Keluarga

Pencipta Domba Kloning Dolly untuk Penelitian Parkinson, Kini Idap Penyakit Sama

Tahun Domba Dolly dan Masa Depan Kloning Manusia National Geographic Indonesia 19 Tahun Domba Dolly dan Masa Depan Kloning Manusia

Tahun Domba Dolly dan Masa Depan Kloning Manusia National Geographic Indonesia 19 Tahun Domba Dolly dan Masa Depan Kloning Manusia

Dua dekade setelah membuat kloningan domba Dolly dan membuka jalan bagi penelitian baru ke penyakit Parkinson, Dr. Ian Wilmut mengungkapkan, Rabu (11/4/2018), bahwa dia sekarang mengidap penyakit itu. Profesor berusia 73 tahun yang tinggal di Skotlandia ini, mengumumkan bertepatan dengan Hari Parkinson Dunia bahwa empat bulan lalu dia mengetahui mengidap penyakit tersebut. Karenanya, kata Ian, dia akan berpartisipasi dalam program penelitian besar untuk menguji jenis perawatan baru untuk memperlambat perkembangan penyakitnya itu.

New York Times menulis di situsnya, pada 1996, Ian dan tim ilmuwan di Roslin Institute di Edinburgh, Inggris, mengkloning seekor domba dewasa, yang menghasilkan kelahiran Dolly. Pencapaian tersebut mengejutkan para peneliti yang sempat menyangsikannya. Tapi kelahiran Dolly membuktikan bahwa sel-sel dari mana saja di dalam tubuh dapat berperilaku seperti telur yang baru dibuahi. Ini merupakan sebuah ide yang mengubah pemikiran ilmiah dan mendorong para peneliti menemukan teknik memrogram ulang sel-sel dewasa.

Menurut Penelitian Inisiatif Parkinson Dundee-Edinburgh, penelitian baru menghasilkan penemuan sel induk berpotensi majemuk alias iPSCs (induced pluripotent stem cells), yang menjanjikan sebagai terapi untuk Parkinson karena potensi mereka untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Sel induk ini sekarang digunakan di Pusat MRC untuk Pengobatan Regeneratif di Edinburgh, untuk mengembangkan pengobatan berbasis obat untuk Parkinson dan penyakit lainnya. Percobaan klinis pertama pengobatan iPSCs untuk Parkinson akan diadakan di Jepang tahun ini, kata inisiatif itu.

Postcomended   Autisme Dikaitkan dengan Defisiensi Seng Saat Kecil

“Semua upaya untuk memperlambat perkembangan Parkinson sejauh ini gagal,” kata Prof Dario Alessi, ahli biokimia di Universitas Dundee, Skotlandia, melalui email pada Kamis. Dia menyoroti bahwa obat Parkinson yang paling banyak digunakan saat ini, levodopa, pertama kali digunakan di klinik pada tahun 1967.

PRO KONTRA KLONING dokterkuro.blogspot.com SEJARAH KLONING Pada1995 suatu kelompok ilmuwan di Roslin Institute Edinburgh sedang mencari suatu cara untuk memodifikasi binatang ter...

PRO KONTRA KLONING dokterkuro.blogspot.com SEJARAH KLONING Pada1995 suatu kelompok ilmuwan di Roslin Institute Edinburgh sedang mencari suatu cara untuk memodifikasi binatang ter…

“Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pengetahuan kita tentang genetika dan biologi yang menggarisbawahi penyakit Parkinson telah meledak,” kata Alessi. “Saya merasa optimis, dan ini realistis bahwa dengan upaya penelitian yang terkoordinasi, langkah besar menuju perawatan penyakit Parkinson yang lebih baik dapat dilakukan.”

Sementara Wilmut mengatakan dia memutuskan untuk mengumumkan diagnosisnya karena dia pikir itu mungkin berguna dalam konteks penelitian. Wilmut tinggal di daerah perbukitan dan pedesaan Skotlandia dan suka berjalan-jalan. Namun sejak terdiagnosis, dia mengatakan bahwa aktivitas fisik menjadi lebih sulit. Wilmut mengatakan kepada The Times di London bahwa dia senang menjadi kelinci percobaan, serta menyumbangkan jaringan atau mencoba perawatan baru.

Postcomended   Indonesia Belajar Minum Kopi Tanpa Ampas (3)

Parkinson adalah gangguan progresif dari sistem saraf yang memengaruhi gerakan dan dapat menyebabkan goncangan yang tidak disengaja. Sejauh ini, perawatan tersedia untuk mengelola gejala, tetapi tidak ada obat atau terapi untuk memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit.

“Orang dengan Parkinson sangat membutuhkan akses ke diagnosis yang lebih dini dan lebih akurat, prediksi yang lebih baik tentang bagaimana penyakit mereka akan berkembang, dan yang paling penting, kesempatan untuk berpartisipasi dalam uji klinis perawatan baru,” Dr. Tilo Kunath, pemimpin kelompok di MRC Pusat Pengobatan Regeneratif di Edinburgh, mengatakan dalam sebuah email.

Postcomended   Saat Matahari Terobsesi Menjadi Alibaba-nya Indonesia, Ramayana Buka Gerai Digital Ketiga di Shopee

Domba Dolly mati pada 2003 setelah mengalami infeksi paru-paru. Tubuhnya disumbangkan ke Museum Nasional Skotlandia, di mana ia telah menjadi salah satu objek pameran paling populer, menurut Roslin Institute. Dalam wawancara dengan The New York Times setelah kematian Dolly, Wilmut mengatakan, “Dia adalah wajah sains yang ramah. Dia adalah hewan yang sangat ramah yang merupakan bagian dari terobosan ilmiah besar,” ujar Wilmut.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top