Sementara itu, Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K), mengatakan, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat pengatur haid yaitu: riwayat sakit kepala hebat atau migraine, riwayat tromboflebitis atau tromboemboli, varises berat, kanker payudara, perdarahan dari vagina yang belum diketahui penyebabnya, penyakit hati atau gangguan fungsi hati, penyakit jantung dan pembuluh darah, riwayat preeklamsia dalam kehamilan, diabetes yang berkomplikasi, hipertensi berat atau yang tidak terkontrol dengan baik, penggunaan obat-obatan rutin terutama obat TBC dan kencing manis, dan riwayat depresi atau gangguan kejiwaan.

Namun bagi yang tidak memiliki riwayat kesehatan seperti di atas itu, diperbolehkan mengonsumsi obat pengatur haid. Namun dia menyarankan agar menghindari penggunaan suntik KB untuk mencegah haid. Dwiana mengatakan, penggunaan suntik KB dalam 2-3 bulan pertama biasanya memiliki efek samping pendarahan. Apalagi kata dia, tidak semua orang boleh menggunakan pil penunda haid, misalnya untuk orang dengan faktor-faktor risiko di atas.

Untuk meyakinkan diri, dia menyarankan agar calon jamaah haji memeriksakan diri ke dokter 3 bulan sebelumnya atau diupayakan jangan kurang dari 1 bulan. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan atau kondisi lain yang bisa menimbulkan komplikasi, dan rencana pemberian obat pengatur ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan siklus bulanannya.

Postcomended   HAARP: Hugo Chavez Menyebutnya "Senjata Tektonik"

Karena kondisi kesehatan dan siklus setiap orang berbeda-beda, pemberian pil pengatur haid tidak bisa dilakukan secara masal. “Pil penunda haid itu bukan obat yang simsalabim langsung stop, tapi harus direncanakan dan diperiksa terlebih dahulu,” ujar Dr Ovi dari Departemen Obstetri dan Ginekoligi FKUI/RSCM.

Share the knowledge