Cerita Dibalik Tabur Bunga Lee Kuan Yew di Pusara Usman-Harun ... Strategi Militer - blogger663 × 382Search by image Tabur bunga PM Lee Kuan Yew di atas pusara Usman dan Harun di TMP Kalibata. (Foto diambil dari buku Soeharto The Untold Stories) | (Koleksi Museum Purna ...

Cerita Dibalik Tabur Bunga Lee Kuan Yew di Pusara Usman-Harun … Strategi Militer – blogger663 × 382Search by image Tabur bunga PM Lee Kuan Yew di atas pusara Usman dan Harun di TMP Kalibata. (Foto diambil dari buku Soeharto The Untold Stories) | (Koleksi Museum Purna …

Empat puluh delapan tahun silam, dua anggota TNI-AL (dulu KKO: Korps Komando Operasional), Usman dan Harun, dihukum gantung oleh pemerintah Singapura. Keduanya dianggap terbukti membom kompleks perkantoran Singapura pada 10 Maret 1965 dalam peristiwa konfrontasi terhadap Malaysia. Ketika Singapura menganggap mereka teroris, Indonesia malah memberi status pahlawan dan menjadikan nama mereka sebagai nama kapal perang Republik Indonesia (KRI). Kontan Singapura protes.

Pada 2014, Kementerian Luar Negeri Singapura dalam pernyataannya menyampaikan keberatan atas pemberian nama kapal perangnya yang tidak memikirkan dampaknya bagi perasaan warga Singapura, khususnya keluarga korban.

Serangan yang dilakukan Usman Bin Hj Mohd Ali alias Usman Janatin, dan Harun Said alias Harun Thohir ini, adalah bagian dari peristiwa konfrontasi “Ganyang Malaysia!”-nya Bung Karno, di mana Singapura ketika itu masih bagian dari Malaysia.

Konfrontasi terhadap Malaysia adalah untuk menunjukkan keberatan Indonesia atas niat memasukkan Singapura, Sabah, Sarawak, serta Brunei, dalam negara federasi Malaysia yang baru terbentuk.

 

Pada 10 Maret 1965, sore hari, sebuah bom berbahan nitrogliserin yang berkekuatan besar, meledak di dalam Gedung MacDonald House, Orchard Road, Singapura. Bangunan hancur, menewaskan tiga orang (karyawan bank dan seorang sopir) dan melukai 33 lainnya.

Saksi mata mengatakan, sebuah tas travel diletakan dua orang di lantai mezanin gedung. Kedua orang tersebut akhirnya teridentifikasi sebagai anggota KKO (marinir era Sukarno).

Tiga hari setelah kejadian, keduanya ditangkap di perairan saat hendak keluar dari Singapura. Rekonstruksi otoritas Singapura menyebutkan, Usman dan Harun berpakaian seperti warga sipil saat masuk ke gedung MacDonald House. Beberapa menit setelah meninggalkan gedung pada sekitar pukul tiga sore, bom pun meledak.

Pada 20 Oktober 1965, Usman dan Harun divonis hukuman mati oleh Pengadilan Singapura. Upaya sekedar meringankan hukuman keduanya lewat kasasi, bahkan lobi Presiden Suharto, gagal. Hari ini, tahun 1968, mereka menghadapi tiang gantungan.

Rakyat Indonesia marah. Kedutaan Besar Singapura di Jakarta dirusak massa. Gelombang panas kebencian mereda setelah Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang bersahabat dengan Soeharto, bersedia menabur bunga di pusara Usman dan Harun.

Hubungan kedua negara ini mencapai titik terendah ketika Habibie diakhir 1990-an, seusai suksesi Soeharto, menyebut negara itu sebagai ”titik merah kecil” di peta, dan kembali menghangat ketika Indonesia mengabadikan nama keduanya sebagai nama kapal perang frigatnya pada 2014.***

Share the knowledge