Genesis dari Hyundai menempati peringkat pertama “2018 Initial Quality Study” (sumber foto: caradvice.com.au)

Studi tahunan J.D. Power, menetapkan bahwa produsen mobil Korea dengan merek Genesis, telah mencetak “trifecta”, disusul produsen mobil Korea lainnya, Hyundai dan KIA. Mereka menempati tiga tempat teratas dalam studi tentang kualitas mobil yang diawasi ketat ini, melampaui Porsche. Mobil-mobil Eropa dan Amerika tidak populer karena sistem elektroniknya dianggap rumit.

Merek Korea, Jerman, dan Amerika Serikat (AS), memimpin Studi Kualitas Perdana JD.Power’s 2018 ini. Genesis, pabrikan kelas mewah dari Hyundai Motor Co., menempati peringkat No. 1 dengan 68 masalah yang dilaporkan per 100 kendaraan. Sementara itu, KIA dan Hyundai tertinggal di belakang.

Ketiganya berhasil menggeser posisi pemimpin lama asal jepang, Toyota dan Honda. Dua merek terkenal asal Negeri Matahari Terbit ini berada di bawah rata-rata dalam Studi Kualitas Perdana 2018, yang didasarkan pada survei konsumen setelah 90 hari kepemilikan suatu merek kendaraan.

“Dimulai dari puncak peringkat yakni Hyundai,” kata Dave Sargent, wakil presiden riset kendaraan global untuk J.D. Power. “Ketika mereka (para konsumen yang menjadi subjek penelitian) pertama kali memiliki kendaraan, mereka adalah konsumen yang rakus pada input pelanggan.”

Khusus pasar AS, keandalan menjadi lebih baik untuk sebagian besar model mobil otomatis. Jumlah rata-rata masalah per 100 kendaraan turun empat poin dibandingkan tahun lalu, menjadi 93. Banyak dari cacat yang dilaporkan adalah masalah desain, terutama yang menggunakan jaringan elektronik.

Ketika konsumen mengalami kesulitan atas sistem audio yang ada untuk melakukan apa yang mereka inginkan, itu tidak dapat diperbaiki dengan mengunjungi dealer seperti jika mobil mengalami kebocoran oli.

“(Keluhan untuk) masalah mekanis tidak separah dulu. Urusan infotainment (sekarang) adalah masalah yang tertinggi pada kendaraan. Masalah desain membuat pelanggan lebih gila daripada kerusakan (mekanik),” kata Sargent.

Disukai Karena Tidak Rumit
Sargent mengatakan, merek Korea dan Porsche menduduki peringkat tertinggi karena mereka menjaga sistem elektronik dan infotainmen mereka sederhana, dan menghindari kerumitan pada perangkat lunak sehingga menghindari kebingungan konsumen.

KIA Motors Corp, yang 34 persen sahamnya dimiliki Hyundai, menempati posisi kedua, dengan 72 masalah per 100 kendaraan. Hyundai naik dari urutan keenam tahun lalu ke posisi ketiga dengan skor 74, lima masalah lebih sedikit dari Porsche.

Di sisi lain dari spektrum studi, adalah Volvo. Merek Swedia yang dimiliki oleh China Zhejiang Geely Holding Group Co ini menempati posisi ke-29 dari 31 merek dalam penelitian ini. Sistem infotainmennya yang kompleks menjadi penyebab utama munculnya masalah bagi konsumen, kata Sargent.

Jaguar dan Land Rover dari Tata Motors Ltd. memiliki masalah serupa dan masing-masing menempati peringkat dua terbawah. Merek-merek utama Jerman, Daimler AG dan BMW AG, masing-masing memiliki banyak perangkat elektronik yang rumit, yang bikin konsumen pusing.
Mobil-mobil produknya, BMW dan Mercedes-Benz, sedikit mendapat penilaian lebih baik dari rata-rata industri yang ada, dengan skor masing-masing 87 dan 92.

Detroit Memuncaki Jepang
Toyota Motor Corp dan Honda Motor Co. telah jatuh kembali karena keluhan tentang perangkat elektroniknya. “Keduanya memiliki masalah dengan teknologi baru,” kata Sargent. Toyota berada di peringkat ke-17 dan Honda ke-23.

Kedua merek Jepang ini relatif stabil dalam hal jumlah masalah yang dilaporkan pelanggannya, tetapi perusahaan lain –termasuk nama-nama mobil Amerika– telah bergerak lebih maju. Merek Ford ada di posisi kelima dengan skor 81 masalah per 100 mobil, dan Chevrolet keenam dengan skor 82. Ram terikat di posisi kedelapan dengan skor 84.

Kesulitan untuk Detroit, Sargent mengatakan, adalah bahwa Ford Motor Co., General Motors Co., dan Fiat Chrysler Automobiles NV, tidak mendapat pujian atas kemajuan mereka. “Jika Anda bertanya kepada orang biasa di jalan, mereka mungkin akan mengatakan kepada Anda bahwa Jepang memiliki kualitas yang lebih baik,” kata Sargent.(***/bloomberg)

Share the knowledge