19 Fakta dan Misteri Gunung Leuser di Sumatera | Basecamp Para Pendaki Basecamp Para Pendaki1600 × 839Search by image 19 Fakta dan Misteri Gunung Leuser di Sumatera

19 Fakta dan Misteri Gunung Leuser di Sumatera | Basecamp Para Pendaki Basecamp Para Pendaki1600 × 839Search by image 19 Fakta dan Misteri Gunung Leuser di Sumatera

Masa lalu ibarat lorong waktu yang penuh dengan cerita, makna dan nostalgia. Sementara masa kini merupakan tuaian dari perbuatan kita di masa yang lalu. Pada masa kini kita disadarkan apakah yang kita perbuat di masa lalu berguna atau sia-sia. Masa lalu dan masa kini memiliki keterikatan yang tidak terpisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan yang menentukan masa depan.

Kita memiliki tanggung jawab yang besar menentukan masa depan bumi ini. Terutama karena otoritas dan kuasa yang kita miliki dalam mengelola alam. Kita bertanggung jawab baik atas harapan maupun kekhawatiran yang kita perbuat bersama di masa yang akan datang.

Hal yang paling mengkhawatirkan yang kita rasakan belakangan ini tentunya terkait kepunahan berbagai satwa langka. Kehilangan satu satwa saja dari muka bumi, berarti berkurang pula satu kekayaan ragam hayati yang dimiliki alam.

Hal ini penting kita refleksikan bersama di masa sekarang. Waktu tidak pernah berhenti, dis aat yang sama sudah banyak yang kita lalui tanpa arti. Hilangnya Satwa langka tidak bisa kembali seperti semula. Tidak bisa terhitung lagi berapa jenis satwa yang sudah punah setiap tahunnya, puluhan bahkan ratusan spesies. Hal ini tidak lepas dari perbuatan manusia lewat perburuan dan perusakan hutan.

Kondisi inilah yang dialami hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang semakin kehilangan banyak satwanya. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu hutan konservasi taman nasional yang wilayahnya meliputi Aceh dan Sumatera Utara yang kaya akan fauna.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga merupakan taman nasional tertua dari 51 taman nasional yang ada di Indonesia. Ada 130 Jenis mamalia dan 325 jenis burung atau sekitar 1/30 (sepertiga puluh) dari jumlah jenis burung yang ada di dunia, hidup di TNGL. Diperkirakan 89 jenis di antaranya merupakan satwa langka dan dilindungi.

Postcomended   “Babi Terjelek di Dunia” Masih Eksis di Pulau Jawa

Dalam ilmu ekologi, salah satu indikator kesuksesan sebuah hutan menjadi kawasan konservasi aktif dilihat dari eksistensi satwa kunci yang hidup di wilayah tersebut. Satwa kunci di hutan TNGL ada 4  yaitu Harimau, Gajah,  Badak dan Orangutan. Masalahnya, jumlah populasi satwa kunci tersebut terus mengalami penurunan.

Perburuan Liar dan Deforestasi. Saat ini (2016) populasi satwa kunci Taman Nasional Gunung Lesuer (TNGL) dalam kondisi memprihatinkan. Populasi keempat satwa kunci ini terus mengalami penurunan. Diperkirakan persentase penurunannya mencapai 60-80% dalam 10 tahun terakhir.

Tercatat jumlah harimau tinggal 100-150 ekor, badak 20-30 ekor, gajah 400-500 ekor dan orangutan berjumlah sekitar 2000-2200 ekor.

Penurunan populasi satwa kunci di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) disebabkan oleh berbagai faktor. Yang paling utama karena terdapat perburuan liar yang sporadis dan besar-besaran. Perburuan liar ini terjadi tidak lepas dari maraknya perdagangan satwa hidup maupun satwa mati di pasaran.

Di samping itu, aktivitas ilegal loging dan perambahan hutan yang semakin hari semakin gencar, telah merusak ekosistem satwa-satwa tersebut. Kerusakan ekosistem di TNGL merupakan ancaman utama bagi keberlangsungan satwa kunci tersebut. Karena satwa tersebut memiliki daya jelajah yang tinggi di hutan untuk mencari makanan, berkembang biak dan melakukan interaksi.

