Loading...
Nasional

Media Asing Sebut Almarhum Kepala BNPB Sebagai Sosok yang Dicintai

Share the knowledge

Sutopo Purwo Nugroho, alm. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7cDyRiYngWc)

Sutopo Purwo Nugroho, alm. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7cDyRiYngWc)

Bencana alam yang bertubi-tubi menimpa Indonesia tak pelak membuat nama Kepala BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dikenal oleh media asing. Ketika Sutopo meninggal dunia, mereka turut melansir obituarinya. The Guardian menyebut Sutopo sebagai sosok yang dicintai.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini meninggal dunia pada Minggu (7/7/2019) dini hari di Guang Zhou, Cina, saat sedang berupaya menyembuhkan penyakit kanker paru-paru stadium 4B-nya. Media berbasis di Inggris, The Guardian, dalam pemberitaannya hari ini menulis judul: “Indonesia’s much-loved disaster agency chief dies of cancer” (kepala BNPB yang banyak dicintai meninggal karena kanker).

Sebelumnya, The Guardian juga pernah memberitakan tentang sakitnya Sutopo dengan judul “Indonesia’s love affair with its dying natural disaster spokesman” (hubungan asmara Indonesia dengan juru bicara bencana alamnya yang sedang sekarat).

Media berbasis di Inggris ini menulis, “Juru bicara badan penanggulangan bencana Indonesia yang sangat disegani ini adalah seorang pria yang terus memberikan informasi terkini tentang bencana alam yang tak terkendali di negara ini bahkan ketika dia menderita kanker paru-paru.”

Sutopo, tulis The Guardian, dikenal karena komitmennya yang tak kenal lelah terhadap pekerjaannya. Dia memiliki misi pribadi memerangi berita palsu, dan memiliki selera humor yang unik seperti yang sering ditampilkan di akun Twitter-nya.

Media ini juga menulis bahwa pengguna media sosial Indonesia yang mengungkapkan duka citanya pada Minggu memujinya sebagai “pelayan negara sejati”.

Postcomended   Pariwisata Jawa Barat Bersolek Sambut Asian Games 2018

Sementara itu The Washington Post menyebutkan bahwa juru bicara badan bencana Indonesia ini dihormati karena memberi tahu publik secara akurat dan cepat tentang bencana alam yang sering terjadi di negara itu.

Sutopo, seperti diberitakan media Amerika Serikat (AS) ini, mengungkapkan, bahwa pada awal 2018 dia telah didiagnosis menderita kanker paru-paru (stadium) lanjut dan diberitahu bahwa dia mungkin tidak akan bertahan lebih dari setahun.

“Nugroho terus bekerja sambil menanggung rasa sakit yang hebat, mengetik rilis berita dari tempat tidur rumah sakitnya setelah menjalani kemoterapi, memperbarui media sosial, mengadakan konferensi pers, dan menerima telepon dari wartawan setiap saat,” tulis The Post.

Sejumlah media asing lainnya, termasuk The Washington Post dan ABC Australia, menulis judul bahwa Sutopo adalah “wajah dari upaya bantuan bencana Indonesia” (the face of Indonesia disaster relief efforts).

Mengutip hasil wawancara dengan Kumparan pada 2017, The Washington Post menyebutkan, Sutopo dibesarkan dalam keluarga miskin. Dia dirisak di sekolah karena tidak punya rambut dan bodoh. Dia mengatakan bahwa dia adalah mahasiswa biasa di universitas di mana dia belajar geografi, tetapi karena ketekunannya dia bisa mendapatkan gelar doktor.

Dalam cuitannyaa pada Mei 2019, Nugroho menyamakan penyebaran kanker tanpa henti ke seluruh tubuhnya dengan penyebaran abu dari gunung berapi Bali yang sering meletus.

Postcomended   7 Maret dalam Sejarah: Bell Patenkan Temuan yang Mengubah Dunia

Wartawan ABC, Anne Barker, menulis di akun Twitter-nya bahwa Indonesia kehilangan salah satu juru bicara bencana terbaiknya. “RIP Pak Topo,” cuit Barker. “Pak Topo” adalah sapaan akrab Sutopo Purwo Nugroho, terutama di kalangan wartawan.

Menurut laman ABC, dia adalah wajah publik dari ribuan orang yang terlibat dalam upaya bantuan bencana Indonesia. Keahlian komunikasinya membuatnya mendapatkan banyak penghargaan di Indonesia dan wilayah yang lebih luas.

Lakukan Siaran Pers Sementara Bernapas dengan Satu Paru-paru

Media AS lainnya, The New York Times, menulis bahwa Sutopo adalah juru bicara badan penanggulangan bencana Indonesia yang disegani secara luas. Sedangkan media milik negeri jiran, Strait Times, mengungkapkan, bahwa ketika Gunung Agung di Bali Meletus, Sutopo sedang terhubung ke jalur intravena; bernapas melalui satu paru-paru, dan mengeluarkan siaran pers kepada wartawan.

“Sambil berjuang melawan kankernya sendiri, dia terus menenangkan negara yang dilanda kebakaran hutan, tanah longsor, banjir, dan gempa Bumi itu,” tulis The Strait Times.

Sutopo, kata media berbasis di Singapura ini, adalah salah satu dari empat lelaki pemberani yang secara kolektif diberi label “The First Responders”, yang oleh media ini dianugerahiThe Straits Times Asians of the Year 2018″ di ajang The Straits Times Global Outlook Forum 2019.

Postcomended   Ancaman Kebangkitan ISIS Masih Melimpah

Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Dia adalah putra seorang guru sekolah dan juru ketik, belajar geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan meraih gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor.

Kepada The Guardian pada November 2019, Sutopo pernah mengatakan, hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi seberapa bermanfaat kita bagi orang lain. “Walaupun dokter mengatakan bahwa saya tidak punya banyak waktu lagi, di hari-hari terakhir saya, saya ingin mencoba berbuat baik, untuk menjadi berguna. Itu jauh lebih baik daripada memiliki umur panjang tetapi membuat orang sengsara!”***

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top