Marissa Mayer, CEO of Style | My style | Pinterest | Sexy, The o ... Pinterest314 × 471Search by image Marissa Mayer, CEO of Style

Marissa Mayer, CEO of Style | My style | Pinterest | Sexy, The o … Pinterest314 × 471Search by image Marissa Mayer, CEO of Style

Entah Marissa Mayer memang tidak sehebat yang digadang-gadang selama ini, atau karena Yahoo! memang sudah sulit diselamatkan, sehingga di bawah kepemimpinannya Yahoo! kolaps juga.

Berupaya mengembalikan kejayaan Yahoo! sejak 2012, namun wanita lulusan Universitas Stanford ini akhirnya menyerah juga lima tahun kemudian. Dia terpaksa harus menjual Yahoo! ke Verizon.

Tak ada yang menyangsikan kecerdasan wanita 42 tahun ini. Meskipun laporan keuangan Yahoo! pada 2014 mengungkap kerugian sebesar 4,2 miliar dolar AS, dia masih tetap dianggap sebagai salah satu wanita paling kuat di Sillicon Valley, waktu itu.

Namun demikian, pamornya yang naik selama 10 tahun bekerja di pesaingnya, Google, tak membuatnya sanggup menyelamatkan Yahoo!. Justru kini Google menyalip mesin pencari nomor satu di era 1990-an ini.
Sebelum menerima posisi sebagai CEO Yahoo!, Marissa menjabat sebagai Vice President of Google Product Search yang a.l. berperan mengembangkan Google Earth dan Maps.

Postcomended   Malala Desak Sejawatnya Sesama Peraih Nobel agar Kutuk Kekerasan pada Rohingya

Greg Sterling, Editor senior di Search Engine Land, mengatakan, reputasi Marissa yang sudah dibangun bertahun-tahun di Google, hancur seketika karena Yahoo!.

Dengan keras Sterling juga berpendapat, Mayer akan dikenang sebagai CEO yang menjual perusahaan. Jika dia pindah ke perusahaan lain, ia akan dianggap sebagai CEO yang tidak bisa membangkitkan Yahoo!. “Label tersebut akan sangat memalukan bagi Mayer,” ujar Sterling.

Postcomended   Google Akhirnya Bertekuk Lutut pada Indonesia

Marissa Ann Mayer lahir pada 30 Mei 1975 di
Wausau, Wisconsin, AS. Lulusan Universitas Stanford ini sempat menikmati gaji sebesar
117 juta dolar AS dari Yahoo! (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Marissa_Mayer).

Langkah Yahoo menunjuk Mayer pada 2012 untuk memimpin Yahoo! menurut sebagian pihak ketika itu merupakan pilihan tepat. Penunjukkan Ibu tiga anak ini sebagai CEO-nya diharapkan akan memulihkan kejayaan Yahoo!

Salah satu langkah pertama Mayer di awal kepemimpinannya adalah dengan merumahkan sekitar 2.000 karyawan dari total 14.000 karyawan Yahoo! dengan alasan efisiensi dan mendorong efektifitas kinerja.

Namun tiga tahun memimpin, kondisi Yahoo! tak banyak berubah. Saham Yahoo! memang sempat naik saat Mayer terpilih, namun belakangan jatuh dan sulit naik lagi.

Menurut seorang pengamat, kesalahan Yahoo! sejak awal adalah menjadikan Yahoo! sebagai perusahaan media yang terlalu fokus mencari uang dari iklan, daripada mengembangkan layanan teknologinya.

Postcomended   Gempa Jepang: Suaranya Terdengar hingga Batas Angkasa

Tak heran juga, karena dari iklan Yahoo! pernah mengeruk keuntungan sangat besar. Sayangnya, hal tersebut tidak dibarengi pengembangan teknologi.***(ra)