Dari sejak lahir hingga mati, orang Indonesia memiliki identifikasi tak lepas dari batik. Baru lahir, anak dibedong menggunakan kain batik. Ketika mati, jenazah ditutup menggunakan kain batik. Meskipun sejarahnya berasal dari lingkungan ningrat Jawa, namun dalam perkembangannya baju batik tidak mengenal kasta. Pedagang hasil bumi berkeliling menggunakan kemeja batik, namun kemeja batik juga dikenakan untuk acara-acara bergengsi kenegaraan hingga pesta pernikahan. Batik, menjadi inspirasi banyak orang Indonesia, termasuk bagi perempuan bernama Retno Dyah. 

Layaklah jika pada 2009, organisasi PBB yang mengurusi pendidikan dan budaya, UNESCO, akhirnya mengakui batik Indonesia sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Batik bagi orang Indonesia sudah seperti minum teh: tak kenal tempat, waktu, maupun kemasan. Maka tidak heran jika kreativitas orang Indonesia banyak terinspirasi oleh batik.

Motif batik khas Indonesia seperti parang rusak atau kawung diaplikasikan orang pada media selain kain, misalnya kayu, sudah biasa. Bagaimana jika pada makanan, akankah anda bersedia memakannya?

Postcomended   SUDIRMAN STREET

Percaya atau tidak, seorang pengusaha batik, sukses dengan ide yang awalnya terkesan nyeleneh, yakni membuat bolu gulung bermotif batik. Kenyataannya orang banyak menyukai bolunya. Bahkan kini sudah membuka kursus membuat bolu motif batik alih-alih membatik di kain menggunakan canting. Pesertanyapun datang hingga dari negeri jiran.

Sang pengusaha bolu batik adalah Retno Dyah (45). Dikutip dari Bisnis, Retno tumbuh di lingkungan pengusaha batik tulis di Yogyakarta. Tak heran jika Retno sering menggunakan barang-barang yang berbau batik selain meneruskan usaha batik keluarga.

Dalam kesehariannya, Retno mengemas batik jualannya dengan digulung lalu dihiasi pita; sekilas mirip bolu gulung. Dari sinilah Retno menarik ide membuat bolu gulung bermotif batik, alih-alih meneruskan keahliannya membatik di atas kain.

Menurut Retno di situs Bolubatik.com, dia mulai bereksperimen pada 2014. Puluhan kali gagal, hingga pada bulan ke-2 dia berhasil menemukan formula akhir untuk bolu gulung batiknya itu.

Postcomended   Lagi, Rendang Terlezat! Facebooker Indonesia Kompak?

“Bisa dibilang yang menemukan bolu batik adalah saya,” tuturnya dengan bangga kepada Bisnis. Retno memulai usaha bolu batiknya dengan modal sekitar Rp 500 ribu. Konsumen pertamanya adalah teman dan para kenalan.

Berkat liputan satu televisi, bolu batiknya kian dikenal. Hingga pada Lebaran 2014, pesanan bolu batiknya melonjak hingga lebih dari 1.000, yang membuat Retno harus membeli mixer besar dan merekrut tetangganya. Sebagian bahkan menjadi rezeki murid-murid kursusnya.

Meskipun bolunya mengandung banyak warna, namun Retno menggunakan pewarna makanan yang aman. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan adalah yang sudah memiliki sertifikasi halal, sehingga tak perlu sertifikasi khusus.

Selain membuka kursus di tempat, Retno juga sudah melakukan kursus keliling, bahkan hingga Singapura dan Malaysia, selain di kota-kota besar di Indonesia.

Postcomended   Lagi, Rendang Terlezat! Facebooker Indonesia Kompak?

Nurilah, peserta kursus asal Trengganu, Malaysia, mengatakan, dia diajari detail sampai bisa membuat sendiri dengan bener. “Nanti akan saya kembangkan dengan batik lokal,” ujarnya.***