Pendiri WhatsApp Lagi-lagi Serukan Hapus Facebook dan Keluarganya

Pendiri WhatsApp Lagi-lagi Serukan Hapus Facebook dan Keluarganya

Lifestyle
Share the knowledge

Salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton, lagi-lagi mendesak pengguna untuk “menghapus” akun Facebook-nya. Acton mengecam Mark Zuckerberg yang memperdagangankan privasi pengguna untuk memperoleh pendapatan dengan memungkinkan iklan di platform-nya.

Hal ini disampaikan Acton selama ceramah kepada mahasiswa Universitas Stanford, Jumat (15/3/2019), seperti dilansir laman Daily Mail. Acton kini menjadi pimpinan aplikasi pesaing WhatsApp yang diberi nama Signal, yang  bersifat nirlaba.

Dia menyerukan orang-orang untuk menolak Facebook dengan menghapus keluarga aplikasi ini (termasuk WhatsApp dan Instagram) dari smartphone maupun perangkat lainnya. Ini keduakalinya Acton menyerukan warganet untuk men-delete Facebook.

Tahun lalu dia menyerukan hal sama ketika Facebook dilanda serangkaian skandal privasi, antara lain ketika Facebook melibatkan firma konsultasi politik Cambridge Analityca yang menambang data 87 juta pengguna Facebook secara tidak sah, terkait kampanye presidensial Donald Trump 2016. Acton waktu itu memposting di Twitter dengan menulis: “Sudah saatnya. #deletefacebook.”

Facebook juga menghadapi banyak tuntutan hukum dan penyelidikan peraturan tentang praktik privasinya, termasuk investigasi yang sedang berlangsung oleh Komisi Perdagangan Federal AS, Komisi Sekuritas dan Bursa, dan dua lembaga negara di New York.

Acton telah secara terbuka mengeritik perusahaan-perusahaan Silicon Valley seperti Facebook dan Google di masa lalu karena pendekatan mereka yang tampaknya berorientasi pada keuntungan dengan mengorbankan data pengguna.

Postcomended   15 September dalam Sejarah: Nama Domain Google.com Terdaftar

Pada 2014, Acton menjual layanan pesan instan WhatsApp kepada Zuckerberg dengan harga 19 miliar dollar AS (setara Rp 226 triliun/kurs Rp 14 ribu). Tiga tahun kemudian Acton memutuskan keluar dari WhatsApp karena tidak setuju dengan rencana aplikasi ini memperkenalkan iklan untuk mendapatkan uang.

Acton membela keputusannya menjual WhatsApp dengan mengatakan bahwa dia ingin karyawan dan investornya untung dan dia tidak memiliki kekuatan, atau pengaruh untuk mengatakan tidak. Di depan forum Universitas Stanford, California, Acton berkata, “Saya memiliki 50 karyawan, dan saya harus memikirkan mereka dan uang yang akan mereka hasilkan dari penjualan ini.”

“Saya harus memikirkan tentang investor kami dan saya harus memikirkan saham minoritas saya. Saya tidak memiliki pengaruh penuh untuk mengatakan tidak jikapun saya mau,” dalihnya. Pendiri WhatsApp lainnya, Jan Koum, juga meninggalkan Facebook setahun kemudian (2018) juga karena tidak setuju dengan pendekatan mereka terhadap data pengguna dan privasi.

Postcomended   Ketika Puasa, Rasa Lapar akan Menyerang di Jam 10 11. Lakukan ini untuk Mencegahnya!

Baik Acton maupun Koum telah berusaha menemukan cara untuk memonetisasi WhatsApp tanpa membombardir pengguna dengan iklan. Dia mengatakan bahwa dia mendorong untuk model bisnis yang akan membebani pengguna WhatsApp 1 dollar AS per tahun untuk menggunakan aplikasi, seperti yang dilakukan perusahaan pada masa-masa awalnya.

Pasangan ini berharap model layanan dapat menyelaraskan minat mereka dengan kebutuhan pengguna akan privasi dan keamanan untuk melawan pengambilan data oleh Facebook yang membantu pengiklan menarget pengguna.

“Ini tidak menghasilkan uang secara luar biasa, dan jika Anda memiliki satu miliar pengguna, Anda akan memiliki 1 miliar dollar AS pendapatan per tahun,” kata Acton.

Sementara itu Google dan Facebook, kata Acton, menginginkan jutaan dollar AS. Dalam sebuah wawancara dengan Forbes, Acton menggambarkan bagaimana Facebook telah menetapkan tujuan untuk WhatsApp untuk mencapai tingkat pemasukan 10 miliar dollar AS dalam waktu lima tahun dengan mendorong iklan. Acton menyebut nya sebagai motif laba kapitalistik.***


Share the knowledge

Leave a Reply