Getty Images

Satu studi baru menyebutkan, sebanyak 21 spesies ikan termasuk Nila, di Sungai Brantas, Jawa Timur, tercemari limbah padat yang dibuang ke dalam air, termasuk limbag popok sekali pakai. Penelitian yang dilakukan lembaga Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) ini memperkirakan, setengah metrik popok sekali pakai dibuang ke sungai setiap tahun. Ada mitos aneh yang berkembang di masyarakat yang menyebabkan popok dibuang ke sungai: suleten!

Ecoton menghitung angka itu setelah melakukan 30 pembersihan di satu pintu air dalam setahun.
“Bayangkan, kami mendapat angka itu hanya dari sampel yang kami ambil dari satu pintu air, yakni  di Karangpilang,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, pekan lalu (31/7/2018), seperti dilansir the Jakarta Post.

Manajer riset Ecoton, Riska Darmawanti mengatakan, penelitian tersebut telah menemukan serat-serat plastik yang serupa dengan yang ditemukan di popok, di dalam perut beberapa jenis ikan, termasuk ikan yang dikenal secara lokal sebagai rengkik, nila, keting, bayer merah, bader putih, dan jendil.

Postcomended   Google Maps Bisa Deteksi Aib Satu Kota terhadap Lingkungan

Para peneliti menemukan serat plastik di 80 persen ikan yang mereka periksa, padahal warga sudah terbiasa makan ikan-ikan tersebut seperti keting dan rengking.

“Ketika popok sekali pakai direndam di dalam air dan terkena sinar matahari, seiring waktu popok terurai menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Ikan menelan potongan, yang dapat ditransfer dari perut ke daging. Ketika orang makan ikan, plastik akan dipindahkan ke tubuh mereka,” jelas detail Riska.

Ecoton mengatakan limbah padat juga telah mencemari air sungai selain plastik, dan membahayakan kesehatan 3 juta pelanggan air ledeng di Surabaya. Ecoton lalu mendesak pemerintah kota untuk melindungi sungai dari limbah padat, terutama popok.

Baru-baru ini, mereka melakukan protes ke jalan-jalan, bersama dengan rekan-rekan dari Komunitas Evakuasi Pembuangan Diaper, untuk mendesak pemerintah membersihkan limbah popok dari Sungai Brantas.

Salah satu pemicu perilaku membuang popok bayi ke sungai adalah mitos suleten. Warga takut jika popok anaknya ada yang memusnahkannya dengan membakar, akan mengakibatkan kulit sekitar area kemaluan mengalami kondisi seperti terbakar alias suleten. Parahnya, warga ada yang menganggap itu bukan mitos.

Postcomended   Ihwal Kantong Kresek, Kenya Bersikap Keras Dibanding Indonesia

Pada September 2017, gerakan Brigade Evakuasi Popok (BEP) yang dibentuk Ecoton, menemukan fakta ada tiga juta popok dibuang ke Sungai Brantas setiap hari.

Agar tidak ada alasan membuang popok ke sungai, Ecoton mengimbau masyarakat untuk kembali menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali. “Konsumen harus mengubah perilaku mereka, produk yang lebih nyaman membuat kita semakin mengancam nyawa kita sendiri,” kata Anderas.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, meminta walikota dan bupati untuk memberi perhatian serius terhadap limbah padat di sungai. Juru bicara administrasi Jawa Timur Benny Sampir Wanto mengatakan gubernur telah meminta bupati dan walikota untuk membangun fasilitas pemilahan sampah dan menginstruksikan warga untuk tidak membuang limbah ke sungai.

Pada Desember 2017, tiga warga, termasuk Riska dari Ecoton, mengajukan gugatan terhadap gubernur. Mereka menuduh gubernur lalai dalam mengatasi limbah popok sekali pakai di Sungai Brantas.

Tahun lalu, LSM Trash Free Seas Alliance (TFSA) yang bermarkas di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa plastik mikro telah ditemukan pada 28 persen ikan di pasar Indonesia. Mikro plastik berasal dari sampah plastik yang masuk sungai dan berakhir di laut.(***/thejakartapost/VOA)

Share the knowledge