Para Musisi Amerika dan Aliansinya Mulai Meluncurkan Kampanye “Justice at Spotify” untuk Mendapatkan Pembayaran Lebih Tinggi

Para Musisi Amerika dan Aliansinya Mulai Meluncurkan Kampanye “Justice at Spotify” untuk Mendapatkan Pembayaran Lebih Tinggi #beritahariini

Internasional Top
Share the knowledge

Di era jaman percepatan dan kecepatan dan banyak nya alternatif media yg mencocoki hidung kita,
cukuplah musik sebagai area untuk menghamburkan kebutuhan pragmatis dimana kurasi content begitu dilematis untuk disikapi.
Kebutuhan pragmatis dalam implementasi nya seringkali menuduh nada menjadi pilihan dari kuping pop manusia yg sedang berkuasa kini.

Kontemplasi menjadi barang langka walau kita secara fisik #stayathome, psikis tetap meronta memproduksi, menyebarluaskan dan memanfaatkan content yg anonymous dijemari ini, apabila kita bisa mengambil jarak dengan nya.
Sepertinya kita cukup waktu untuk kembali memilih kita untuk menjadi apa, tanpa itu…
Cara menikmati musik kini bukan sekedar trend, tapi kita semua memang sedang menuju kearah sana.

Sekarang kita bicara tarif yang dibayarkan Spotify kepada artis per streaming telah menjadi sumber kemarahan sejak layanan diluncurkan di AS pada tahun 2011. Dan tangisan itu terus berlanjut selama hampir satu dekade.

Kenyataan tidak bisa diterima ini sekarang memicu sebuah kelompok yang dikenal sebagai “The Union of Musicians and Allied Workers”, untuk meluncurkan petisi yang dijuluki “Justice at Spotify” dengan satu tujuan utama: meningkatkan pembayaran kepada artis.

Berikut adalah hitungan resmi berapa sebenarnya pendapatan Musisi Amerika yang dikenal oleh kita hidup sangat berkecukupan, bisa beli rumah di Baverly Hills dan punya beberapa Sport Car sewaktu platform mereka adalah analog. Sekarang mereka ingin mengulangi masa kejayaan tersebut kepada media digital.

“Saya mengerti. Saya akan senang jika musisi dibayar mahal. Mereka layak mendapatkannya! Tetapi tarif yang mereka terima ditentukan oleh penggemar musik, dan penggemar musik telah memutuskan layanan berlangganan dengan hampir setiap lagu yang pernah tersedia dengan satu klik hanya bernilai $ 10 / bulan. Tarif pembayaran per lagu dihitung berdasarkan itu.”, ini adalah kenyataannya.

Postcomended   CEO Message #36 Product Management

Berikut adalah petisi yang mereka suarakan :

“Spotify adalah platform paling dominan di pasar streaming musik. Perusahaan di balik platform streaming terus memperoleh nilai yang terus menanjak, namun para pekerja musik di mana-mana hanya mendapat tidak lebih dari sen sebagai kompensasi atas pekerjaan yang mereka lakukan.

“Dengan seluruh ekosistem musik live dalam bahaya akibat pandemi virus korona, pekerja musik lebih bergantung pada pendapatan streaming daripada sebelumnya. Kami meminta Spotify untuk meningkatkan pembayaran royalti, transparansi dalam praktik mereka, dan berhenti melawan artis. ”

Di bagian “Apa yang Kami Minta”, UMAW menjabarkan serangkaian tuntutan yang sama sekali tidak realistis yang tidak akan pernah terjadi dalam jutaan tahun:

“Bayar kami setidaknya satu sen per streaming”
Salah satu tujuan utama Spotify adalah memberikan “kesempatan kepada jutaan seniman kreatif untuk menghidupkan karya seninya”. Namun, untuk menghasilkan satu dolar di platform, sebuah lagu perlu diputar sebanyak 263 kali.

Untuk menempatkannya dalam perspektif, dibutuhkan 786 aliran untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membeli secangkir kopi rata-rata. Untuk membayar sewa bulanan rata-rata Amerika ($ 1.078), seorang seniman perlu menghasilkan 283.684 aliran berulang setiap bulan. Dan untuk mendapatkan $ 15 / jam setiap bulan dengan bekerja penuh waktu, dibutuhkan 657.895 aliran per anggota band.

Kami meminta Spotify untuk menaikkan royalti streaming rata-rata dari $ 0,0038 menjadi satu sen per streaming. Melakukan hal itu akan memberi seniman kesempatan yang lebih baik untuk mencari nafkah dari seni mereka, dan mulai mengembalikan penilaian publik terhadap musik.

Postcomended   Jangan Kaget Melihat Hal Ini Kalau ke Jepang

Bersikaplah Transparan
Label rekaman besar memiliki persentase besar dari katalog Spotify. Dengan pengaruh mereka, mereka dapat menentukan ketentuan royalti streaming mereka sendiri dan menegosiasikan struktur pembayaran kompleks mereka sendiri. Ini juga memberi mereka perlakuan istimewa dalam hal daftar putar editorial dan algoritmik, sesuatu yang bergantung pada semua artis.

Kami menyerukan Spotify untuk lebih transparan dengan keuangan mereka, platform mereka, dan hubungan mereka dengan artis. Buat semua kesepakatan dengan label besar menjadi publik, dan akhiri praktik yang “resemble payola”. Selain itu, kami mendesak Spotify untuk memberikan penghargaan kepada semua “engineers”, musisi, dan semua pekerja yang terlibat di industri rekaman.

Berhenti Melawan Artis
Spotify memposisikan dirinya sebagai alat utama bagi artis untuk terhubung dan mendapatkan penggemar baru – tetapi aspirasi tersebut sering kali bertentangan dengan keuntungan dan model bisnis mereka. Mereka meminta artis untuk menghasilkan lebih banyak konten, dengan mengatakan, “Anda tidak dapat merekam musik setiap tiga hingga empat tahun sekali dan berpikir itu sudah cukup.”

Will Page salah satu direktur Sportify, telah menyatakan bahwa mengalihkan platform ke model yang berfokus pada pengguna akan terlalu sulit untuk diterapkan karena “biaya finansial yang signifikan untuk mengadopsi dan menerapkan distribusi yang berpusat pada pengguna”. Spotify harus berjuang untuk artis yang membangunnya, alih-alih semakin melemahkan kesejahteraan ekonomi kita.

Dan di awal tahun 2020, Spotify bersama dengan beberapa raksasa streaming lainnya mengajukan banding ke pengadilan Amerika untuk mengajukan banding atas kenaikan 44% pembayaran royalti penulis lagu mekanis yang ditetapkan pada tahun 2018 oleh Dewan Royalti Hak Cipta. Spotify bersama dengan raksasa streaming lainnya telah menginvestasikan jutaan dolar ke dalam pertarungan hukum ini untuk menolak hak para penulis lagu. Spotify tidak dapat secara sah mengklaim membantu artis jika mereka terus melawan penulis lagu di pengadilan.

Postcomended   Sebulan Sebelum KTT, Kim Jong Un Mengeksekusi Bawahannya Secara Terbuka

Saatnya musisi Indonesia memperjuangkan keadilannya, bukan meminta-belas kasihan pemerintah untuk mengiris sedikit roti subsidinya untuk dunia industri musik yang sekarang mati dimulai dengan tutup nya toko kaset Aquarius di Jl. Mahakam, kita tidak bisa menghibur diri bahwa ini sekedar trend, Let’s face it, don’t just facebook it.


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work