Ilmuwan AS telah Peringatkan Rotasi Bumi yang Melambat Dapat Memanen Gempa Bumi

Ilmuwan AS telah Peringatkan Rotasi Bumi yang Melambat Dapat Memanen Gempa Bumi

Internasional Opini
Share the knowledge

Gempa Bumi besar yang mengguncang dua wilayah di kepulauan Indonesia dalam waktu berdekatan, memunculkan kembali diskusi tentang Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api. Artinya, lempeng Bumi di bawah kawasan Indonesia baik di darat maupun laut, sarat dengan patahan dan gelegak magma. Namun pada akhir 2017 silam, sekelompok ilmuwan telah memperingatkan bahwa Bumi sedang memasuki fase “rotasi yang melambat”, dan ini rawan memicu gempa Bumi, terlebih di wilayah sarat patahan di wilayah khatulistiwa.

Sudah lebih dari 400 jiwa melayang akibat gempa Bumi dan tsunami yang menimpa kawasan Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018). Disebutkan bahwa di Palu terdapat patahan Palu-Koro sepanjang 1.000 km yang membentang dari Palu sampai Teluk Bone.

Patahan ini merupakan bagian dari “Ring of Fire” alias Cincin Api, suatu area berbentuk tapal kuda di Cekungan Samudera Pasifik, dengan panjang total 40.000 km, yang bertanggung jawab atas 90% gempa Bumi di seluruh dunia.

Zona seismik paling aktif di planet ini tersebut, membentang dari Jepang dan Indonesia di satu sisi Samudra Pasifik, lalu menyeberang ke California dan Amerika Selatan di sisi lain. “Lempeng tektonik dan Cincin Api adalah alasan utama mengapa Indonesia memiliki begitu banyak gempa bumi dan letusan gunung berapi,” kata ahli meteorologi CNN, Allison Chinchar. “Bumi di bawah mereka terus berubah dan terus bergerak.”

Seperti kita ketahui, awal September lalu –di tengah terjangan topan Jebi– Jepang juga dihantam gempa Bumi 6,7 SR yang memicu longsor di sejumlah tempat. Sebelumnya, pada Agustus, kawasan Peru-Brasil, juga Venezuela diguncang gempa Bumi masing-masing 7,1 dan 7,3 SR.

Rotasi Bumi Melambat

Kerak Bumi yang selalu bergerak sepanjang umurnya, adalah pemicu abadi bertumbukannya patahan-patahan tersebut baik yang bergerak secara horisontal maupun vertikal. Namun pada 21 November 2017, dua ilmuwan Amerika sebenarnya secara khusus pernah memperingatkan bahwa ada kemungkinan terjadi peningkatan jumlah gempa dahsyat di seluruh dunia pada 2018.

Mereka percaya, kecepatan rotasi Bumi yang berubah-ubah bisa memicu aktivitas seismik yang intens. Meskipun fluktuasi rotasi semacam itu kecil –mengubah panjang hari ini dengan ukuran milidetik– namun masih bisa melepaskan sejumlah besar energi bawah tanah.

Postcomended   Puluhan Yachter Dunia Siap Ramaikan Sabang Marine Festival 2019

Hubungan antara rotasi Bumi dan aktivitas seismik ini, disorot dalam makalah yang disusun Roger Bilham dari Universitas Colorado dan Rebecca Bendick dari Universitas Montana, keduanya di Amerika Serikta (AS).

Dalam presentasinya pada pertemuan tahunan Masyarakat Geologi Amerika tersebut, Bilham mengatakan –seperti dilansir laman The Guardian— bahwa korelasi antara rotasi Bumi dan aktivitas gempa sangat kuat. Dia menyebutkan ketika itu bahwa akan terjadi peningkatan jumlah gempa Bumi yang hebat pada tahun depan (2018).

Prediksi Bilham dan Bendick ini didasarkan pada pengalaman bahwa telah terjadi periode sekitar lima tahun ketika rotasi Bumi melambat sedemikian banyaknya beberapa kali dalam satu setengah abad terakhir, dan secara krusial periode ini diikuti peristiwa gempa Bumi yang meningkat.

Bilham menjelaskan, Bumi memberi ancang-ancang lima tahunan kepada manusia untuk memprediksi gempa di masa depan. Sementara itu, rotasi Bumi telah memulai salah satu pelambatan periodiknya lebih dari empat tahun yang lalu.

Maka jelas, kata Bilham, tahun depan kita harus bersiap menghadapi peningkatan signifikan jumlah gempa Bumi parah. Penurunan “panjang hari” dikaitkan dengan gempa Bumi ini masih tidak jelas, meskipun para ilmuwan menduga bahwa sedikit perubahan pada perilaku inti Bumi dapat menyebabkan efek tersebut.

