Internasional

Palaentolog Jerman Temukan Sayap Membatu, Seekor Dinosaurus Terbang

Share the knowledge

 

Rekonstruksi Alcmonavis poeschli, dinosaurus berbulu yang berukuran kecil dan bisa terbang (gambar dari: https://www.timesofmalta.com/mobile/articles/view/20190515/life-features/scientists-unearth-most-bird-like-dinosaur-ever-found.710052)

Rekonstruksi Alcmonavis poeschli, dinosaurus berbulu yang berukuran kecil dan bisa terbang (gambar dari: https://www.timesofmalta.com/mobile/articles/view/20190515/life-features/scientists-unearth-most-bird-like-dinosaur-ever-found.710052)

Para peneliti di Jerman telah menggali spesies baru dinosaurus terbang berukuran kecil, yang mengepakkan sayapnya seperti burung gagak. Mereka menyebut dinosaurus baru mirip-burung ini dengan nama Alcmonavis poeschli.

Dikutip dari laman AFP, Palaeontolog dari Ludwig-Maximilians University (LMU) di Munich dan University of Fribourg menemukan sayap yang membatu, yang pada awalnya dianggap sebagai spesies yang sama dengan Archaeopteryx, dinosaurus berbulu yang telah ditemukan lebih dulu.

Namun mereka segera menemukan beberapa perbedaan; temuan yang diharapkan dapat menyimpan petunjuk penting tentang bagaimana burung modern berevolusi dari nenek moyang reptil mereka.

Selama lebih dari satu setengah abad sejak penemuannya pada 1861, Archaeopteryx –dinosaurus berbulu seukuran gagak yang hidup di tanah rawa sekitar 150 juta tahun yang lalu– secara luas dianggap sebagai burung terbang tertua.

Namun ketika para Palaentolog memeriksa formasi batuan di wilayah Jerman di Bavaria, yang merupakan rumah bagi hampir semua spesimen Archaeopteryx yang dikenal, mereka menemukan bahwa temuan ini tidak seperti yang mereka duga semula tersebut.

Postcomended   Setiap Mamalia Laut yang Diteliti dalam Riset, Terkontaminasi Mikroplastik

“Ada beberapa kesamaan, tetapi setelah perbandingan terperinci dengan Archaeopteryx dan burung-burung lain yang secara geologis lebih muda, sisa-sisa fosilnya menunjukkan bahwa kita berurusan dengan burung yang agak lebih diturunkan,” kata penulis studi Utama, Oliver Rauhut, dari Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan Hidup LMU.

Mereka menyebut dinosaurus baru seperti-burung ini Alcmonavis poeschli, yang berasal dari kata Celtic lama untuk “sungai terdekat” dan nama ilmuwan yang menemukan fosil; pemimpin penggalian: Roland Poeschl.

Postcomended   Studi: Cina Kirim Tentaranya "Belajar" Sains dan Teknologi di Universitas Barat

Studi yang diterbitkan dalam jurnal eLife Sciences ini mengatakan Alcmonavis poeschli adalah “burung paling mirip burung yang ditemukan dari Jurassic”.

Selain secara signifikan lebih besar dari Archaeopteryx, spesimen baru ini memiliki lebih banyak lekukan pada tulang sayapnya yang menunjuk ke otot yang memungkinkannya mengepakkan sayapnya secara aktif.

Secara signifikan, sifat “mengepak” yang ditemukan di Alcmonavis poeschli ini ada pada burung yang lebih baru, tetapi tidak pada Archaeopteryx. “Ini menunjukkan bahwa keragaman burung di era Jurassic akhir lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Rauhut.

Penemuan ini kemungkinan akan memicu perdebatan di antara para pakar dinosaurus mengenai apakah burung dan dinosaurus mengembangkan kemampuan mengepakkan sayap mereka dari spesies yang meluncur sebelumnya.

“Adaptasinya menunjukkan bahwa evolusi penerbangan harus berkembang relatif cepat,” kata Christian Foth, dari University of Fribourg, dan penulis pendamping penelitian.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top