Nasional

NatGeoAsia Meminta Berpikir Dua Kali Sebelum Dukung Industri Kopi Luwak

Share the knowledge

 

Dipaksa makan kopi, lalu fesesnya yang mengandung biji kopi ditambang untuk menghasilkan kopi termahal di dunia. Namun beberapa pelaku insdustri ini masih memperlakukan hewan ini secara tidak berperikebinatangan (gambar dari: https://news.mongabay.com/2016/05/worlds-expensive-coffee-often-produced-caged-abused-civets-study-finds/)

Dipaksa makan kopi di dalam kendang sempit dan kotor, lalu fesesnya yang mengandung biji kopi ditambang untuk menghasilkan kopi termahal di dunia. Namun beberapa pelaku insdustri ini masih memperlakukan hewan ini secara tidak berperikebinatangan (gambar dari: https://news.mongabay.com/2016/05/worlds-expensive-coffee-often-produced-caged-abused-civets-study-finds/)

Postingan akun Instagram National Geographic Asia, Sabtu (18/5/2019), mengulas nasib hewan luwak yang dipaksa menghasilkan feses biji kopi dengan mengurungnya di sangkar sempit. Dalam postingannya, laman itu menulis: “pikirkan dua kali sebelum Anda mendukung industri ini.”

Eksploitasi hewan luwak untuk menghasilkan feses biji kopi yang harganya selangit setelah diolah menjadi bahan baku minuman kopi, bukan isu baru. Namun selama proses ini menghasilkan komoditi yang menguntungkan, tak ada yang dapat menjamin kesejahteraan mamalia malam yang malang ini.

Dalam kepsyen yang menyertai foto seekor hewan luwak yang meringkuk di kandang sempit yang kotor, akun @natgeoasia menulis: “Diikat di dalam sangkar kecil, musang palem Asia ini (Paradoxurus hermaphroditus) akan menghabiskan sisa hidupnya dengan memakan #coffee ceri dan ‘membuang’ biji-bijinya, karena di suatu tempat, seseorang berpikir bahwa proses ini membuat kopi terasa lebih enak.”

Lebih lanjut akun ini menyebutkan: #KopiLuwak adalah salah satu dari #coffees termahal di dunia sekarang. Di sisi lain, ratusan dan ribuan musang dicekok paksa dengan kopi dalam sistem kendang berderet di seluruh Asia Tenggara untuk memasok pasar yang menguntungkan ini.

“Lain kali jika Anda sedang berlibur di #Bali, pikirkan dua kali sebelum Anda mendukung industri #inhumane ini,” sebut akun itu seraya menyertakan tagar #luwak #luwakcoffee #indonesia.

Postcomended   City Brain Alibaba Klaim Berhasil Turunkan Kemacetan Parah di Hangzhou

Postingan ini kontan mendapatkan reaksi dari sejumlah warganet, antara lain dari warga Indonesia yang alih-alih bereaksi bangga namun sebenarnya memprihatinkan isu ini. “Kopi luwak dari Indonesia,” tulis akun @robikurniawan501 disertai emoji “tepuk tangan”.

Akun @seeyaleia menulis: “Benar-benar menghancurkan hatiku,” ujarnya disertai emoji menangis, mewakili mayoritas warganet yang berkomentar pada postingan tersebut. Akun lainnya mengajak memboikot kopi luwak.

Namun ada juga yang berupaya menetralisasi. @irdneh menulis: “Tidak semua tempat memperlakukan #luwak seperti itu, bahkan beberapa komunitas #bali melepaskan semua luwak yang mereka temukan, Anda harus pergi ke #munduk untuk melihat proyeknya.

Senada, @rajdite.gurkha mengatakan: “Belum tentu di kandang mungil. Beberapa memang seperti itu, tetapi banyak yang mengumpulkan kotoran luwak dari hutan untuk menyiapkan kopi luwak.” Semua komentar warganet menggunakan Bahasa Inggris.

Mengutip dari laman institusi yang sama, nationalgeographic.com, disebutkan bahwa kopi luwak adalah kopi termahal di dunia yang dibuat dari kotoran. “Atau lebih tepatnya, itu dibuat dari biji kopi yang sebagian dicerna dan kemudian dibuang oleh musang, makhluk seperti kucing. Secangkir kopi luwak, seperti diketahui, dapat dijual seharga 80 dollar AS (sekitar Rp 1,1 juta) di Amerika Serikat (AS).

Menurut laman itu, pada awalnya perdagangan kopi luwak berimplikasi positif untuk makhluk-makhluk ini. Di Indonesia, musang palem Asia, yang menyerang kebun buah komersial, sering dianggap sebagai hama, sehingga pertumbuhan industri kopi luwak mendorong penduduk setempat untuk (justru) melindungi musang demi kotoran mereka yang berharga.

“Enzim pencernaan mereka mengubah struktur protein dalam biji kopi, yang menghilangkan sebagian keasaman untuk membuat secangkir kopi yang lebih halus,” sebut nationalgeographic.com.

Tetapi karena kopi luwak telah mendapatkan popularitas, dan dengan Indonesia tumbuh sebagai tujuan wisata di mana pengunjung ingin melihat dan berinteraksi dengan satwa liar, lebih banyak luwak liar terkurung di dalam kandang di perkebunan kopi. Sebagian, ini untuk produksi kopi, tetapi itu juga agar uang dapat diperoleh dari “wisata musang”.

Postcomended   Ilmuwan Eksplorasi Penggunaan Belatung dan Serangga untuk Sosis dan Eskrim

Para peneliti dari Unit Penelitian Pelestarian Satwa Liar dari Oxford University dan World Animal Protection yang berpusat di London telah meneliti  kondisi kehidupan hampir 50 musang liar yang ditahan di kandang di 16 perkebunan di Bali. Hasilnya, yang diterbitkan di jurnal Animal Welfare pada 2016, melukis gambaran suram.

Setiap perkebunan yang dikunjungi para peneliti, kata laporan di jurnal tersebut, gagal memenuhi persyaratan kesejahteraan hewan, mulai ukuran dan sanitasi kandang hingga kemampuan penghuninya untuk bertindak seperti musang normal.

“Beberapa dari kandang ini secara harfiah adalah yang terkecil, kita menyebutnya kandang kelinci. Mereka benar-benar basah kuyup dengan air seni dan kotoran di semua tempat,” kata Neil D’Cruze, salah seorang peneliti.
Beberapa musang sangat kurus, karena diberi makanan terbatas hanya kopi ceri; buah yang meliputi biji kopi.

“Beberapa (malah) mengalami obesitas, karena tidak pernah bisa bergerak bebas. Dan beberapa didongkrak oleh kafein,” ungkap D’Cruze.

Hewan luwak dapat ditemukan di Asia Tenggara dan Afrika sub-Sahara. Hewan sejenis musang ini memainkan peran penting dalam rantai makanan. Dia memakan serangga dan reptil kecil selain buah-buahan seperti ceri kopi dan manga. Pada gilirannya, mereka merupakan mangsa bagi macan tutul, ular besar, dan buaya.***

 

 

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top