Internasional

Misteri Hilangnya Sang Jurnalis: Dimutilasi, hingga Aktivitas Pembunuhan yang Terekam Apple Watch

Apple Watch Seri 3 (ilustrasi) diduga merekam detik-detik saat Jamal Khashoggi dilumpuhkan (sumber foto: https://www.pocket-lint.com/smartwatches/reviews/apple/142228-apple-watch-series-3-review-a-great-smartwatch-comes-with-some-caveats)

Apple Watch Seri 3 (ilustrasi) diduga merekam detik-detik saat Jamal Khashoggi dilumpuhkan (sumber foto: https://www.pocket-lint.com/smartwatches/reviews/apple/142228-apple-watch-series-3-review-a-great-smartwatch-comes-with-some-caveats)

Para penggemar kisah misteri dan persekongkolan mendapat pasokan cerita baru belakangan ini: misteri hilangnya Jamal Khashoggi. Sejumlah isu terkait nasib jurnalis The Washington Post ini mengemuka mulai tubuhnya yang dimutilasi, hingga jam tangan Apple yang merekam kejadian pembunuhannya. Dunia internasional menekan Saudi untuk menjelaskan. Saudi, malah mengancam para pengancamnya agar jangan macam-macam: minyak masih dijadikan senjata.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang paling vokal mengancam sekutu dekat Timur Tengah-nya itu –dan yang juga balik diancam keras oleh Saudi– kemarin (Selasa/16/10/2018) mengirim Menteri Luar Negerinya, Mike Pompeo, ke ibukota Saudi, Riyadh, untuk membicarakan ihwal nasib Jamal.

Namun, seperti dilansir laman VOA, meskipun Pompeo sudah bertemu dengan Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, nasib Jamal masih belum jelas. Sementara Pompeo berada di Saudi, Trump di Twitter-nya menulis, dia telah berbicara dengan Putra Mahkota Saudi yang menyangkal keras mengetahui apa yang terjadi di konsulat mereka di Turki.

Dalam cuitannya Trump menulis, pemimpin de facto Saudi itu mengatakan akan mengembangkan penyelidikan penuh dan lengkap mengenai masalah ini. “Jawaban akan segera datang,” tulis Trump.

Sebelum Pompeo pergi ke Riyadh, Saudi pada hari Minggu (14/10/2018) mengeluarkan ancaman akan menghukum balik Amerika Serikat (AS), jika negeri Paman Sam ini menjatuhkan sanksi. Pembalasan itu, kata seorang pejabat Kerajaan, akan lebih besar.

Sebelumnya, Trump memperingatkan akan menimpakan “hukuman berat” jika Saudi mejadi dalang kematian Jamal. Inggris, Prancis, dan Jerman, juga menuntut “penyelidikan yang kredibel.” Turki Aldakhil, Manajer Umum saluran berita Al-Arabiya milik Saudi, dalam editorialnya, memperingatkan balik AS bahwa sanksi terhadap Riyadh akan menikam perekomiannya sendiri, hingga mati!

Postcomended   Rahasia Teknologi Layar Fleksibel Samsung Diduga Dijual ke Perusahaan Cina

Minyak Saudi yang mulai habis, kenyataannya masih bisa dijadikan komoditas tawar menawar posisi geopolitik. Dalam ancamannya itu disebutkan bahwa harga minyak yang mencapai setinggi 200 dollar AS (sekitar Rp 3 juta) per barel, akan memimpin Riyadh untuk mengizinkan (pendirian) pangkalan militer Rusia di kota Tabuk, dan menggerakkan Timur Tengah ke dalam pelukan Iran. Apakah Trump ngeper dengan ancaman ini sehingga mengirim Pompeo ke Riyadh?

Jamal (59), seperti dikutip dari laman CNN, awalnya adalah orang dalam kerajaan Saudi yang berubah menjadi kritikus dan menjadi kolumnis untuk The Washington Post. Dia tidak pernah tampak keluar lagi dari gedung konsulat tersebut setelah memasukinya pada 2 Oktober lalu untuk mengurus dokumen yang akan memungkinkannya menikahi tunangan Turki-nya.

