Loading...
Internasional

Pabrik Boeing Chicago Dituntut Keluarga Co-Pilot Lion Air JT610

Share the knowledge

 

https://chicago.cbslocal.com/2010/10/07/boeing-delivered-124-commercial-planes-in-3q/

Keluarga co-pilot Lion Air menyusul menuntut perusahaan Boeing di Chicago (Gambar dari: chicago.cbslocal.com)

Keluarga co-pilot dari Lion Air JT610 yang jatuh Oktober lalu di Laut Jawa dan menewaskan 189 orang di dalamnya, telah mengajukan gugatan “kematian yang salah” terhadap Boeing Co di Chicago. Tuntutan ini menambah tumpukan upaya hukum yang harus dihadapi produsen kapal terbang ini di kota kelahirannya.

Gugatan, yang diajukan Jumat (29/12/2018) di Pengadilan Sirkuit Wilayah Cook, Illinois, ini, seperti dilaporkan Reuters, menuduh bahwa Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air berbahaya karena sensornya memberikan informasi yang tidak konsisten kepada pilot dan pesawat. Boeing menolak berkomentar tentang proses pengadilan yang tertunda.

Lion Air Penerbangan 610 jatuh ke Laut Jawa setelah lepas landas dari Jakarta pada 29 Oktober 2018. Pengaduan  diajukan atas nama janda pilot Harvino dan tiga anaknya, yang semuanya berasal dari Jakarta.

Postcomended   Jumlah Lansia Sehat Harus Meningkat

Tuntutan ini juga menuduh bahwa instruksi manual yang disediakan oleh Boeing untuk pesawat yang baru berusia dua bulan ini tidak memadai, yang berdampak pada kematian pilot, kru dan penumpangnya.

Dalam sebuah pernyataan, firma hukum Gardiner Koch Weisberg & Wrona mengatakan, Harvino dan Kapten Penerbangan 610, Bhayve Suneja (asal India), sama-sama pilot berpengalaman. Mereka masing-masing setelah mencatat lebih dari 5.000 dan 6.000 jam terbang sebelum kecelakaan itu terjadi.

Sebelumnya, dua tuntutan hukum lainnya telah diajukan terhadap Boeing di Chicago oleh para korban Lion Air JT610. Sebuah laporan pendahuluan oleh para penyelidik Indonesia (KNKT) berfokus pada pemeliharaan dan pelatihan maskapai penerbangan, dan respons sistem anti-stall Boeing terhadap sensor yang baru saja diganti tetapi tidak memberikan alasan bagi kecelakaan itu.

Postcomended   Indonesia Gelar MoU dengan Thailand, Gubernur Chiang Mai Pastikan ke FPI Borobudur

Salah satu penyelidik, Nurcahyo Utomo, mengatakan kepada wartawan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan apakah versi baru sistem anti-stall, yang tidak dijelaskan kepada pilot dalam manual, merupakan faktor penyebab kecelakaan.

Sepuluh hari setelah kecelakaan, seperti dilansir The Guardian, Boeing diketahui mengirimkan instruksi kepada maskapai-maskapai penerbangan yang menggunakan jet 737 Max tentang bagaimana pilot harus bereaksi terhadap pembacaan yang keliru oleh alat sensor.

Kotak hitam JT610, disebut telah mengungkap adanya indikasi perbedaan cara pilot dan perwira pertama (co-pilot) dalam mereaksi alat sensor angle of attack (AOA). Ahli penerbangan mengatakan temuan awal menunjukkan bahwa pilot dan perwira pertama penerbangan JT610 tidak tahu pada kecepatan apa mereka terbang.

Seperti diwartakan sebelumnya, kotak hitam penerbangan JT610 mengungkap bahwa pesawat mengalami masalah kecepatan udara pada empat penerbangan terakhirnya.***

Postcomended   Erupsi Sinabung Dan Tantangan Pariwisata Karo Ke Depan
Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top