boeing 737 MAX 8 dengan menggantinya menggunakan armada Lion Air lainnya,” kata juru bicara Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, dalam sebuah pernyataan.

Postcomended   Motoris Amerika Ancam Boikot Harley Davidson, Trump "Tepuk Tangan"

SpiceJet India mengatakan akan menyewa 22 pesawat Boeing 737-800NG, sembilan di antaranya sudah beroperasi. Maskapai ini juga mengatakan akan mengerahkan lima pesawat Bombardier Q400.

Tidak semua operator, bahkan mereka yang tidak menggunakan Max 8, telah berhasil. Maskapai bujet Scoot yang dimiliki Singapore Airlines, mengumumkan mereka akan menangguhkan layanan antara Singapura dan empat kota, dengan penskorsan pertama dimulai Juni 2019. Rute dilayani oleh Airbus A320.

Scoot, yang tidak memiliki jet Max 8, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemangkasan itu karena kombinasi dari permintaan yang lemah dan kekurangan sumber daya pesawat. “Kekurangan pesawat muncul karena SilkAir, akibat grounding armada Boeing 737 MAX 8-nya, tidak akan lagi mentransfer pesawat Boeing 737-800NG ke Scoot di tahun keuangan 2019/2020,” katanya.

SilkAir cabang regional Singapore Airlines, menarik enam jet Max 8-nya dari layanan pada 12 Maret 2019, dan perusahaan induknya telah menilai kembali kapasitas dan armadanya, memilih untuk mempercepat pertumbuhan Scoot, kata Brendan Sobie dari konsultan penerbangan CAPA.

CEO Boeing, Dennis Muilenburg, baru-baru ini mengatakan perusahaan itu hampir selesai memperbarui Max sehingga akan membuat pesawat lebih aman. Tetapi mengingat kekhawatiran yang semakin mendalam dengan jatuhnya Ethiopian Airlines Max 8 pada 10 Maret, tidak jelas kapan pembaruan akan dikerahkan dan berapa lama waktu yang diperlukan bagi regulator penerbangan dan maskapai penerbangan untuk memutuskan bahwa aman bagi pesawat untuk melanjutkan operasi.

Postcomended   Angkatan Darat India Umumkan Temuan Jejak "Yeti" di Akun Twitter-nya

Itu adalah kesulitan bagi operator, terutama selama musim liburan puncak musim panas. “Maskapai tidak tahu kapan Max akan kembali beroperasi. Ini membuatnya sedikit sulit untuk direncanakan, meskipun ada beberapa fleksibilitas dalam armada mereka, ”kata Sobie.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top