Tanaman Khat dari teh Arab menjadi narkoba - ANTARA News Antaranews.com600 × 400Search by image Tanaman Khat dari teh Arab menjadi narkoba

Tanaman Khat dari teh Arab menjadi narkoba – ANTARA News Antaranews.com600 × 400Search by image Tanaman Khat dari teh Arab menjadi narkoba

Ingin mencari efek halusinasi? Ambil sejumput daun khat, seduh seperti teh, atau cukup dikunyah seperti sirih. Eit tapi hati-hati, tanaman daun khat yang katanya banyak terdapat di kawasan Puncak Bogor ini mengandung zat aktif bernama katinon yang tergolong narkotika golongan I. Menanamnya saja bisa dibui 20 tahun. Meskipun memiliki bubuknya, seperti yang dilakukan artis Raffi Ahmad, hanya direhabilitasi tiga bulan.

Karena di negeri Yaman, Timur Tengah, daun khat biasa dikonsumsi seperti teh, maka khat biasa disebut juga “teh arab”. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso, di kantor BNN, Selasa (22/8/2017), mengatakan, narkoba jenis daun khat kini cukup banyak beredar di Indonesia.

Kasus terakhir yang terjadi belum lama ini, BNN mengamankan 25 kg daun khat yang dikirim melalui pos ke daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Dikatakan Budi, tanaman daun khat bisa tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Pihaknya, kata Budi, beberapa kali menemukan tanaman ini ditanam di daerah Puncak, Bogor (atau di Baturaden, Banyumas).

“Makanya kami minta pemerintah daerah mewaspadai wilayah mereka. Ini sama dengan ganja,” kata Budi.

Postcomended   Sudah "Hijrah", Caisar Terpaksa Joged Lagi demi Menolong Teman

Sementara itu, Deputi Pemberantasan BNN, Inspektur Jenderal Arman Depari, mengatakan, penggunaan daun kath kebanyakan untuk gaya hidup. Daunnya dikonsumsi dengan cara diseduh seperti teh atau dikunyah seperti sirih.

Hasilnya pada tubuh akan menimbulkan efek halusinasi. “Yang mengonsumsi kebanyakan adalah orang yang berasal dari Asia Selatan dan Tengah,” ujarnya.

Seseorang disebut berhalusinasi ketika dia melihat, mendengar, merasa, atau mencium suatu aroma yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi berasal dari bahasa Latin, alucinari, yang artinya “berkelana dalam pikiran”.

Tanaman khat menjadi populer sejak ditangkapnya Raffi Ahmad saat berpesta di rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta, pada Januari 2013. Berdasarkan uji laboratorium, BNN ketika itu menemukan nahwa narkoba yang ditemukan di rumah Raffi kala itu (selain ganja dan inex) adalah metilon, yang merupakan turunan katinon yang berasal dari tanaman khat.

Akibat pemberitaaan tersebut, satu ladang seluas 2.100 meter persegi di kawasan Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, didatangi polisi karena dilaporkan warga menanam tanaman seperti yang dia lihat di pemberitaan kasus Raffi. Setelah diperiksa, tanaman tersebut benar tanaman khat.

Tanah ini diketahui milik warga setempat yang disewa oleh seorang keturunan Arab bernama Ali yang tinggal di Purwokerto. Atas izin pemiliknya, ladang khat ini kemudian dibakar karena cemas akan disalahgunakan remaja di sana gara-gara pemberitaan di televisi.

Postcomended   25, 26, 27 Agustus dalam Sejarah: Krakatau Meletus!

Seorang warga keturunan Arab yang tinggal di Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Umar Faraz, mengatakan, daun khat sering dimanfaatkan untuk menurunkan gula darah dan kolesterol, juga pelangsing tubuh.

“Saat di Arab, saya sering mengonsumsinya. Bahkan di Kedutaan Besar Yaman, daun khat biasa digunakan untuk obat. Demikian pula di Yaman banyak diperjualbelikan secara bebas untuk obat,” kata Umar.

Umar menjelaskan, daun khat bisa dikonsumsi seperti mengunyah daun sirih. Yakni, pucuk daun muda khat dikunyah lalu disimpan di mulut bagian kanan atau kiri hingga pipi tampak menonjol. Saat itulah cairan daun akan keluar untuk disesap.

Namun menurut pengalaman Umar, mengonsumsi daun khat tidak menimbulkan efek ketagihan.

Namun BNN berbeda pendapat dengan Umar. Mengonsumsi tanaman ini dalam waktu lama dapat menurut BNN, bisa mengakibatkan depresi, halusinasi, kelainan psikosis, kanker mulut, stroke, hingga menyebabkan kematian.

Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan BNN, daun khat mengandung katinon dalam waktu 48 jam pasca dipetik. Setelah lewat 48 jam, yang tersisa hanyalah Katina. Namun katina pun masih masuk jenis narkotika golongan III.

Baik katinon maupun katina memiliki efek stimulan, seperti timbulnya euphoria, hiperaktif, tidak mengantuk, dan tidak menimbulkan rasa lapar.

Pada 1965, sejak WHO melaporkan tentang adanya penggunaan khat di beberapa negara, peredaran tanaman tersebut mulai dibatasi oleh sejumlah negara. Finlandia, Prancis, dan Jerman sudah melarang peredaran tanaman ini. Namun Somalia, Kenya, dan Ethiopia, masih melegalkan.

Postcomended   Setelah Tidur Empat Abad, Erupsi Sinabung Belum Terhentikan

Sejarah masuknya tanaman khat ke Indonesia diduga sejak kawasan Puncak Bogor banyak disinggahi turis Timur Tengah pada 1980-an. Tanaman khat, boleh jadi dibawa mereka untuk ditanam di Puncak.

Dalam perkembangannya, masyarakat setempat membudidayakannya baik untuk dikonsumsi sendiri (karena dipercaya bisa meningkatkan vitalitas dan menyembuhkan sakit perut) maupun dijual kepada turis asal Timur Tengah. Apalagi harganya cukup menggiurkan. Sekantung plastik khat dihargai hingga Rp 500 ribu. .***(ra)