Nelson Mandela Kebencian adalah seperti meminum racun dan berharap ... JagoKata.com600 × 300Search by image Nelson Mandela -. Kebencian ...

Nelson Mandela Kebencian adalah seperti meminum racun dan berharap … JagoKata.com600 × 300Search by image Nelson Mandela -. Kebencian …

Indonesia merupakan negara yang besar, memiliki banyak budaya dan enam agama yang besar, menjadi salah satu ciri bahwa Indonesia merupakan negara dengan masyarakat majemuk karena selalu menyangkut dan berorientasi pada sebuah perbedaan. Kita semua patut bersyukur bahwa watak setiap adat dan budaya di Indonesia naturalnya terbentuk dengan latar belakang sikap toleran.

Bangsa ini pun sering dikatakan multikultur, namun belum mengalami multikulturalisme yang sempurna, karena hingga saat ini masih sering terjadi konflik, dikarena oleh perbedaan-perbedaan ideologi sekelompok masyarakat, provokasi media, aliran dan ajaran agama yang sensitif, sehingga selalu melahirkan mata rantai kebencian.

Kebencian bukanlah banjir yang datang tiba-tiba. Bukan pula gunung berapi yang tiba-tiba Meletus tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Kebencian bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Kebencian terlahir akibat adanya sebuah pancingan ataupun penyulut sehingga kebencian itu tercipta.

Rasa benci merupakan resultan atau hasil dari provokasi media, masyarakat yang cenderung negatif dan aliran atau ajaran agama yang sensitif terhadap adanya sebuah perbedaan. Rantai kebencian tersebut serupa membangun sebuah kerajaan yang sewaktu-waktu bisa menguasasi kerajaan lain, yang tak lain akan menguasai segala sisi baik dalam diri kita.

Ibaratnya rantai makanan, media provokasi, masyarakat pronegatif dan aliran agama yang sensitif selalu saja saling berkaitan satu sama lain dan membentuk sebuah pusaran kebencian. Rantai kebencian menempatkan perbedaan adalah sebuah ancaman yang sewaktu-waktu dapat mengambil atau merebut kekuasaan sekelompok orang berideologi tertentu.

Hal pertama dan unsur utama pembentuk kebencian dalam mata rantai kebencian, penulis posisikan adalah media provokatif. Berbicara tentang media, pasti yang paling banyak terlintas di fikiran banyak orang adalah media sosial dan media cetak. Di era modern dan postmodern, kehadiran teknologi informasi dan media sosial memungkinkan siapapun dapat menjadi pewarta dan jurnalistik walaupun tanpa latar belakang sebagai seorang wartawan.

Penulis meminjam istilah Jurgen Habermas (1991) adalah sebuah ruang public (public sphere) yang terbuka bagi semua orang untuk mengemukakan opini, mengunggah informasi sesuai keinginan dan kebutuhan. Disisi lain, menurut Asociation Of Education Comunication Technology (AECT), media adalah segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.

5 Alasan Penting Kenapa Presiden Jokowi Harus Diajak Baca Naruto ... DuniaGames800 × 450Search by image 5 Alasan Penting Kenapa Presiden Jokowi Harus Diajak Baca Naruto

5 Alasan Penting Kenapa Presiden Jokowi Harus Diajak Baca Naruto … DuniaGames800 × 450Search by image 5 Alasan Penting Kenapa Presiden Jokowi Harus Diajak Baca Naruto

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan media, apabila yang disajikan adalah informasi yang positif dan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang salah dan menjadi masalah itu apabila media menyajikan jenis berita yang bermuatan nilai negatif dan banyak unsur provokatif.

Postcomended   Di Ambang Perang Dagang, Hubungan AS-Cina Memanas

Media provokatif selalu saja menyebarluaskan berita yang bermuatan hasutan, ujaran kebencian, dan segala hal yang berpotensi memicu timbulnya keresahan dan perpecahan ditengah masyarakat. Hal ini tentunya malah akan dapat memperkuat mata rantai kebencian, dan tanpa dipungkiri informasi provokatif tersebut menjadi konsumsi publik, terutama masyarakat yang pronegatif.

Perihal yang menduduki posisi kedua dalam mata rantai kebencian adalah masyarakat pronegatif. Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama ataupun berbeda. Dalam disiplin ilmu sosiologi kita mengenal ada dua macam masyarakat, yaitu masyarakat paguyuban dan masyarakat petambayan. Sementara dari sudut pandang ilmu antropologi kita dikenal dengan dua tipe manusia, yaitu masyarakat kecil yang belum kompleks dan masyarakat yang sudah kompleks.

Bermasyarakat merupakan hasrat manusia sebagai makhluk hidup. Manusia memiliki berbagai macam hasrat, seperti hasrat sosial, hasrat mempertahankan diri, hasrat berjuang, hasrat harga diri, hasrat bergaul dengan sesama, hasrat simpati, hasrat untuk memberitahukan dan hasrat untuk mendapatkan kebebasan. Namun acap kali hasrat dalam diri manusia malah membentuk karakter dan sikap manusia menjadi pro akan hal positif dan pro akan hal negatif.

