(BBC)

Kim Jong Un membandel. Apakah terdengar aneh? Kenyataannya, KTT di Singapura antara pemimpin Korea Utara ini dengan Presiden AS Donald Trump Juni silam, entah dianggap apa oleh Kim, ketika ahli independen menemukan negeri ini ternyata belum menghentikan proyek nuklir dan rudalnya, Apakah Kim merasa dengan memulangkan sisa jasad sejumlah veteran perang AS ke AS akan membuat Donald Trump diam?

Trump memang belum secara khusus menanggapi pembangkangan Pyongyang ini. Dia mungkin sedang terlalu sibuk menangkal segala serangan yang kembali memanas ihwal skandal ntervensi Rusia untuk pemenangannya pada pemilu presiden AS 2016.

Namun para ahli independen yang terafiliasi ke PBB, telah melaporkan bahwa Pyongyang ternyata belum menghentikan program nuklir dan rudalnya, sebut laporan rahasia PBB yang dilihat Reuters, Jumat (3/8/2018). Laporan enam bulan oleh para ahli independen yang memantau pelaksanaan sanksi PBB ini diajukan kepada komite sanksi Korea Utara pada Jumat malam.

“(Korea Utara) belum menghentikan program nuklir dan rudalnya dan terus menentang resolusi Dewan Keamanan melalui peningkatan besar-besaran pengiriman dari kapal ke kapal secara ilegal, serta melalui transfer batubara di laut selama 2018,” para ahli menulis dalam laporan setebal 149 halaman, seperti dilaporkan Reuters.

Misi Korea Utara ke PBB tidak menanggapi permintaan untuk komentar atas laporan tersebut.
Laporan PBB mengatakan, Korea Utara bekerja sama secara militer dengan Suriah dan telah berusaha menjual senjata ke pemberontak Houthis, Yaman.

Dalam laporan itu juga disebutkan, Pyongyang melanggar larangan ekspor tekstil dengan mengekspor senilai lebih dari 100 juta dolar AS barang antara Oktober 2017 dan Maret 2018 ke Cina, Ghana, India, Meksiko, Sri Lanka, Thailand, Turki, dan Uruguay.

Postcomended   Tercorengnya Nobel Perdamaian Si Anggrek Baja #StopKillingRohingyaMuslims

Laporan itu muncul ketika Rusia dan Cina menyarankan Dewan Keamanan membahas pengurangan sanksi setelah KTT antara Trump dan Kim di Singapura dimana Kim berjanji untuk menuju denuklirisasi. Amerika Serikat dan anggota dewan lainnya mengatakan harus ada penegakan sanksi yang ketat sampai Pyongyang bertindak.

Para ahli yang berasal dari AS mengatakan, pengalihan produk minyak yang tidak sah dari kapal ke kapal di perairan internasional telah “meningkat secara lingkup, skala, dan kecanggihan”. Mereka mengatakan teknik utama Korea Utara adalah untuk mematikan sistem pelacakan kapal, tetapi mereka juga menyamarkan kapal secara fisik dan menggunakan kapal yang lebih kecil.

Postcomended   Tengok Akun Twitter Donald Trump, lalu Bayangkan 61% Followernya Ternyata Palsu

Dewan Keamanan telah dengan suara bulat menyetujui sanksi atas Korea Utara sejak 2006 dalam upaya untuk mencekik pendanaan untuk program rudal nuklir dan balistik Pyongyang, melarang ekspor termasuk batu bara, besi, timah, tekstil dan makanan laut, dan membatasi impor minyak mentah dan produk minyak olahan.

Para ahli mengatakan, pelarangan kerja sama militer dengan Republik Arab Suriah, masih berlaku. Namun mereka mengatakan, teknisi Korea Utara yang terlibat dalam pembangunan rudal balistik dan kegiatan terlarang lainnya, diam-diam telah mengunjungi Suriah pada 2011, 2016 dan 2017.

Laporan itu mengatakan bahwa para ahli sedang menyelidiki upaya yang dilakukan oleh Kementerian Peralatan Militer Korea Utara dan Badan Perdagangan Pembangunan Pertambangan Korea (KOMID) untuk memasok senjata konvensional dan rudal balistik ke kelompok Houthi Yaman.

Satu negara, yang tidak diidentifikasi, menunjukkan kepada para ahli surat 13 Juli 2016 dari seorang pemimpin Houthi yang mengundang Korea Utara untuk bertemu di Damaskus untuk membahas masalah transfer teknologi dan hal-hal lain yang menjadi kepentingan bersama,” sebut laporan itu.

Postcomended   Presiden Donald Trump Mulai Usik Perdagangan dengan Indonesia

Para ahli mengatakan bahwa efektivitas sanksi keuangan secara sistematis dirusak oleh “praktik tipu-tipu” yang dilakukan Korea Utara.***

Share the knowledge