PBB: Penderitaan Rakyat Afghanistan Sudah pada Tahap Tak Dapat Diterima

Internasional
Share the knowledge

Pemakaman warga sipil terbunuh dalam serangan bunuh diri di Kabul, Afghanistan, Juni 2018, tahun ketika jumlah kematian mencapai rekor tertinggi. UNAMA, misi PBB di negara itu, menyebutkan bahwa kematian warga sipil lebih banyak terjadi karena aksi militer pasukan AS (gambar dari: Fardin Waezi/UNAMA, via https://news.un.org/en/story/2018/07/1014762)
Pemakaman warga sipil terbunuh dalam serangan bunuh diri di Kabul, Afghanistan, Juni 2018, tahun ketika jumlah kematian mencapai rekor tertinggi. UNAMA, misi PBB di negara itu, menyebutkan bahwa kematian warga sipil lebih banyak terjadi karena aksi militer pasukan AS (gambar dari: Fardin Waezi/UNAMA, via https://news.un.org/en/story/2018/07/1014762)


PBB menyebutkan Selasa (30/7/2019), warga sipil terbunuh dan terluka pada tingkat “mengejutkan dan tidak dapat diterima” dalam perang Afghanistan, meskipun saat ini ada dorongan untuk mengakhiri konflik yang telah berusia 18 tahun tersebut.

Informasi terbaru dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menunjukkan penurunan 27 persen korban jiwa untuk paruh pertama 2019 dibandingkan periode sama tahun lalu –yang merupakan rekor– namun tetap saja jumlah warga sipil tewas dan luka masih besar yakni 1.366 warga sipil tewas, lainnya sebanyak 2.446 terluka.

Dilansir AFP, sementara PBB menyambut penurunan itu, UNAMA dalam sebuah pernyataan menganggap tingkat kerusakan yang dilakukan terhadap warga sipil “mengejutkan dan tidak dapat diterima”. Badan ini  mengakui partai-partai telah mengumumkan upaya untuk mengurangi korban sipil, tetapi ternyata tidak cukup.

UNAMA juga mengatakan bahwa untuk kuartal kedua berjalan, pasukan AS dan pro-pemerintah menyebabkan lebih banyak kematian warga sipil daripada Taliban dan kelompok pemberontak lainnya. Selama paruh pertama 2019, pasukan pro-pemerintah, termasuk AS, menewaskan 717 warga sipil, meningkat 31 persen daripada tahun sebelumnya.

Postcomended   Sejarah ISIS dan Abu Bakar Al-Baghdadi yang Kontroversial

AS Bantah Lebih Banyak Timbulkan Kematian

Sebagian besar kematian berasal dari serangan udara AS dan Afghanistan, seringkali untuk mendukung pasukan nasional di darat. Mendengar data UNAMA, Kolonel Sonny Leggett, juru bicara Pasukan AS-Afghanistan, membantahnya.

Dia mengatakan, militer AS menyelidiki semua dugaan korban sipil dalam apa yang merupakan “lingkungan yang kompleks”. “USFOR-A menolak metode dan temuan UNAMA. Sumber dengan informasi terbatas dan motif yang bertentangan tidak selalu kredibel,” kata Leggett dalam sebuah pernyataan.

Legget menambahkan, pihaknya mengikuti standar ketepatan dan pertanggungjawaban tertinggi dan selalu bekerja untuk menghindari kerugian bagi warga sipil yang bukan petempur.

Korban berdarah Afghanistan meningkat di tengah dorongan berbulan-bulan yang dipimpin AS untuk menjalin kesepakatan damai dengan Taliban yang akan melihat pasukan asing keluar dari negara itu dengan imbalan berbagai jaminan keamanan.

Postcomended   24 Maret dalam Sejarah: Bakteri Tuberkulosis Ditemukan; Penyakit yang Iringi Karya Besar Para Seniman

Awal bulan ini sebagai bagian dari upaya itu, para pejabat Taliban bertemu pada pertemuan puncak bersejarah dengan perwakilan Afghanistan pada “dialog intra-Afghanistan” di Doha, Qatar. Delegasi mengeluarkan resolusi yang tidak jelas yang mencakup janji untuk mengurangi korban sipil menjadi “nol”, tetapi dalam minggu-minggu sejak itu rakyat biasa Afghanistan terus terbunuh dan terluka.

“Semua orang mendengar pesan itu dengan keras dan jelas dari delegasi Afghanistan dalam perundingan Doha; ‘kurangi korban sipil menjadi nol!'” Kepala UNAMA, Tadamichi Yamamoto, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Kami mendesak semua pihak untuk mengindahkan imperatif ini, untuk menjawab panggilan warga Afghanistan agar segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi bahaya mengerikan yang ditimbulkan,” imbuhnya.

Korban anak-anak, ungkap UNAMA, mewakili hampir sepertiga dari total keseluruhan korban sipil, dengan 327 kematian dan 880 lainnya terluka. Penghitungan PBB yang ditemukan tahun lalu adalah yang paling mematikan dalam catatan, dengan setidaknya 3.804 kematian warga sipil disebabkan oleh perang, termasuk 927 anak-anak.***

Postcomended   30 Juli dalam Sejarah: VW Kodok Klasik Diproduksi untuk Terakhir Kalinya

 


Share the knowledge

Leave a Reply