Aman Abdurrahman (foto dari: Medeka)

Menyusul vonis hukuman mati terhadap Aman Abdurrahman pada 22 Juni lalu, hari ini, Selasa (31/7/2018) giliran pengadilan membubarkan dan melarang organisasi Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dianggap rawan aksi “balasan”, sidang pembubaran JAD ini dilarang disiarkan secara langsung oleh media. Pengamat terorisme berpendapat, kecil kemungkinan terjadi aksi balas dendam. Siapa Aman? Apa hubungannya dengan JAD?

Pekik takbir mengiringi pernyataan majelis hakim yang memvonis JAD sebagai organisasi terlarang karena terbukti sah dan meyakinkan terlibat dalam sejumlah tindak pidana terorisme. Teriakan itu keluar dari mulut pimpinan pusat JAD, Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomaruddin bin M. Ali.

Al Jazeera dalam laporannya menyebutkan, JAD merupakan kelompok ISIL alias IS alias ISIS terbesar di Indonesia. Vonis JAD sebagai organisasi terlarang dibacakan Hakim Ketua Aris Bawono Langgeng, yang menyatakan selain terbukti melakukan sejumlah aksi terorisme, juga dianggap berafiliasi dengan organisasi asing tersebut.

JAD menurut pihak berwenang, seperti dilansir Al Jazeera, terlibat dalam serangan yang mematikan di Jakarta pada 2016 (bom Sarinah/Thamrin) dan gelombang bom bunuh diri pada Mei 2018 di Surabaya, kota terbesar kedua di Asia Pasifik. Waktu itu, dua keluarga –termasuk anak perempuan berusia sembilan dan 12 tahun– meledakkan diri di gereja dan kantor polisi, menewaskan 13 orang.

Postcomended   Narkoba Zombie Sudah Masuk Indonesia #Flakka #highasfuck

Apa kaitan Aman Abdurrahman (46) dengan JAD? Selain sebagai pimpinan JAD, Aman adalah pendirinya. Aman dianggap sebagai dalang serangkaian serangan mematikan termasuk bom Sarinah 2016 yang menyebabkan empat penyerang dan empat warga sipil tewas.

JAD dibentuk pada 2015, dan diyakini terdiri dari sekitar dua lusin kelompok yang telah berjanji setia kepada pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, menurut Departemen Luar Negeri AS, yang tahun lalu mencatatnya sebagai organisasi teror.

Meskipun telah dinyatakan di pengadilan bahwa JAD terafiliasi dengan ISIS dan Aman adalah kepanjangan tangannya di Indonesia, dalam proses sidang, Aman tidak mengakuinya, meskipun dia tidak menolak jika ada ceramahnya dijadikan orang lain untuk melakukan aksi terror. Padahal, seperti dilansir Rappler, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) menyebut Aman diduga berada dalam daftar keanggotaan ISIS dan ditugasi sebagai penerjemah propaganda mereka di Indonesia.

Oorganisasi JAD yang dipimpin Aman diduga menggelar pelatihan militer dan merencanakan pembelian senjata dari Filipina. Selain bom Sarinah dan serangan bom bunuh diri di gereja di Surabaya, Aman juga diduga terlibat dalam perencanaan serangan Bom Gereja Oikumene di Samarinda tahun 2016, Bom Kampung Melayu 2017, serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima pada 2017.

Postcomended   Akhir 2017 Jamaah Haji Bisa Naik Kereta Peluru Haramain

Saat divonis mati, Aman menyatakan tidak akan melakukan banding. Kepada kuasa hukumnya, Asludin Hatjani, dia malah meminta agar hukuman mati segera dilakukan meskipun dia berharap Aman mengubah keputusannya. Asludin mengatakan, akan mengupayakan langkah hukum lanjutan.

Terkait kecemasan pihak kepolisian bahwa akan teradi aksi balas dendam, pengamat terorisme, Jibriel Abdul Rahman, menilai, kemungkinan kecil. Meskipun aksi-aksi terorisme belakangan mengaitkan keterlibatannya, namun kata Jibriel aksi-aksi itu lebih dikaitkan langsung dengan ISIS daripada dengan JAD apalagi Aman. Selain itu, selama Aman berada di penjara selama ini, pun tidak pernah ada aksi balas dendam atas nama Aman.

Namun begitu, larangan JAD dan perubahan baru-baru ini terhadap undang-undang anti-terorisme diduga akan membuat polisi lebih leluasa bergerak, bahkan bisa langsug menahan simpatisan JAD. Jaksa mengatakan, pelarangan ini bisa menjadi preseden untuk membubarkan organisasi afiliasi ISIS lainnya di Indonesia. Ini dicemaskan Asludin bakal membuat polisi menangkapi anggota JAD yang tidak melakukan tindakan terorisme.

Postcomended   Aplikasi Ini Akan Memaksa Anak Membaca Pesan dari Ortunya

Pergolakan organisasi radikal dan terorisme di Indonesia seolah berulang. Dimulai pada 2008 ketika Indonesia melarang organisasi Jemaah Islamiyah (JI) yang dituduh berafiliasi dengan Al-Qaeda yang bertanggung jawab atas bom Bali 2002 dan 2005. Menurut Al Jazeera, JI dihancurkan oleh polisi kontraterorisme Indonesia (Densus 88) yang didukung Amerika Serikat dan Australia.***

Share the knowledge