Ekonomi

Pendiri Huawei: Huawei Seperti Pesawat Rusak yang Masih Bisa Terbang

Share the knowledge

Ren Zhengfei, CEO dan pendiri Huawei (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=Qt1eDOIidLM)

Ren Zhengfei, CEO dan pendiri Huawei (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=Qt1eDOIidLM)

Ancaman AS memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam, ampuh membuat penjualan ponsel pintar raksasa telekomunikasi Cina ini terjun bebas. Menurut CEO Huawei, perusahaannya seperti pesawat rusak yang masih bisa terbang.

Pendiri Huawei, Senin (17/6/2019) mengatakan, penjualan ponsel pintarnya di luar negeri jatuh setelah tekanan Amerika Serikat (AS) yang mengancam akan memasukkan perusahaan ini  ke dalam daftar hitam. Dia lalu mengatakan, Huawei akan memangkas produksi untuk mengatasi dorongan AS mengisolasinya.

Pengumuman oleh pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, ini, menandai indikasi pertama yang jelas dari perusahaan tentang dampak tekanan AS yang diterapkan karena khawatir Huawei bersekongkol dengan aparat keamanan Cina.

Ren mengakui terjadinya penurunan penjualan itu saat ditanya di acara diskusi panel yang diselenggarakan perusahaan di kantor pusatnya di Shenzhen, Cina selatan. Gosip yang beredar, penjualan ponsel pintar Huawei di luar negeri jatuh hingga 40 persen. “Ya, turun 40 persen,” aku Ren, dilansir laman kantor berita AFP.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kejatuhan penjualan tetapi seorang juru bicara Huawei kemudian mengklarifikasi bahwa dia mengacu pada penurunan 40 persen dari Mei hingga Juni 2019 setelah adanya ancaman daftar hitam AS.

Namun kata Ren, bagaimanapun, pertumbuhan penjualan di pasar domestik Cina tetap “sangat cepat”. Huawei adalah produsen ponsel pintar nomor dua di dunia tahun lalu, di depan Apple dan di belakang Samsung. Perusahaan ini juga merupakan penyedia peralatan jaringan telekomunikasi terbesar di dunia.

Postcomended   Kylie Dongkel Zuck dari Posisi Puncak Miliarder Muda

Huawei mengatakan telah mengirim total 206 juta ponsel pintar pada 2018, sekitar setengahnya di Cina dan setengahnya di luar negeri. Ren, 74, mengatakan, Huawei berencana mengurangi produksinya sebesar 30 miliar  dollar AS (sekitar Rp 420 triliun) selama dua tahun ke depan untuk keluar dari badai.

Huawei memperoleh lebih dari 100 miliar dollar AS pendapatan pada tahun 2018, sehingga pengurangan 30 miliar dollar AS akan menyamakan dengan sekitar 30 persen dari keseluruhan bisnis tahun lalu.

Tetapi Ren, yang membandingkan Huawei dengan pesawat yang rusak tetapi masih bisa terbang, mengharapkan perusahaan akan segera kembali ke jalurnya. “Pada 2021, kami akan mendapatkan kembali vitalitas kami dan (terus) memberikan layanan kepada masyarakat,” katanya.

Postcomended   Racun Kalajengking Telah Lama Menjadi Metode Pengobatan Alami di Kuba

Dengan memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam, AS boleh dibilang telah menghalangi Huawei dari pasar AS yang besar. Bulan lalu, dilansir AFP, AS juga menambahkan Huawei ke “daftar entitas” perusahaan yang dilarang menerima komponen buatan AS tanpa izin dari Washington, meskipun perusahaan itu diberikan penangguhan hukuman 90 hari untuk saat ini.

AS khawatir, sistem yang dibangun Huawei dapat digunakan pemerintah Cina untuk spionase melalui “pintu belakang” keamanan rahasia yang dibangun ke dalam peralatan jaringan telekomunikasi. Ketakutan itu sebagian besar berkisar pada latar belakang Ren sebagai mantan insinyur militer Cina, dan struktur kepemilikan perusahaan Huawei yang dipegang secara pribadi, yang menurut sejumlah kritikus tidak biasa dan buram.

Huawei berulang kali membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Cina dan mengatakan AS tidak pernah memberikan bukti tuduhannya. Pemerintahan Presiden Donald Trump mendesak negara-negara lain untuk melarang peralatan Huawei dari jaringan mereka, khususnya dalam peluncuran jaringan 5G super cepat; proyek global di mana Huawei memainkan peran utama.

Kampanye AS telah mendorong sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk pemasok dan merek semi-konduktor terkemuka seperti Facebook dan Google, menangguhkan kerja sama dengan Huawei.

Postcomended   Huawei Manfaatkan Momen Kegagalan FaceID iPhone X, untuk Iklan Produk Barunya #SURUHGOOGLEAJA

Dalam analisisnya pekan lalu, konsultan global, Eurasia Group, mengatakan, Huawei memiliki sedikit harapan untuk tetap menjadi yang terdepan di dunia dalam smartphone atau teknologi jaringan selama tetap dalam daftar hitam AS.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top