Internasional

Pemenang Nobel Sastra 2019 adalah Simpatisan Penjahat Perang Balkan

Share the knowledge

Dua pemenang Hadia Nobel Sastra masing-masing untuk 2018 dan 2019. (gambar dari: YouTube)

Dua pemenang Hadiah Nobel Sastra masing-masing untuk 2018 dan 2019. (gambar dari: YouTube)

Akademi Swedia mengumumkan dua pemenang Hadiah Nobel Sastra. Nobel Sastra 2018 diberikan kepada Penulis Polandia, Olga Tokarczuk. Sedangkan untuk 2019 jatuh ke tangan novelis dan penulis drama Austria, Peter Handke. Mengapa Nobel Sastra 2018 baru diumumkan sekarang?

Pemilihan Handke (76), dengan cepat dilihat sebagai pilihan yang bersifat memecah-belah karena sikap pro-Serbia-nya dalam perang Balkan; perang yang menjadi ajang pembantaian dan pembersihan etnis Muslim Bosnia.

Para ahli memperkirakan, Akademi Swedia –yang merupakan penyelenggara Hadiah Nobel– akan bersusah payah menghindari kontroversi atas terpilihnya Handke, di tengah mereka sedang berusaha memulihkan reputasinya yang ternoda akibat skandal pelecehan seksual yang menjadi penyebab ditundanya Nobel Sastra 2

Sementara itu Tokarczuk (57), adalah novelis Polandia yang dianggap paling berbakat di generasinya. Dia mendapat kehormatan untuk imajinasi naratif yang dengan hasrat ensiklopedis mewakili, melintasi batas, sebagai bentuk kehidupan.

Kepada Radio Swedia dia mengatakan tidak percaya telah menang, dan senang dapat berbagi hadiah dengan Handke, penulis favoritnya. “Sepertinya Eropa tengah masih hidup, terlepas dari semua masalah politik di bagian dunia kita, dan kita masih memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada dunia,” katanya.

Buku-buku Tokarczuk menggambarkan dunia polikromatik yang terus bergerak, dengan sifat-sifat karakter yang bercampur dan bahasa yang tepat dan puitis. Novel pertamanya, “The Journey of the People of the Book”, dirilis pada 1993, menceritakan sebuah ekspedisi yang gagal menemukan buku misterius.

Postcomended   Menyusul Bob Dylan, Penulis Inggris Keturunan Jepang Raih Nobel Sastra 2017

Putri seorang pustakawan sekolah ini pernah memenangkan Booker International Prize bersama dengan penerjemahnya, Jennifer Croft, untuk novel 2007 “Flights”, yang versi bahasa Inggrisnya keluar pada 2017.

Buku “The Books of Jacob” setebal 900 halaman miliknya, dipuji Akademi Swedia sebagai “magnum opus”, tersebar di tujuh negara, tiga agama, dan lima bahasa, menelusuri sejarah Frankisme yang tidak banyak diketahui; suatu sekte mesianis Yahudi yang bermunculan di Polandia pada abad ke-18.

Dirilis pada 2014, halaman-halamannya diberi nomor terbalik dengan gaya buku-buku Ibrani. Akademi menyebutnya: panorama yang sangat kaya dari bab yang hampir diabaikan dalam sejarah Eropa.

Sementara itu Handke mendapat Nobel untuk sebuah karya berpengaruh yang dengan kecerdikan linguistik telah mengeksplorasi batas dan kekhususan pengalaman manusia, kata Akademi. Ironisnya, pada 2014 Handke pernah menyerukan agar Hadiah Nobel Sastra dihapuskan, dengan mengatakan hadiah tersebut membawa pemenangnya pada “kanonisasi palsu”.

Postcomended   21 Desember dalam Sejarah: Duo Curie Temukan Radium, Sumbangan Besar Abad ke-19 pada Dunia Kesehatan

Putra seorang prajurit Jerman yang hanya sempat ditemuinya di masa dewasa, Handke kata Akademi, telah membuktikan diri sebagai salah satu penulis paling berpengaruh di Eropa setelah Perang Dunia Kedua. Karya-karyanya dipenuhi keinginan kuat untuk menemukan dan membuat penemuannya menjadi hidup dengan menemukan ekspresi sastra baru untuk mereka.

Karya-karya terkenalnya termasuk “Surat Pendek, Perpisahan Panjang”, koleksi puisi “The Innerworld of the Outerworld of the Innerworld”, dan “A Sorrow Beyond Dreams” tentang ibunya yang bunuh diri pada 1971.

Menghadiri Pemakaman Slobodan Milosevic

Handke memicu kontroversi ketika dia menghadiri pemakaman mantan Presiden Serbia, Slobodan Milosevic, pada 2006, dan menyatakan simpati kepada Serbia dalam perang Yugoslavia tahun 1990-an. Milosevic dijatuhi hukuman seumur hidup terkait kejahatan pembantaian dan pembersihan etnis terhadap Muslim Bosnia dalam perang tersebut.

Dia juga menggambarkan Thomas Mann, seorang raksasa sastra Jerman dan seorang pemenang Nobel 1929, sebagai “penulis yang sangat buruk” mengaduk-aduk “merendahkan, prosa berhidung ingus”.

Postcomended   Orang Amerika Lagi-lagi Raih Nobel

Tokarczuk dan Handke –yang keduanya mengatakan kepada Akademi bahwa mereka akan menghadiri upacara pemberian hadiah di Stockholm pada 10 Desember 2019, masing-masing akan membawa pulang cek senilai sembilan juta kronor (912.000 dollar AS).

Tokarczuk menjadi wanita ke-15 yang memenangkan penghargaan bergengsi, dari 116 penerima sastra yang dihormati sejak 1901.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top