Damned if you do, damned if you don't. - Imgur imgur.com640 × 472Search by image Imgur: The magic of the Internet

Damned if you do, damned if you don’t. – Imgur imgur.com640 × 472Search by image Imgur: The magic of the Internet

Berbuat  untuk kehidupan yang berarti di era milenial ini, tidak dipungkiri mempunyai tantangan yang berat sesuai dengan kondisi jamannya. Tantangan yang datang setelah berbuat adalah buah yang harus diterima sesuai hukum alamnya. Siapa yang berbuat maka dialah yang akan memanennya.

Tidak terasa kendali hidup di jaman now ini, penuh dengan berbagai torehan hidup yang harus kita akui bahwa kehidupan tersebut tidak bisa kita hindari. Tetapi harus masuk ke dalamnya untuk memberikan nilai dan sekaligus mengarahkan kepada nilai nilai kemanusian yang universal.

Jika tidak, Resikonya adalah nilai nilai kebaikan yang tampil di jagat maya setiap hari akan berdampak pada kacaunya kebenenaran yang bernilai universal. Terlebih membaca realita masa kini, kehidupan tidak bisa dilepaskan dari penggunaan teknologi informasi.

Maka dari situ sejumlah organisasi Islam dan tokoh-tokoh kaum intelektual di Indonesia telah menyadari arti penting tentang ruang public yang betul-betul mempunyai nilai kebaikan untuk keberlangsungan hidup yang tepat guna dan bisa memanen realitas hidup sesuai dengan SOP hukum menanam kebaikan.

Keniscayaan linimasa 

Sebagai kaum muda yang mengikuti perkembangan jaman, bukan tidak mungkin perangkat modern seperti: HP Smartphone, Tablet, kamera digital canggih, laptop dengan varian tebaru, dll ada dalam tas tas anak muda kita.

Terlebih sebagai generasi milenial yang lahir antara 1982 sampai 2004 yang kemudian diikuti geneasi Z yang lahir pasca tahun 2004 hingga saat ini, dengan sendirinya alat alat modern menjadi wajib untuk dimiliki oleh generasi tersebut.

Postcomended   Korupsi dan Warisan Budaya Kolonial

Tengok saja yang sering gonta ganti status atau mempublish foto pasti kebanyakaan dari mereka adalah generasi yang memenuhi anak jaman sekarang ini. Menurut hasil survey CSIS sebagaimana yang dikutip oleh media cetak Suara Muhammadiyah menyebutkan bahwa 81,7% milenialis memiliki Facebook , 70,3% menggunakan Wathshapp,  54,7% memiliki Istagram.

Walaupun dalam perjalanannya, kaum senior yang disebut generasi baby boomers (lahir sebelum tahun 1960) dan generasi X (lahir 1961-1980) juga sama sama mempunyai minat seperti generasi yang masa kini pada umumnya.

Bahkan diantara mereka, banyak yang menjadikan media  sosial sebagai corong untuk mengekpresikan dirinya, yang oleh Abraham Maslow (1908-1970) disebut  kebutuhan dasar manusia dalam “teorinya hirarki kebutuhan” .

Memang, kehadiran internet kurun waktu tahun 1990 yang kemudian di era masa kini menjadi ledakan masyarakat akan arti penting kehadiran teknologi informasi. Telah ikut andil memberikan dorongan kepada kita bahwa kehadirannya telah merubah tradisi keintelektualan dan menggusur tradisi sikap kritis dengan tidak mengatakan semuahnya.

Kalau kita lihat dan baca secara kritis, banyak diantara nitizen yang  asal membuat status namun miskin makna untuk sesama kaum nitizen. Seolah-olah diantara meraka hanya asal membuat status, asal mempublish foto dan video kemudian melapas begitu saja tanpa berpikir ulang arti dari sebuah tulisan, foto dan video yang akan menghiasi media sosia setiap harinya.

Jika yang terjadi dalam kehidupan media sosial seperti di atas, maka apalah artinya kita hidup untuk saling memberikan kebaikan, mengingatkan dikala sedang lupa dan menasehati dikala sedang mengalami dahaga spiritual.