Masyarakat yang pro akan hal positif biasanya  tidak terlalu mempermasalahkan sebuah perbedaan, baik itu perbedaan budaya, suku, adat dan beda keimanan. Namun disisi lain, masyarakat yang cenderung pro atau memihak hal yang negatif sering mempermasalahkan sebuah perbedaan, bagi masyarakat pronegatif perbedaan adalah sebuah hal yang tidak akan pernah bisa bersatu dan hidup berdampingan satu sama lain.

Postcomended   25 Mei dalam Sejarah: Ketika Ford Akhiri Produksi Mobil T, SpaceX Sukses Luncurkan Kapsul Luar Angkasa Komersial Pertama

Masyarakat yang karakternya pronegatif selalu saja terlalu cepat menyimpulkan suatu hal dari sudut pandang saja. Isu yang bermuatan propaganda merupakan sarapan pagi yang lezat bagi masyarakat dengan karakter ini. Sehingga hal yang bernuansa positif sulit mengisi bagian dari diri masyarakat ini. Akibatnya hal ini menambah deretan panjangnya mata rantai kebencian, yang kemudian merasuk sampai ke sendi-sendi penghayatan aliran dan ajaran agama yang dianut masyarakat tersebut.

Hal terakhir dalam mata rantai kebencian adalah aliran atau ajaran agama yang sensitif akan sebuah perbedaan. Menurut Wikipedia Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, system budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan perintah dari kehidupan. Unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah agama adalah Tuhan, Nabi, Kitab suci, Sistem ritual dan dogma, dan adanya umat.

Agama memiliki nabi atau tokoh spiritual penghubung antara manusia dengan tuhan. Ada kitab suci yang menjadi sumber tata nilai dan kepercayaan serta menjelaskan hal apa yang dilarang. Ada ajaran spiritual yang dipraktekan dalam masyarakat, seperti Sholat untuk umat islam, ibadah untuk umat kristen, dan serupa dengan ritual agama lainnya. Serta diperkuat dengan adanya umat atau pengikut.

Di indonesia sendiri belum punya definisi tentang agama, baik dalam undang-undang atau regulasi lainnya. Istilah agama digunakan untuk menyebut enam agama yang diakui resmi oleh negara, antara lain islam, katolik, protestan, hindu, budhisme, dan konghucu. Sedangkan sistem yang belum diakui secara resmi disebut religi atau aliran.

Aliran kepercayaan dan para penghayat kepercayaan atau penganut aliran kepercayaan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Disetiap masing-masing agama yang ada di indonesia pasti punya aliran dan penganut aliran. Penghayat aliran ajaran agama dewasa ini sering terlibat persentuhan sosial secara sensitif dengan masyarakat luas.

Aliran-aliran ajaran agama kini sering memaksakan kehendak bahwa siapa yang berbeda pengahayatan agamanya, harus mengikuti ajaran agama mereka tersebut. Para penghayat aliran tersebut meyakini bahwa mereka adalah penyelamat, yang diberikan ilmu, serta memiliki tingkat keimanan tertinggi dari semua manusia yang ada. Sehingga, siapapun yang penghayatan agamanya berbeda akan dianggap rendah dan dibenci.

Postcomended   Bayi Diculik Seekor Monyet, Mayatnya Ditemukan di Sumur

Itulah yang membuat pusaran kebencian di indonesia semakin besar, ujaran kebencian tumbuh subur dimana-mana. Media provokatif, masyarakat pronegatif, dan aliran agama yang sensitif semakin kuat saja keterikatannya. Dari masalah itu, munculah sebuah pertanyaan besar. Apakah kita harus diam tanpa melawan selama ini dipengaruhi kebencian? Terus bagaimana cara memutus kebencian itu?

Sebagai sebuah bangsa yang lahir dan terbentuk oleh sebuah perbedaan, sudah barang tentu kita semua takan membiarkan kebencian mempengaruhi dan menguasai kita. Manusia adalah makhluk yang paling suka berdialog satu sama lain, buatlah dialog tersebut menjadi bahan untuk menutupi supaya tidak ada celah lagi untuk kebencian mempengaruhi kita.

Media yang selama ini sifatnya memprovokasi, haruslah dibarengi pula dengan media yang produktif. Media ada untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu contoh media cetak yang cerdas adalah buku karangan CHRISTIAN W. TROLL dengan judul Muslim Bertanya, Kristen Menjawab. Memang buku ini nuansa agamanya sangat kental, namun buku ini mempunyai nilai sebagai buku yang Cerdas dan Jujur.

Buku tersebut mengangkat tema-tema yang selama ini menjadi bahan polemik dan perdebatan antara umat islam dan kristen, lalu materi yang dipolemikkan itu dicari rujukannya kepada kitab suci masing-masing agama. Dengan demikian dialog yang semula dilakukan antar pemeluknya, diarahkan subyek dialog menjadi kitab suci, sehingga buku ini berada dan memposisikan diri seobyektif mungkin.

Masyarakat yang tadinya lebih cenderung memilih hal yang negatif haruslah beralih ke pandangan yang positif. Masyarakat yang bisa mempertahankan prinsip kebaikan dan sikap positifnya adalah masyarakat yang bahagia. Bahagia apabila menerima perbedaan sesama manusia dan diterima karena perbedaan sesama manusia. Seperti halnya masyarakat Sulawesi Utara dengan semboyannya “Torang Samua Basudara” Saling memahami perbedaan, Bukan saling mengalahkan.

Share the knowledge