Peluang Donald Trump di Pemilu 2020 Setelah Keburukannya Diungkap Mantan Pengacaranya

Internasional
Share the knowledge

Dalam kesaksian hari Rabu lalu di depan komisi DPR, mantan pengacara Donald Trump, Michael Cohen, meminta maaf melakukan kejahatan untuk melindungi Trump.(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=PrQn4iVbY30)
Dalam kesaksian hari Rabu lalu di depan komisi DPR, mantan pengacara Donald Trump, Michael Cohen, meminta maaf melakukan kejahatan untuk melindungi Trump.(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=PrQn4iVbY30)

Sekelompok kecil ahli strategi Partai Republik yang menentang Presiden Donald Trump yang mencap diri sebagai “Membela Demokrasi Bersama, diam-diam membentuk kelompok fokus dan melakukan pemungutan suara musim gugur lalu, untuk mengukur apakah Trump rentan terhadap tantangan utama pada 2020.

Mereka mencatat poin-poin kelemahan Trump seperti: “berkicau/temperamen” serta “kriminalitas/korupsi”. Kelompok ini lalu menyimpulkan, skandal-skandal Trump belum merusaknya dengan para pemilih yang masih berpihak pada Partai Republik.

“Bahkan para pemilih informasi yang relatif tinggi pun tidak menaruh perhatian khusus pada skandal-skandal harian,” presentasi tersebut menyatakan. Tapi kata mereka, ada “ruang untuk mendidik pemilih” tentang masalah ini.

laman New York Times melaporkan, Michael D. Cohen, mantan pengacara Trump, mungkin telah memulai pendidikan itu, ketika Rabu (27/2/2019), dia membongkar keburukan-keburukan Trump. Dengan kemunculan Cohen di komisi DPR Amerika Serikat (AS), pengumuman atas pelanggaran etika oleh Trump mencapai fase baru, yang mungkin lebih sulit diabaikan baik oleh teman maupun musuh Trump.

Partai Republik masih kesulitan membayangkan bahwa basis pemilih Trump akan meninggalkannya, meskipun mereka mengakui bahwa ikatan akan segera diuji seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Pendukung inti Trump, yang berjumlah sekitar dua dari lima pemilih Amerika, menurut jajak pendapat tersebut, tampaknya tetap setia meskipun telah melalui kondisi kelangkaan keuangan, skandal asusila, kemunduran pemilihan yang menyakitkan, dan penutupan pemerintah (government shutdown) terpanjang dalam sejarah.

Postcomended   Penulis Surat dalam Botol dari 50 Tahun Lalu Teridentifikasi Setelah Ditemukan Bocah 9 Tahun

Robert Blizzard, penyelenggara jajak pendapat dari Partai Republik, mengatakan, opini publik tentang Trump  terbukti sangat baik dari waktu ke waktu, seolah tak terlalu terpengaruh isu skandal pemilu dengan Rusia, skandal asusila dengan Stormy Daniels, dan bocoran negatifnya Michael Cohen, dll.

Dia tidak melihat kasus Cohen, bakal menggeser opini ke kiri atau kanan. “Basis presiden adalah solid rock, dan oposisinya sama-sama solid,” kata Blizzard. Terlebih lagi dalam pandangan umat Kristen, seperti dikatakan Ralph Reed, pimpinan penginjil lama, pemilihan Ketua MA dan kebijakan membatasi aborsi menumbuhkan kesetiaan khusus di kalangan konservatif. Sebuah modal besar untuk pemilihan putaran berikutnya di 2020.

Diberondong Mantan Pengacara Trump

Bagaimanapun, kata analisis tersebut, penghinaan berkepanjangan semacam yang ditimbulkan Cohen, akan menggerus suaranya. Cohen dalam pengakuan terbukanya telah menyebut Trump rasis, pembohong, dan biasa melakukan penipuan dalam berbisnis.

Postcomended   Presiden Mesir yang Dikudeta pada 2013, Pingsan di Pengadilan lalu Meninggal

Ujaran Cohen akan mengisyaratkan dilakukannya penyelidikan oleh jaksa federal di New York, yang memungkinkan pelibatan karyawan Trump dan bahkan anggota keluarganya. Senator Elizabeth Warren dari Massachusetts bercanda, Trump mungkin “bukan orang bebas” pada saat pemilihan berikutnya.

Beberapa Republikan yang telah kritis terhadap Trump telah menyarankan bahwa paruh pertama yang bergolak di 2019 ini dapat menciptakan celah bagi anggota partai Republik lain untuk mencalonkan diri menjadi presiden dalam pemilihan 2020, terlebih jika jaksa menuduh bahwa Trump telah melanggar undang-undang yang memosisikan Republik bias kalah pada pemilu 2020.

Bagi kebanyakan orang Amerika yang memandang Trump dengan jijik atau lebih buruk lagi, kesaksian Cohen kemungkinan besar mengukuhkan pandangan tergelap mereka tentang Trump. Mayoritas negara bagian telah melihat Trump sejak awal sebagai orang yang berkarakter rendah dan memiliki bakat terbatas untuk kepemimpinan, sifat-sifat yang ditekankan secara mendalam oleh Cohen.

Henry Barbour, anggota berpengaruh dari Komite Nasional Partai Republik dari Mississippi yang juga ahli strategi partai, mengakui kesalahan presiden telah membuatnya rentan terhadap kekalahan, setidaknya jika Demokrat mengajukan calon yang menarik secara luas.

Postcomended   10 Januari dalam Sejarah: Komik Tintin Pertamakali Terbit di Suplemen "Le Petit Vingtieme"

“Jika Demokrat menominasikan seorang moderat dari jantung negara itu, maka itu akan menjadi perlombaan yang jauh lebih keras,” kata Barbour.***


Share the knowledge

Leave a Reply