Loading...
Wisata

Misteri Cara Piramida Dibangun Sudah Selangkah Lebih Dekat untuk Terungkap

Share the knowledge

https://www.historyextra.com/period/ancient-egypt/ancient-egyptian-family-trees-are-present-day-egyptians-the-descendants-of-the-ancient-egyptians-who-built-the-pyramids/

https://www.historyextra.com/period/ancient-egypt/ancient-egyptian-family-trees-are-present-day-egyptians-the-descendants-of-the-ancient-egyptians-who-built-the-pyramids/

Para arkeolog telah menghabiskan berabad-abad bertanya-tanya bagaimana piramida Giza yang menjulang tinggi dibangun ribuan tahun yang lalu, dan masih saja belum ada teori yang diterima mutlak. Jika para Firaun bisa tertawa di alam sana, mereka mungkin sudah tertawa. Kini, para arkeolog mengaku enemukan sistem lereng canggih yang membuat mereka mengklaim telah selangkah lebih dekat untuk memecahkan misteri tersebut.

Sisa-sisa jalan berusia 4.500 tahun itu ditemukan di sebuah tambang alabaster –pada periode yang sama– di sebuah gurun Mesir oleh tim peneliti dari Universitas Liverpool, Inggris, dan Institut Prancis untuk Arkeologi Oriental di Kairo. Alabaster adalah sejenis batu yang lembut, yang dalam konteks berita ini adalah bahan batu pembangun piramida.

Penemuan kuari Hatnub ini berasal dari masa pemerintahan Firaun Khufu, yang menugaskan pembangunan Piramida Agung di Giza. “Ini menawarkan kepada para peneliti wawasan lebih jauh ke dalam logistik dan teknologi yang digunakan dalam pembangunan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia ini,” Roland Enmarch, seorang Egiptologis Universitas Liverpool yang bekerja pada proyek tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Postcomended   PT. Angkasa Pura Siap Sambut Libur Natal dan Tahun Baru 2018

Sementara teori sistem lereng telah dibuat sebelumnya, apa yang ditemukan oleh tim Anglo-Prancis dari lubang-lubang pos (postholes) menunjukkan bahwa blok-blok batu alabaster yang berat tersebut diangkut pada sudut yang jauh lebih curam daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Yannis Gourdon, dari Institut Prancis untuk Arkeologi Oriental di Kairo mengatakan, dengan menggunakan kereta luncur yang membawa balok batu dan diikat dengan tali ke tiang kayu, orang Mesir kuno mampu menarik blok-blok alabaster keluar dari tambang di lereng yang sangat curam sebesar 20 persen atau lebih.

Enmarch menyebutkan seperti dilansir the Guardian, tambang alabaster telah dikenal oleh para Egiptologis sejak lama. Tambang ini pertama kali ditemukan oleh Howard Carter, yang juga dikenal sebagai penemu makam Tutankhamen.

Lubang-lubang pos, yang berjajar di sisi dua set tangga yang mengapit jalan utama, diikat dengan tali dan membantu meringankan beban pekerja mengangkut blok batu putih besar, menurut siaran pers para arkeolog itu. Para peneliti itu mengatakan kepada the Guardian yang diteruskan laman CNN, bahwa para pekerja mampu menarik blok dari kedua arah dengan bantuan lubang pos, daripada menyeret batu dari belakang mereka.

Postcomended   KEMENPAR PROMOSIKAN DESTINASI UNGGULAN DI PASAR POTENSIAL VIETNAM

Enmarch mengatakan, dia dan rekan-rekannya termasuk Gourdon, bermaksud memublikasikan temuan mereka ini di jurnal peer-review dalam waktu dekat. Temuan ini sendiri dibuat pada akhir September 2018. Meskipun tidak ada bukti metode ini digunakan untuk membangun piramida, Enmarch mengatakan Teknik itu masuk akal digunakan di era Mesir kuno.

Pada 2017, para arkeolog Mesir menjadi berita utama di seluruh dunia ketika mereka menemukan ruang sepanjang 30 meter yang tersembunyi di dalam dinding batu kapur dan granitnya. Piramida Giza berketinggian 139 meter, yang dibangun pada sekitar 4.500 tahun yang lalu. Ini adalah kelompok terbesar piramida di Giza, yang tertua dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, dan daya tarik wisata utama Mesir.***

Postcomended   Pandanganku, Pangandaran
Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top