Internasional

Mengintip Nasib Para “Mantan” Pengantin ISIS Remaja

Share the knowledge

 

Para pengantin ISIS yang nasibnya kini terkatung-katung di kamp-kamp yang dikelola pasukan Kurdi, SDF (gambar dari: https://www.dailymotion.com/video/x740t3s)

Para pengantin ISIS yang nasibnya kini terkatung-katung di kamp-kamp yang dikelola pasukan Kurdi, SDF. Pihak SDF pusing mengingat negara asal mereka tidak mau menerima mereka kembali (gambar dari: https://www.dailymotion.com/video/x740t3s)

Usianya baru 12 ketika dipaksa menikah dengan suami pertamanya yang kejam. Setelah suaminya ini tewas demi ISIS, dia mencoba melarikan diri tapi gagal. Dia dipenjara dan dipaksa menikah lagi dengan militan lain. Ketika suami keduanya mengalami nasib sama, barulah dia berhasil kabur.

Rawan Aboud, yang kini berusia 18, saat ini dipenjara bersama para pendukung fanatik lainnya dari kelompok “jihadis” ini dimana Aboud mencari perlindungan sejak usia 13. “Suami (pertama) saya membawa saya ke Raqqa. Dia memukuli saya dan mengatakan saya murtad karena berusaha kabur, ” kata gadis Suriah ini, dilaporkan Reuters, Jumat (12/4/2019).

Ribuan wanita terutama orang asing, menurut Reuters, berbondong-bondong pergi dari Eropa dan negara-negara di Afrika Utara, untuk dengan sukarela bergabung dengan ISIS, menganut interpretasi brutal tentang Islam dan menikahi para militant.

Beberapa tetap bersemangat mendukung ideologinya dan tinggal di kamp-kamp yang kemudian mereka tinggalkan di Suriah timur. Kamp-kamp ini berada di bawah kendali pasukan yang didukung Amerika Serikat (AS), yang berhasil mengusir ISIS dari wilayah terakhirnya bulan lalu (Maret 2019).

Tetapi Reuters melaporkan, banyak remaja seperti Aboud tidak punya pilihan ketika dinikahkan oleh keluarga Muslim konservatif di Suriah, Irak dan Lebanon. Aboud, beberapa warga Suriah lainnya, dan seorang wanita Lebanon, adalah anak dari seorang lelaki yang bergabung dengan ISIS yang  sekarang ditahan bersama para pengikutnya di bagian kamp al-Hol yang dijaga ketat.

Postcomended   Kemesraan Trump dan Putin Patahkan Hati Pemberontak Suriah

Mereka dianggap sebagai tersangka oleh pasukan pimpinan Kurdi yang membantu mengalahkan para “jihadis”. Di dalam tahanan mereka dianiaya oleh seorang wanita yang juga dikurung. Mereka kini takut akan membusuk dalam tahanan atau menghadapi kematian di tangan sesama tahanan ekstrem lainnya.

“Aboud telah menghabiskan tiga bulan di al-Hol bersama dengan lebih dari 60.000 orang yang melarikan diri dari pertempuran untuk Baghouz, bagian terakhir dari wilayah berpenduduk yang dikuasai ISIS sampai kekalahannya di sana Maret silam,” sebut Reuters.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters bulan ini, Aboud mengenakan mantel hijau, sarung tangan tanpa jari dan make-up mata di balik kerudungnya, yang hanya dia kenakan untuk menghindari menarik perhatian para pendukung ISIS.

Dia menggunakan istilah “daesh” untuk ISIS, bukan “daulah”, bahasa Arab untuk negara, yang masih digunakan oleh banyak orang di kamp. Dia mengatakan bahwa suaminya mati, bukan mati syahid sebagaimana para pendukungnya menggambarkan para militan yang terbunuh.

“Suami pertamaku terbunuh dalam pertempuran tiga tahun lalu, terima kasih Tuhan,” kata Aboud sebagaimana dilaporkan Reuters. Aboud yang mencoba melarikan diri dari wilayah ISIS, dipenjara di markas mereka di Raqqa.

Postcomended   Neymar Dituduh Lakukan Serangan Seksual pada Perempuan yang Dikenal via Instagram

Ketika koalisi AS mulai membom kota ini, anak perempuannya yang berusia sembilan bulan terbunuh. Militan memindahkan dia bersama wanita lainnya dari kota ke kota saat mereka mundur, dan menikahkannya dengan pejuang lainnya yang juga terbunuh beberapa bulan lalu.

Dia kemudian melarikan diri dengan putrinya yang lain yang berusia empat, dengan masa depan yang tidak pasti. “Saya ingin pergi ke keluarga saya di Idlib. Tetapi saat ini saya hanya akan menetap di bagian lain dari kamp, ​​jauh dari orang asing. Di suatu tempat saya dapat menggunakan telepon,” katanya.

Pasukan keamanan yang menjaga al-Hol telah menolak permintaannya untuk pindah, Aboud mengisahkan kepad Reuters. “Mereka terus mengatakan ‘besok’ dan bertanya, ‘mengapa kamu menikah dengan pejuang ISIS’.”
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi yang mengelola kamp tidak segera menanggapi permintaan komentar atas penahanannya.

Penderitaan serupa dirasakan Amal Susi (20), yang menghuni bagian yang sama di kamp. Susi bahkan mengalami diskriminasi karena cara berpakaiannya. “Para wanita lain memanggil saya kafir. Mereka melempari saya dengan batu. Ketika saya mengantri untuk air, mereka mengatakan ini bukan saluran untuk warga Suriah,” tulis Reuters.

Susi ​​mengeluhkan perlakuan yang sama dan takut tidak pernah kembali ke rumah. Dia menyerahkan diri dengan kedua anaknya pada 2017 ke SDF setelah suaminya terbunuh di Raqqa. Beberapa bulan kemudian dia bahkan sempat dikembalikan lagi ke wilayah ISIS untuk pertukaran tahanan.

Postcomended   Google Putuskan Akses Huawei ke Android, Bagaimana Nasib Pemilik Ponsel Huawei?

“Itu (seperti) kembali ke nol,” katanya. “Pendukung ISIS menyebut kami babi dan kafir, mengatakan kami mata-mata untuk Kurdi, dan menyerang kami,” tutur Susi.

SDF kini pusing tujuh keliling mengatasi jumlah tersangka militan dan pendukungnya yang mendekam di pusat-pusat penahanan dan kamp-kamp sementara beberapa negara Barat menolak untuk mengizinkan warganya kembali.

Sebagian besar warga Suriah dan Irak berkeliaran di kamp al-Hol terpisah dari wanita asing yang dijaga oleh SDF. Banyak orang asing menggunakan istilah “jihadis” yang menghina terhadap mereka yang non-ekstremis dan menyalahkan nasib mereka semata-mata pada para musuh ISIS. Kini Susi dan banyak lainnya berharap sangat untuk dapat menjauh sejauh mungkin dari mereka.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top