Internasional

Para Pimpinan Keuangan Amerika: Ekonomi AS Akan Tenggelam dalam Resesi pada 2020

Share the knowledge

Mayoritas pejabat keuangan Amerika Serikat (AS) mengatakan, ekonomi AS akan tenggelam dalam resesi pada akhir masa jabatan pertama Presiden Donald Trump pada 2020, sekitar setengahnya akan terjadi tahun depan. Lalu, bagaimana dampaknya kepada Indonesia?

Hampir setengah pimpinan keuangan (CFO) sejumlah perusahaan, atau sebanyak 49 persen, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi AS selama satu dasawarsa panjang akan bertabrakan dengan kesengsaraan utang yang memburuk, dengan negara akan menghadapi resesi pada akhir tahun depan.

Para CFO itu kini sedang bersiap menghadapi resesi yang diduga akan terjadi dalam waktu 18 bulan ke depan, dengan 82 persen dari CFO yang diwawancarai di survei kuartal terakhir Duke University/CFO Global Business Outlook menduga AS akan meluncur ke dalam resesi pada 2020.

“Akhir sudah dekat untuk ledakan pertumbuhan ekonomi global hampir satu dekade,” kata John Graham, seorang profesor keuangan di Fuqua School of Business Duke University dan direktur survei, dalam sebuah pernyataan. “Prospek AS telah menurun. Selain itu, prospek bahkan lebih buruk di banyak bagian lain dunia, yang akan mengarah pada permintaan yang melemah pada produk AS.”

Survei kuartal keempat ditutup 7 Desember dan mengumpulkan tanggapan dari lebih dari 500 CFO, termasuk 226 dari perusahaan di seluruh Amerika Utara.

Postcomended   Jalur Sutra Baru (2): Ramalan Mercator ihwal Jalur Sutra di Eropa

Semakin banyak CFO yang pesimistis mengatakan bahwa beberapa penanda ekonomi memburuk sejak resesi besar satu dekade lalu dan mereka sekarang memprediksi pertumbuhan laba, belanja modal, dan investasi penelitian dan pengembangan, jatuh.

Para CFO mengatakan sebagian besar pertumbuhan akan terjadi pada awal tahun depan, yang menurut Graham masih memberikan waktu kepada pemerintah untuk “melunakkan kejatuhan”.

Para CFO lalu menyusun skenario terburuk di mana pertumbuhan riil tahunan di AS hanya akan 0,6 persen, belanja modal akan turun 1,3 persen dan perekrutan akan tetap datar. Mereka mengatakan kekhawatiran terbesar mereka adalah kesulitan dalam mempekerjakan dan mempertahankan karyawan yang berkualitas. Para CFO ini mengharapkan pertumbuhan sub-3 persen untuk perekonomian AS pada 2019.

Direktur pendiri survei Duke/CFO, Campbell Harvey, menegaskan kembali bahwa perusahaan-perusahaan bersiap untuk resesi yang membayangi. “Semua bahan telah tersedia: ekspansi memudar yang dimulai pada Juni 2009, hampir satu dekade lalu; volatilitas pasar yang tinggi; dampak proteksionisme yang mengurangi pertumbuhan; dan perataan kurva imbal hasil yang tidak menyenangkan, yang telah meramalkan resesi secara akurat selama 50 tahun terakhir,” kata Harvey.

Para ekonom telah berulang kali mengeluarkan peringatan dalam beberapa tahun terakhir tentang melonjaknya utang global yang disebabkan oleh bank-bank sentral yang membanjiri ekonomi nasional dengan uang murah. Pada 2008, utang global hanya 177 triliun dollar AS, dibandingkan dengan 247 triliun dolar AS saat ini.

Postcomended   Kian Seru, Perkembangan Kasus Kepala Keuangan Huawei yang Ditangkap AS

Dalam perekonomian AS, utang rumah tangga telah memburuk secara dramatis, kredit mobil telah jauh melebihi puncaknya pada 2008, dan saldo kartu kredit yang belum dibayar setinggi periode sebelum Depresi Besar (1929).

Pada September, ekonom Peter Schiff mengatakan, ini akan menjadi lebih buruk daripada Depresi Besar. “Perekonomian AS dalam kondisi yang jauh lebih buruk daripada satu dekade yang lalu,” kata Schiff.

Model pelacakan Moody’s Analytics dan JPMorgan Chase & Co., memprediksi kemungkinan 80 persen AS akan terpukul dengan kemerosotan ekonomi dalam tiga tahun ke depan.

Bagaimana Indonesia?

Dikutip dari laman CNBC Indonesia, ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro dan Ananka, dalam risetnya menyebutkan, dampak dari resesi di AS terhadap perekonomian hampir pasti akan memukul rupiah, ketika permintaan atas aset-aset safe haven, seperti dolar AS, meningkat karena investor enggan mengambil risiko.

Selain itu, tingginya permintaan aset-aset safe haven ini dapat menyedot likuiditas dari negara-negara pasar berkembang. “Ekspor Indonesia dapat juga menjadi korban dari melambatnya pertumbuhan AS. Dari Januari hingga Oktober, Indonesia menikmati surplus perdagangan 7,1 miliar dollar AS dengan AS; surplus perdagangan terbesar kedua yang dicatat Indonesia tahun ini,” kata mereka.

Postcomended   Emisi Karbon Terus Naik dan bakal Capai Rekor Sepanjang Masa

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Property Outlook 2019 di Jakarta, Senin (17/12/2019) mengaku khawatir mengenai kondisi ekonomi global di tahun 2019. Menurutnya, menjelang tutup tahun 2018 pihaknya masih harus terus menerus memperhatikan, melihat dan meneliti dinamika ekonomi global dan dalam negeri.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top