Bitcoin's Price Surge: Are Government's Behind It? Fortune1280 × 720Search by image

Bitcoin’s Price Surge: Are Government’s Behind It? Fortune1280 × 720Search by image

Otoritas moneter Indonesia akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa bitcoin bukan alat pembayaran sah di Indonesia, meskipun tidak melarang terang-terangan seperti Cina dan Korea Selatan. Masyarakat diminta tak memakai bitcoin untuk transaksi apa pun. Apalagi pemerintah mengaku peraturan tentang uang elektronik di Indonesia sudah ketinggalan zaman. Berbeda dengan di Cina yang sudah lebih maju dan mapan dalam hal transaksi digital, bahkan sudah digunakan hingga level pedangan kaki lima (PKL).

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, di acara Pertemuan Tahunan Dana Moneter Indonesia (IMF) dan Bank Dunia 2017, di Amerika Serikat, 14 Oktober lalu, mengatakan, BI tidak memberi persetujuan pada mata uang dumay tersebut.

Alat pembayaran, kata Agus seperti dilansir Media Indonesia, harus mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, aman bagi sistem pembayaran di Indonesia; misalnya tidak berdampak pada masyarakat luas saat produk atau jasa tersebut tidak stabil, dan patuh pada regulasi anti-pencucian uang; misalnya tidak terindikasi membiayai terorisme.

Postcomended   Penting Gak Sih Belajar "Media Strategic Planning"?

Agus mengungkapkan bahwa Cina sudah jauh lebih maju dalam mengantisipasi kebutuhan transaksi di dumay, antara lain melalui aplikasi Alipay yang dikelola grup Alibaba milik miliuner Cina, Jack Ma. Pilihan lainnya adalah melalui aplikasi garapan WeChat kepunyaan Tencent Holdings. 


Sebelumnya, Pemerintah Cina seperti dilansir Reuters 

September lalu, telah mengeluarkan kebijakan yang melarang transaksi penawaran bitcoin perdana (initial coin offering/ICO). 


Alasan Cina melarang transaksi menggunakan bitcoin antara lain: mata uang virtual sulit dikontrol, mudah dipakai penipuan, karena identitas transaksinya sulit dilacak maka bitcoin bisa digunakan transaksi ilegal, Cina juga berambisi membuat mata uang virtual sendiri.

Mengenai Alipay atau WeChat, pada dasarnya cara kerjanya tak ubahnya kartu debet. Penyedia jasa, sebut saja Alipay, akan membuka akun dompet digital alias e-wallet bagi kliennya. E-wallet ini terkoneksi dengan rekening bank kliennya. Setiap transaksi lalu secara otomatis akan mengurangi saldo rekening si klien.

Dikutip dari situs Lazada, Alipay sepenuhnya gratis untuk pengguna perorangan. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bank yang digunakan akan mengenakan biaya transfer. Situs yang terafiliasi dengan Alibaba ini menulis, mereka menggunakan teknologi standar keamanan tertinggi untuk melindungi data transaksi kliennya.

Postcomended   Maradona: Tak akan Ada "Gol Tangan Tuhan" jika Sudah Ada Wasit Video

Transaksi non tunai ini cukup bermodalkan smartphone, yakni dengan mengunduh aplikasi yang disediakan Alipay. Di Cina, baik Alipay maupun WeChat telah diatur dan diawasi bank sentral Cina sejak 2010.



Kemudahan transaksi menggunakan e-wallet ini membuat PKL di Cina juga telah lama jamak menggunakan transaksi digital ini.

“Saya lebih suka orang bayar pakai non cash (WeChat atau Alipay) karena enggak perlu bingung cari uang kembalian,” tambahnya.***

Share the knowledge