Dunia Bisa Terancam 'Robot Pembunuh' - teknologi www.inilah.com Inilah600 × 300Search by image Dunia Bisa Terancam 'Robot Pembunuh'

Dunia Bisa Terancam ‘Robot Pembunuh’ – teknologi www.inilah.com Inilah600 × 300Search by image Dunia Bisa Terancam ‘Robot Pembunuh’

Tak ada yang lebih paham di dunia ini selain para pelaku pengembang Artificial Intelligence (AI), bahwa dunia sedang di ambang ancaman dominasi robot-robot cerdas. Terdengar bagai dongeng. Namun ke-116 tokoh bidang robotik dunia, mendesak PBB mengambil langkah demi mencegah pengembangan senjata otomatis yang mereka sebut sebagai “robot pembunuh”.

Beberapa dari tokoh tersebut adalah Elon Musk dari Tesla dan Mustafa Suleiman dari Google DeepMind.

Sepucuk surat kepada PBB dikirimkan para tokoh tersebut. Isinya mengabarkan bahwa dunia makin dekat pada “revolusi ketiga perangkat perang” yang sangat berbahaya, yakni robot pembunuh. Teknologi otonom yang mematikan ini, sebut surat itu, laksana sebuah kotak Pandora; manusia sedang berpacu dengan waktu.

Ke-116 tokoh itu meminta agar PBB melarang penggunaan AI dalam pengembangan persenjataan. “Sekali dikembangkan, maka konflik bersenjata akan meningkat ke suatu skala besar yang tak pernah terjadi sebelumnya, dan bisa melesat jauh lebih cepat dari yang dapat dipahami manusia,” demikian bunyi surat tersebut seperti dilansir BBC, Minggu (21/8/2017).

Postcomended   Wallace Biarkan Darwin Menikmati Popularitas sebagai Penemu Teori Evolusi

Tesla adalah perusahaan asal Amerika Serikat berbasis AI yang juga mengembangkan teknologi otonom, antara lain mobil swakemudi. Sedangkan DeepMind awalnya merupakan startup AI asal London Inggris, yang mengombinasikan mesin belajar dengan sistem saraf.

Perusahaan bermoto “solve intelligence, use it to make the world a better place” ini, pada 2014 diakuisisi raksasa mesin pencari Google.

Robot pembunuh adalah senjata yang sepenuhnya otonom atau mandiri yang dapat memilih dan mengincar sasaran tanpa campur tangan manusia. Sampai saat ini, robot-robot itu belum ada tapi kemajuan teknologi membuatnya bisa terwujud dalam waktu dekat.

Karenanya ada nada mendesak dalam pesan dari para tokoh teknologi itu bahwa “waktu untuk bertindak sama sekali tidak lama”. “Setelah kotak Pandora ini dibuka akan sulit ditutup lagi,” kata mereka.

Para ahli meminta apa yang mereka anggap sebagai teknologi “yang salah secara moral” ini ditambahkan ke daftar senjata yang dilarang berdasarkan Konvensi PBB tentang Senjata Konvensional Tertentu (CCW).

Surat serupa pernah dikirim ke PBB pada 2015 yang ditandatangani oleh lebih dari 1.000 pakar teknologi, ilmuwan, dan peneliti. Isinya: peringatan tentang bahaya persenjataan otonom/mandiri.

Postcomended   Dicari NASA: Petugas Pelindung Bumi

Penandatangan surat itu antara lain astrofisikawan Stephen Hawking, pendiri Apple Steve Wozniak, dan juga boss Tesla, Elon Musk.

Mereka yang setuju pada robot pembunuh berkilah bahwa undang-undang perang saat ini memadai untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul jika robot-robot itu ditugaskan dalam perang. Menurut mereka, yang bisa dilakukan sekarang bukan larangan langsung, melainkan moratorium.

 

Satu kelompok PBB yang berfokus pada persenjataan otonom dijadwalkan bertemu Senin (21/8/2017), namun ditunda menjadi November.

Mengenai ancaman AI, Hawking mengatakan robot super cerdas mungkin tidak menghancurkan umat manusia karena alasan-alasan jahat dan keji, tapi karena manusia membuat program yang buruk dari ketidakmampuannya sendiri.

“AI yang super cerdas akan sangat baik mencapai tujuan-tujuannya. Dan jika tujuan tersebut tidak selaras dengan manusia, maka kita berada dalam kesulitan,” kata Hawking.

Sementara itu Musk belum lama ini bercuit di Twitter-nya bahwa ancaman robot AI lebih mencemaskan daripada Korea Utara. “Kalau Anda tak risau soal keamanan AI, seharusnya Anda merasa demikian. (AI) Jauh lebih berisiko dibandingkan Korea Utara,” kicau pendiri Tesla dan SpaceX tersebut.

Postcomended   Ini dia Sejarah Wireless Fidelity (Wi-Fi)

Kicauannya itu diberi ilustrasi foto seorang perempuan yang tampak khawatir dengan kepsyen: “Pada akhirnya, mesin yang akan menang;  seolah mengingatkan pada film Terminator.

Musk tidak anti terhadap AI. Dia sendiri mendanai startup bernama OpenAI yang mengembangkan AI secara bertanggung jawab.

Akhir Juli silam, Musk dengan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, berdebat keras ihwal AI. Mark dianggap Musk masih “hijau” mengenai AI. Hal itu dikatakan Musk, ketika Mark meremehkan pandangan Musk yang mencemaskan AI.***(ra)