Postcomended   Tour de Singkarak ETAPPE 3, Senin 20 November 2017, SIJUNJUNG - DHARMASRAYA

Problemnya apabila TNGL mengalami kerusakan, tentu ini akan berdampak pada kehidupan satwa tersebut. Deforestasi membuat mereka tidak punya pilihan lain kecuali memasuki kawasan pertanian dan pemukiman penduduk. Di sinilah letak pemicu konflik antara manusia dan satwa kunci tersebut. Penduduk yang merasa terganggu akan melakukan serangan hingga menyebabkan banyaknya satwa yang terbunuh.

Aktivitas ini terus berlangsung hingga hari ini, Deforestasi membuat satwa semakin terasingkan. Kondisinya amat kritis dan memprihatinkan. Padahal sebagai kawasan konservasi, TNGL merupakan benteng terakhir harimau, gajah, orangutan dan badak untuk tetap terjaganya populasinya.

Menjaga Keunikan Leuser. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan hutan yang unik, karena keanekaragam hayati (biodiversita) yang dimilikinya bisa memenuhi kebutuhan konservasi dalam skala yang luas. Di seluruh kawasan hutan konservasi di dunia ini, hanya di TNGL kita bisa menemukan harimau, gajah, badak dan orangutan hidup berdampingan.

Keberadaan satwa ini juga mempunyai nilai budaya bagi masyarakat. Keberadan mereka mengajarkan tentang harmoniasi, peradaban yang terjaga dan kelestarian alam. Karena hal tersebut mewakili cerminan bangsa Indonesia sebagai negara plural yang bisa hidup damai berdampingan dalam sebuah negara.

Tidak hanya itu, secara filosofis dan teologis, keberadaan satwa tersebut sangat berguna dan sangat penting untuk peradaban bumi. Secara filosofis, satwa yang masih terjaga dan terawat habitatnya menunjukan eksistensi keselarasan dengan manusia masih terjaga dalam proses kehidupan.

Baik manusia atau pun hewan sangat tergantung pada hutan. Hutan yang menjadi tempat tinggal satwa tersebut berfungsi juga sebagai pengatur tata air, pencegah banjir, konservasi tanah dan menjaga keseimbangan kandungan oksigen dan karbondioksida di udara, yang semua itu berguna bagi manusia.

Postcomended   TOUR BROMO MIDNIGHT

Sementara itu, dari presfektif teologis kita bisa merujuk kisah yang termuat dalam kitab suci, ketika Tuhan menurunkan air bah pada jaman Nabi Nuh. Hewan merupakan salah satu makluk hidup yang harus diselamatkan pada masa itu. Berbagai jenis hewan kemudian dimasukkan ke dalam bahtera untuk di selamatkan.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan hewan di muka bumi ini. Ibarat bahtera pada jaman nabi Nuh, saat ini Taman Nasional Gunung Leuser merupakan bahtera untuk menyelamatkan satwa kunci harimau, gajah, badak dan orangutan untuk tetap ada, terjaga dan lestari.

Mengubah Paradigma. Pilihan terakhirnya ada pada kita. Kita harus mengubah paradigma yang negatif dan bersifat merusak. Paradigma kita terhadap hewan selama ini sangat antroposentris. Kita masih menganggap derajat hewan jauh di bawah derajat manusia, sehingga kita tidak pernah peduli akan keberadaan hewan itu sendiri.

Paradigma ini harus segera diubah. Sebab, keberadaan hewan di muka bumi bisa dikatakan sebagai partner manusia untuk keseimbangan alam. Perubahan paradigma ini sangat berguna untuk kehidupan kita sekarang dan generasi berikutnya. Di masa depan, tentunya kita tidak ingin bercerita mengenai badak, harimau, gajah dan orangutan layaknya kita bercerita tentang kehidupan dinosaurus di masa lalu.

Kita tentu masih menginginkan semuanya ada dan nyata. Untuk itu, masing-masing dari kita harus mengubah paradigma dan segera bertindak tanpa pamrih untuk menjaga kelestarian satwa tersebut. Dimulai dari tidak melakukan perburuan di TNGL, melaporkan segala perburuan ilegal, mengawasi TNGL dari perambah hutan, hingga mendukung kegiatan pemerintah yang berkaitan dengan konservasi hutan TNGL.

Share the knowledge