Pihak Turki dengan cepat menyatakan bahwa Jamal tekah dibunuh di dalam konsulat. Tunangan Jamal, Hatice Cengize, belakangan diketahui menunggu di luar konsulat sambil memegang iPhone Jamal. Saudi Arabia sebelumnya menegaskan bahwa Jamal meninggalkan gedung itu hidup-hidup, tetapi Cengiz mengatakan dia tidak pernah melihatnya lagi.

Kemarin (Selasa/16/10/2018), seorang pejabat tinggi Turki yang tak bersedia diungkapkan identitasnya, mempertegas informasi tentang kemungkinan jasad Jamal dimutilasi seperti yang dalam beberapa hari ini menjadi pembicaraan.

Sang pejabat berbicara seusai polisi menggeledah konsulat Saudi di Istanbul pada Senin malam. Kepada CNN, pejabat ini menegaskan kembali bahwa tubuh Jamal dipotong-potong setelah dia dibunuh.

Postcomended   Baru Dibentuk, KPK Arab Saudi Langsung Tangkap Alwaleed dan 10 Pangeran Lainnya

Presiden Recep Tayyip Erdogan Selasa pagi, dilansir laman CNN, mengatakan, para penyelidik Turki mencari  kemungkinan adanya “racun”, dan menemukan material-material yang baru dicat lagi. “Harapan saya adalah kami dapat mencapai kesimpulan yang akan memberi kami pendapat yang masuk akal sesegera mungkin” kata Erdogan kepada wartawan.

Satu sumber yang akrab dengan penyelidikan yang sedang berlangsung mengatakan kepada CNN, Jumat (12/10/2018) bahwa pemerintah Turki memiliki bukti audio dan visual yang menunjukkan Jamal dibunuh di dalam konsulat Saudi.

Apple Watch

Terkait bukti audio visual ini, pada Sabtu (13/10/2018), satu sumber intelijen Turki mengungkapkan kepada media pro-pemerintah, Sabah, bahwa Jamal menyalakan perekam dalam perangkat Apple Watch-nya sebelum memasuki konsulat. Perangkat ini terhubung dengan iPhone Jamal yang dipegang tunangannya, Hatice.

Media tempat Jamal bekerja, The Washington Post, sebelumnya mengaku mendapatkan video dan rekaman suara pembunuhan itu. Tapi tidak diketahui apakah itu berasal dari Apple Watch milik Jamal atau bukan.

The Washington Post yang mengutip sumber anonim menyebutkan, rekaman tersebut memperdengarkan suara Jamal dan dan suara pria-pria berbicara Arab. “Anda bisa mendengar bagaimana dia diinterogasi, disiksa, lalu dibunuh,” sebut sumber anonim itu.

Sabah menuliskan, agen intelijen Saudi menyadari interogasi dan pembunuhan Jamal terekam di Apple Watch tersebut dan berupaya mendapatkan akses ke dalamnya. Gagal menerka PIN-nya, intel Saudi itu, seperti ditulis Sabah, berhasil membukanya dengan sidik jari Jamal dan menghapus beberapa rekaman, tapi tidak semuanya.

Postcomended   Riz Ahmed, Muslim dan Asia Pertama yang Memenangkan Emmy Awards

Namun Sabah tidak menjelaskan bagaimana sidik jari bisa membuka Apple Watch. Pasalnya tidak seperti iPhone, Apple Watch tidak memiliki teknologi identifikasi sidik jari. Sejumlah pengamat teknologi juga menyangkal kemungkinan itu, kecuali dengan membukanya dari iPhone Jamal yang dipegang tunangannya.

Sebagian lain menduga bahwa rekaman suara itu mungkin berasal dari alat penyadap di dalam konsulat, namun karena pihak Turki menghindari dugaan melakukan penyadapan di dalam konsulat negara lain, maka intel Turki mengatakan rekaman itu dari Apple Watch. Pengamat di lembaga riset Gulf State Analytics kepada media Inggris, The Independent, mengatakan, adalah praktik yang biasa dilakukan badan intelijen ketika kedutaan-kedutaan besar dibangun, mereka menyelipkan sebanyak mungkin penyadap tanpa terdeteksi.(***/dariberbagaisumber)

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top