Sikap nitizen tanpa kontrol tersebut, belakangan banyak beredar di kalangan pengguna media sosial entah itu untuk kepentingan kelompok ataupun kepentingan bersama yang ditumpangi kepentingan kelompok. Seperti dalam Pilkada. Saling menyerang, membeberkan kebaikan kelompoknya dan disisi lain membeberkan kelemahan lawannya.

Postcomended   Amazon tak Ingin Biarkan Alibaba Sendirian di Asia Tenggara

Bahkan tidak jarang dengan membuat berita-berita hoax, ujaran kebencian, memfitnah lawan politiknya demi kentungan kelompoknya. Akibatnya berujung perkelahian, duel maut sampai pengerahan masa untuk menyerang kelompok tertentu karena tersinggung atas ujaran tanpa control tersebut.

Agar Memanen Buah Manis

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

Ayat di atas mengingatkan kita semua, bahwa dalam berbuat kebaikan dan keburukan tidak terlepas dari pengawasan sang Maha Kuasa. Hatta berbuat kebaikan sebesar dzarrahpun ada imbalannya, begitupun berbuat keburukan walau sekecil dzarrah pasti ada balasannya.

Dunia Menuju “Profesi” Idaman: Leyeh-leyeh Tapi Digaji - kumparan Kumparan.com800 × 450Search by image Ilustrasi orang bekerja di pinggir pantai

Dunia Menuju “Profesi” Idaman: Leyeh-leyeh Tapi Digaji – kumparan Kumparan.com800 × 450Search by image Ilustrasi orang bekerja di pinggir pantai

Dalam konteks Agama, seseorang tidak bebas bertindak sesuka hatinya karena dibatasi dengan norma-norma yang mengikat dirinya. Pada saat yang bersamaan era teknologi informasi yang banyak menggusur batas batas kesantunan dan keadaban, telah merenggut adab ketimuran bahkan menelanjangi kebobrokan etika dan moral sebagian nitizen. Maka dalam bergaul dengan media sosial atau apapun namanya, harus ada rambu rambu agar tidak salah kaprah.

Menurut Ahmad Al-Hasyimi (2000: 9) , ketika mengutip hadis yang di riwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam karyanya Mukhtar al-Hadis mengatakan bahwa” apabila kamu bermaksud mengerjakan suatu pekerjaan maka pikirlah akibatnya. Jika baik laksanakan dan jika  buruk cegahlah”.

Postcomended   Pensiunan Polisi Detektif Berpatroli di Jurang untuk Mencegah Warga Bunuh Diri

Hadist di atas mengingatkan kita semua, bahwa dalam bertindak dan berucap harus penuh dengan pertimbangan matang agar tidak menyesal dikemudian hari. Kecuali, jika pekerjaan tersebut sudah jelas ending nilai kebenarannya atau jelas ending nilai keburukannya. Namun tentunya dengan memperhatikan waktu, tempat, kultur, dan sosial suatu masyarakat agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai  kebenaran lokal.

Ini Peringatan Satpol PP Untuk Pengusaha Hotel dan Losmen | Kalteng Pos kalteng.prokal.co600 × 377Search by image LAMANDAU - Guna menjaga ketertiban masyarakat dan sebagai penegak peraturan daerah (Perda), Satuan Polisi…

Ini Peringatan Satpol PP Untuk Pengusaha Hotel dan Losmen | Kalteng Pos kalteng.prokal.co600 × 377Search by image LAMANDAU – Guna menjaga ketertiban masyarakat dan sebagai penegak peraturan daerah (Perda), Satuan Polisi…

Karena bisa jadi, jika kebaikan tidak dikemas dengan cara yang rapih dan menarik justru hasilnya akan dikatakan kurang baik bahkan tidak baik. Dan sebaliknya, jika sesuatu keburukan disampaikan dengan kemasan yang menarik sesuai dengan kondisi psikologis masyarakat, maka bukan tidak mungkin sesuatu keburukan tersebut akan dianggap baik.

Dengan demikian diera digital ini, dimana semua lapisan masyarakat dapat memproduksi suatu berita. Baik dengan cara menulis sendiri ataupun menyebar kembali berita berita yang sudah banyak beredar di media sosial ataupun website agar lebih berhati-hati keran semua itu akan kembali kepada dirinya. Sudah terlalu banyak kasus yang ditimbulkan oleh ketidak hati-hatian dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi, yang semuahnya berakhir dengan penyesalaan.

Share the knowledge