Selain itu, sulit untuk memprediksi di mana gempa ekstra ini akan terjadi, walaupun Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi yang hebat yang merespons terjadinya perubahan pada “panjang hari”, tampaknya terjadi di dekat khatulistiwa.***

 

 

 

 

 

 

Kepulauan Indonesia dikenal sering mengalami gempa karena terletak di area Cincin Api, area utama di cekungan Samudera Pasifik di mana gempa Bumi dan letusan gunung berapi marak terjadi.
Garis Cincin Api ini berbentuk tapal kuda, dengan panjang 40.000 km, yang bertanggung jawab atas sekitar 90 persen gempa Bumi di seluruh dunia. Ini termasuk tsunami Samudra Hindia 2004 yang menewaskan 226.000 orang di 13 negara. Jumlah korban terbesar berasal dari Indonesia, di mana 120.000 orang meninggal.
Postcomended Tancab Gas Entaskan Kerawanan Pangan di NTB
Cincin Api menyebabkan begitu banyak gempa Bumi karena lempengan tektoniknya yang besar.
Indonesia terletak di perbatasan lempeng antara Australia dan lempeng Sunda yang mempengaruhi sebagian besar Asia Tenggara.

 

Postcomended   Sejumlah Perusahaan Termasuk Mozilla dan Tesla, Istirahatkan Facebook-nya #FacebookDown

 

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa ada kemungkinan terjadi peningkatan jumlah gempa dahsyat di seluruh dunia tahun depan. Mereka percaya, kecepatan rotasi Bumi yang berubah-ubah bisa memicu aktivitas seismik yang intens, terutama di daerah tropis yang padat penduduknya.
Meskipun fluktuasi rotasi semacam itu kecil –mengubah panjang hari ini dengan ukuran milidetik– namun masih bisa melepaskan sejumlah besar energi bawah tanah.

Hubungan antara rotasi Bumi dan aktivitas seismik, disorot bulan lalu dalam satu makalah oleh Roger Bilham dari Universitas Colorado di Boulder dan Rebecca Bendick dari University of Montana di Missoula yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Masyarakat Geologi Amerika.
“Korelasi antara rotasi Bumi dan aktivitas gempa sangat kuat dan menunjukkan akan terjadi peningkatan jumlah gempa Bumi yang hebat tahun depan,” kata Bilham kepada Observer pekan lalu. Dalam studi mereka, Bilham dan Bendick mengamati gempa berkekuatan 7 dan lebih besar yang terjadi sejak 1900.

Klo rotasi melambat laut akan mengalir ke kedua kutub menyebabkan banjir di Eropa dan surut di khatulistiwa termasuk Indonesia.
“Gempa-gempa bumi besar telah tercatat dengan baik selama lebih dari satu abad, dan ini memberi kita catatan bagus untuk dipelajari,” kata Bilham. Mereka menemukan lima periode ketika terjadi gempa berskala besar secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan waktu lain.

“Pada periode ini, terjadi 25 sampai 30 gempa Bumi dalam setahun,” kata Bilham. “Sisa waktu teraebut, rata-rata terjadi sekitar 15 gempa besar setahun.”

 

Para peneliti berupaya menemukan korelasi antara periode aktivitas seismik intens dan faktor lainnya, dan menemukan bahwa ketika rotasi Bumi sedikit menurun, akan diikuti oleh periode peningkatan jumlah gempa bumi yang intens. “Perputaran Bumi sedikit berubah, kadang-kadang satu milidetik per satu hari, dan itu bisa diukur dengan sangat akurat oleh jam atom,” kata Bilham.
Postcomended Waspadalah, Terlalu Banyak Konsumsi Gula Sederhana Dapat Turunkan Fungsi Berpikir
Bilham dan Bendick menemukan bahwa telah terjadi periode sekitar lima tahun ketika rotasi Bumi melambat sedemikian banyaknya beberapa kali dalam satu setengah abad terakhir. Secara krusial, periode ini lalu diikuti periode ketika jumlah gempa Bumi meningkat.
Bilham menjelaskan, Bumi memberi ancang-ancang lima tahunan kepada manusia untuk memprediksi gempa di masa depan. Sementara itu, rotasi Bumi telah memulai salah satu pelambatan periodiknya lebih dari empat tahun yang lalu.
Maka jelas, kata Bilham, tahun depan kita harus bersiap menghadapi peningkatan signifikan jumlah gempa Bumi parah. “Kita sudah melewati tahun ini dengan cukup mudah. Sejauh ini hanya ada enam gempa Bumi berat yang terjadi. Kita baru akan memiliki 20 tahun yang mudah lagi mulai 2018.”
Postcomended Dicari NASA: Petugas Pelindung Bumi
Penurunan “panjang hari” dikaitkan dengan gempa Bumi masih tidak jelas, meskipun para ilmuwan menduga bahwa sedikit perubahan pada perilaku inti Bumi dapat menyebabkan kedua efek tersebut.
Selain itu, sulit untuk memprediksi di mana gempa ekstra ini akan terjadi, walaupun Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi yang hebat yang merespons perubahan “panjang hari”, tampaknya terjadi di dekat khatulistiwa. Sekitar satu miliar orang tinggal di daerah tropis Bumi ini.(***/guardian)

Postcomended   Singapura Hanya Rogoh Kocek Rp 160 Miliar Kok

 

 


Share the knowledge

Leave a Reply