Internasional

Pasokan Antibiotik Berkurang, “Superbug” Mengancam Manusia

Bakteri 'Superbug' yang Paling Mengancam Hidup Manusia CNN Indonesia Student

Bakteri ‘Superbug’ yang Paling Mengancam Hidup Manusia CNN Indonesia Student

Kekurangan beberapa antibiotik penyelamat nyawa, menurut laporan baru pada Kamis (31/5/2018), menempatkan semakin banyak pasien pada risiko dan memicu evolusi “superbug” yang tidak menanggapi obat-obatan modern. Saat ini, diperkirakan 70 persen bakteri sudah resisten.

Lembaga nirlaba Access to Medicine Foundation (AMF) mengatakan, ada krisis yang muncul di pasar anti-infeksi global berupa rantai pasokan obat-obatan yang rapuh bahkan hampir runtuh. Salah satu penyebabnya karena ketergantungan pada hanya beberapa pemasok besar.

Hasilnya adalah kekurangan produk seperti piperacillin-tazobactam; kombinasi antibiotik yang digunakan secara intravena dalam perawatan intensif, yang sejak ledakan 2016 di sebuah pabrik bahan farmasi Cina, pasokannya mengetat.

Antibiotik lain, benzathine penicillin G (BPG), menghadapi kekurangan di setidaknya 39 negara, termasuk Jerman dan Brasil.

BPG adalah obat kunci untuk mencegah penularan sifilis dari ibu ke anak. Risiko penularan bertambah karena kurangnya upaya Brasil mengontrol wabah penyakit ini antara 2012 dan 2015. BPG juga digunakan untuk melawan penyakit jantung rematik.

Dengan tidak adanya obat yang tepat, pasien dapat mengambil obat yang kurang efektif atau berkualitas buruk yang meningkatkan risiko resistensi antimikroba.

Postcomended   Alibaba Bikin Guru Bahasa Inggris ini Jadi Miliarder E-Commerce

“Keadaan semakin buruk karena pasar tidak memperbaiki masalah, meskipun memperluas kebutuhan untuk antibiotik spesialis seperti itu,” kata Direktur Eksekutif AMF Jayasree Iyer.

Permintaan global untuk antibiotik telah meningkat dua pertiga sejak tahun 2000, didorong oleh pertumbuhan populasi dan kebutuhan obat-obatan untuk memerangi penyakit menular di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kebanyakan antibiotik adalah obat generik (non paten) yang harganya terjangkau. Tetapi itu juga berarti mereka (perusahaan obat) memiliki margin keuntungan yang sangat rendah –yang hanya menawarkan sedikit insentif untuk berinvestasi di fasilitas produksi baru– terutama dibandingkan dengan obat-obatan modern untuk penyakit seperti kanker.

Postcomended   Beragam Destinasi Probolinggo yang Bisa Bikin Pemudik Happy

Makin berkurangnya pasokan, telah bergandengan tangan dengan gelombang konsolidasi di antara perusahaan-perusahaan yang membuat obat generik –yang berkisar dari raksasa farmasi global hingga perusahaan-perusahaan kecil di negara-negara seperti India– mengurangi jumlah pemasok yang membuat lini produk individual.

Kekurangan obat sporadis, tidak unik untuk antibiotik. Baru-baru ini, misalnya, ada kekurangan di seluruh dunia dari perangkat alergi darurat EpiPen Mylan (MYL.O).

Namun kekurangan antibiotik dapat memiliki konsekuensi yang sangat mengerikan, karena dokter harus menggunakan perawatan sub-optimal yang kurang efisien dalam membunuh patogen tertentu, yang menyebabkan munculnya bakteri resisten atau yang disebut superbug.

Diperkirakan 70 persen bakteri sudah resisten terhadap setidaknya satu antibiotik yang biasa digunakan untuk mengobatinya, membuat evolusi superbug seperti ini menjadi salah satu ancaman terbesar yang dihadapi obat saat ini.(***/reuters)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top